Review Buku Membasuh Luka Pengasuhan | Ngajak Diri Buat Jadi Orang Tua Saleh

membasuh luka pengasuhan

Membasuh Luka Pengasuhan adalah sebuah karya yang ditulis oleh pasangan suami istri, yaitu: Ulum A. Said dan Febrianti Almeera.  Buku ini dibuat atas dasar kepedulian. Karena topik tentang “Luka batin akibat kekeliruan pengasuhan (yang kebanyakan tidak disengaja)” ini dirasakan oleh begitu banyak orang.

“Luka pengasuhan adalah luka di sisi rasa (bisa juga akibat luka fisik yang berdampak pada rasa) yang diterima anak dari orangtuanya.”

***

Kalau nggak salah, inti bahasan yang bikin tertarik adalah pendapat bahwa:

“Kekeliruan pola asuh kebanyakan memang bukan disengaja, tapi diwariskan”

“Luka pengasuhan adalah ‘utang’ yang perlu dibayar meskipun dengan cara berangsur”

Nah, tinggal berarti kan untuk mutus rantai itu kita perlu sadar dan mau belajar supaya nanti nggak turun ke anak cucu.

***

Buku ini menjelaskan mengapa kita harus membasuh luka pengasuhan dengan rinci melalui dua sudut pandang, yaitu: Emosi dan Alquran.

Buku ini dibuka dengan penjelasan tentang mengapa yang namanya luka pengasuhan itu harus “ditangani”. Jadi nggak bisa tuh istilah, “yaudahlah ya, itu dulu, udah lewat”, lalu (pura-pura) melupakan dan enggan membahas karena merasa sudah selesai dan akan sembuh dengan sendirinya.

Ternyata, yang namanya luka pengasuhan itu sejenis luka batin. Kalau dalam bahasa psikologi, masuknya “mental illness”. Dampaknya luas banget kalau tidak ditangani. Di bagian ini, saya tertarik dengan pembahasan mengenai “Respon Error”.

Respon Error

Kalau dari segi emosi, itu ternyata karena si luka pengasuhan yang pernah kita alami entah saat kita kecil atau sudah dewasa dari orang tua kita itu nantinya bisa membuat seseorang mengalami respon error.

“Respon Error adalah respon yang tidak sebanding dengan stimulusnya.”

Kalau di buku diceritakan pengalaman waktu penulis mengalami kejadian ketika sang istri tiba-tiba berteriak, menangis, memukul, dan bahkan melempar-lempar barang lain saat melihat suami melemparkan handphone ke atas kasur. Padahal, ternyata respon sang istri itu, diakibatkan dari trauma yang ia pernah alami waktu kecil.

Contoh lain dari respon error adalah ketika ada suami yang selalu tercekat ketika sedang adu pendapat dengan istrinya. Padahal ia punya ilmu leadership dan paham bahwa ia adalah kepala keluarga. Tapi ketika sudah dalam situasi serius untuk mengeluarkan argumen, ia gagal. Simulusnya adalah adu pendapat.

“Luka yang diabaikan, berpotensi menjadi respon error”

Saya kira, di BAB 1, penulis berhasil memberikan penjabaran yang sangat lengkap tentang urgensi hal pembasuhan luka pengasuhan. Satu hal yang menarik adalah gaya penceritaan dalam bentuk dialog dan penggunaan kata-kata sederhana, namun membekas dalam hati.

Penjabaran Upaya Pembasuhan Luka Pengasuhan

Penulis mampu mengantarkan pembacanya pada solusi yang bisa ditempuh dari dua sudut pandang, emosi dan Alquran. Kalau dari sisi emosi, kita bisa menggunakan terapi DEPTH. Sedangkan dari sisi Quran, yaitu dengan Tazkiyatun Nafs.

Terapi DEPTH adalah metode “penyembuhan” dengan cara mengakses memori traumatis yang tersimpan di beberapa titik-titik tubuh. Memori yang dimaksud memiliki muatan emosi negatif seperti: sedih, marah, murka, muak, kesal, merasa bersalah, jijik, dan lain sebagainya.

Penulis buku sangat rinci membahas tentang BAGAIMANA cara membasuh luka pengasuhan dengan teori DEPTH. Meski dijelaskan juga, bahwa butuh upaya lain untuk betul-betul “bersih” dari hambatan dan sumbatan emosi negatif (trauma).

Minimal, kita jadi bisa menghancurkan bongkahan besar emosi negatif. Pas baca buku ini awal-awal, saya sangat emosional karena buku ini membawa diri para cuplikan peristiwa masa kecil.

Contoh Kisah Proses Penyembuhan Luka Pengasuhan

Kita para pembaca juga diberikan kesempatan untuk belajar memetik hikmah dari para pembasuh luka. Ya, pada BAB 3, kita akan mendapatkan tiga kisah nyata tentang bagaimana mereka melewati luka batin yang ditorehkan oleh orang tua mereka. Saya salut sekali, karena pasti tidak mudah untuk menceritakan ulang hal yang mungkin sebagian orang anggap tabu untuk dibahas.

Sudut Pandang Alquran (Tafsir)

Bagian dari buku ini yang paling menjadi favorit saya adalah tiap penulis mengurai makna berdasarkan Alquran. Contohnya adalah pada saat penjelasan mengenai makna “UFF” yang ada pada Surat Al-Isra ayat 23. Selama ini mungkin saya hanya berfokus bahwa yang namanya berkomunikasi ke orang tua itu cukup dengan tidak berkata kasar atau bilang “Ah!”. Tapi dalam buku ini saya mendapat keterangan lebih lanjut dan sudut pandang menarik tentang jangkauan makna “UFF/Ah”.

Contoh lainnnya adalah saat penulis menjelaskan makna “rasa” dan “emosi” di Alquran. Bahwa Alquran membahas soal perasaan sekaligus perilaku yang muncul akibat rasa tersebut. Misalnya:

  1. Perubahan degup jantung (QS. Al-Anfal [8]:2)
  2. Reaksi kulit (QS. Az-Zumar [39]:23)
  3. Reaksi pupil mata (QS. Ibrahim [14]:42)
  4. Reaksi pernafasan (QS. Al-Hijr [15]:97

Dan seterusnya.

Intinya, ketika menjelaskan ini kemudian penulis memberikan kesimpulan indah yaitu bahwa yang namanya perasaan disimpan dalam satu ruang bernama Qalbu. Berbeda dengan kebanyakan teori (emosi dan perasaan  disimpan dalam pikiran sadar atau bawah sadar).

Qalbu mampu menampung apa-apa yang disadari oleh pemiliknya. Sementara, untuk menampung apa-apa yang tidak disadari oleh manusia, wadah di dalam dirinya  itu disebut dengan Nafs. Nafs sendiri adalah hasil bertemunya unsur jasad dengan ruh (fisik dan spirit).

Lalu apa hubungannya dengan luka pengasuhan?

Begini, dari penjabaran tersebut, bahwa manusia itu punya dua unsur. Sedang dalam Quran dijelaskan bahwa dalam hidup ini, ada dua jalan: Fujuur dan Taqwa. Jalan Fujuur (keburukan) itu amat disukai oleh jasad kita (berkaitan dengan kenikmatan dunia), sedangkan Taqwa (kesalehan) itu disukai oleh Ruh kita.

Keduanya saling tarik menarik. Dalam konteks luka pengasuhan, tak heran jika akan sangat mudah bagi anak untuk menyalahkan orang tuanya atas luka yang terimanya di masa pengasuhan. Sebagian malah ada yang “menikmati” alias tidak melakukan apa-apa ketika menjadi korban luka asuh orang tuanya.

Makanya, namanya memaafkan orang tua atau proses membasuh luka ini sangat sulit dilakukan. Karena ini memang jalan taqwa. Tapi jangan khawatir, dalam Alquran pun dijelaskan bahwa yang namanya Nafs ini punya kekuatan internalnya sendiri. Buku ini memberikan solusi, bahwa untuk “mengobati” diri adalah dengan Tazkiyatun Nafs.

Secara keseluruhan, saya sangat menikmati penjabaran makna luka pengasuhan (batin) yang disajikan dengan sistematis, mulai dari “why, what, dan how-nya”. Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh teman-teman yang mungkin saat ini sedang mempersiapkan pernikahan, melahirkan, atau bagi siapa saja yang ingin berusaha terlepas dari bayang-bayang luka masa pengasuhan serta tidak ingin mewariskannya ke generasi berikutnya.

Rating buku : 9/10

 

Ngapain Sih Emak-Emak Baca Buku Filosofi Teras? [Sebuah Review]

review_filosofi_teras_henry_manampiring

Filosofi Teras bagi saya merupakan buku self-improvement berbasis filsafat stoikisme. Bisa dibilang, buku ini banyak memberikan inspirasi dan ilmu yang berguna banget buat keseharian saya sebagai emak-emak. Alasan paling utama ya seperti yang dijelaskan di BAB 9 dalam buku ini:

“Parenting adalah memilih untuk berdamai dengan hal-hal yang tidak bisa kita kontrol”.

Saya langsung membayangkan peristiwa ketika anak sakit, anak menumpahkan tepung roti, memecahkan gelas kaca, terjatuh, ketika mereka tidak mau makan, dan banyak hal lainnya.

Saya mengapresiasi sekali kehadiran buku ini. Bagi orang yang hampir tidak pernah membaca buku filsafat, saya jadi ingin menyelami “kitab-kitab” stoic lainnya, terutama karya Marcus Aurelius yang berjudul “Meditations“.

Kenapa buku ini ditulis?

Buku ini dibuka dengan data survei nasional yang berkaitan dengan anxiety alias kecemasan. Penulis melakukan wawancara dengan seorang pskiater bernama  dr. Andri, Sp.KJ, FAPM. Intinya sih ya memang yang namanya penyakit itu bisa disebabkan atau diperparah dengan kondisi psikis kita.

Kenapa ngomongin kecemasan? coba telisik deh penyebab kecemasan? ternyata ya emang karena cara pandang kita yang keliru ketika lagi menghadapi masalah.

“Bukan stres yang membunuh kita, tapi reaksi kita terhadapnya”, kutipan dari Hans Seyle (Hal. 9)

Buku ini juga ditulis tanpa menggurui, jelas dong, wong ini buku sebetulnya isinya sharing alias berbagi pengalaman sang penulis. Mengapa? karena penulis sendiri bilang bahwa stoisisme ini lah yang menjadi solusi alternatif dalam mendapatkan ketenangan yang lebih baik pasca-terapi obat. Ya, penulis pernah mendapat diagnosa “Major Depressive Disorder“.

Buku Filosofi teras ditulis dengan gaya bahasa sederhana dan mudah dicerna. Kalau saya bilang, buku ini cocok banget kalau dijadiin hadiah mulai dari adik-adik kita yang berusia remaja. Salah satu yang membuat buku ini unik dan tidak kelihatan “berat” (karena bahas filsafat) adalah dengan adanya ilustrasi komik dan halaman quotes. Lumayan nih buat yang gaya belajarnya visual, jadi nggak terlalu cepat bosan.

Hidup Sesuai dengan Fitrah

review_filosofi_teras_henry_manampiring_stoic

Saya selalu bersemangat ketika ada pembahasan bahwa dalam hidup ini sebetulnya tuh kita tinggal ikutin aja “irama” nya yang Allah udah kasih. Kenalin diri, gali potensi, lalu berkarya sesuai dengan fitrahnya melalui misi hidup. Kalau di buku ini, Bab-nya dinamain “Hidup selaras dengan Alam”.

Bahwa kita nih manusia punya fitur unik berupa akal dan rasio. Lalu secara alamiah (qadarullah), manusia adalah mahluk sosial. Otomatis (seharusnya) bisa hidup damai dan sejahtera bersama-sama. Orang nyebelin mungkin akan tetap ada, tapi kenegatifan dia harusnya nggak akan membuat diri kita jadi nyebelin, kan? Kalau kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib:

“Yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan”. – Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Trus dalam kehidupan ini, ada istilah Butterfly Effect, kita manusia dan alam punya keterkaitan. Kalau di hadist ada ungkapan bahwa sesama muslim itu ibarat badan. Sistem. Masing-masing udah ada peruntukan perannya. Jadi kalau ada satu partikel yang nggak sesuai dengan ketetapan alam, ya pastinya ngefek ke semuanya, ke semesta.

Pas di bagian ini, saya bener-bener geleng-geleng kepala takjub mengingat materi rukun iman ke-6, yep. Iman kepada Qada dan Qadar.

Dikotomi Kendali

Premis buku ini menurut saya bisa diwakilkan dengan dua kata ini. Ya, dikotomi kendali.

“Some things are up to us, some things are not up to us” – Epictetus

Ada hal yang bisa kita kontrol, ada juga hal yang nggak bisa kita kontrol. Kelahiran kita di dunia aja bukan maunya kita, kan?. Jadi dengan pemahaman ini, akhirnya saya bisa lebih tenang dalam membuat perencanaan dan membuat keputusan. Fokus saja kepada hal yang bisa kita kendalikan.

Pemahaman ini tuh seperti memberikan validasi atas iman kepada Qada dan Qadar. Allah sudah memberikan ketetapan dan kadar tertentu pada segala sesuatu. Kita hanya harus tawakal dari awal, saat mengerjakan, dan setelah mengerjakan. Allah membuat keputusan, tapi manusia diberikan ranah tersendiri untuk berikhtiar “mengendalikan sesuatu”.

Kita nggak bisa kendaliin hal-hal yang ada di luar diri kita. Kabar baiknya, kita masih punya kekuasaan penuh atas apa yang kita pikirkan, apa yang kita pakai, apa yang kita makan, apa yang kita kerjakan.

Dikotomi kendali ini nggak ngajarin pasrah (diem-diem bae nggak usaha), ya. Justru penegasannya adalah mengoptimalisasi ranah ikhtiar diri.

Pengingat untuk Mengenal Diri

review_filosofi_teras_henry_manampiring_stoisisme

Seberapa sering kita langsung reaktif ketika ada hal yang tidak sesuai ekspektasi atau hal yang membuat diri ini marah, kecewa, cemburu, iri, dan emosi negatif lainnya? Nah, dalam buku ini ada bab tentang “Melawan Interpretasi Otomatis”. Misalnya, waktu macet parah dan kita ada meeting penting banget. Mungkin seringnya kita bakalan nggrundel dalam hati, marah-marah, atau nyalahin kondisi dan ngerasa kalau udah buang-buang waktu di jalan.

Filosofi Teras mengajarkan untuk tidak buru-buru terhanyut dalam respon otomatis berupa emosi negatif, tapi kita diajak untuk memeriksa kembali apa fakta yang terjadi. Macet. That’s it.  Bukan hal yang baru dan khusus dirancang untuk kita seorang.

Apa dengan frustasi dan marah-marah akan membuat jalanan lancar kembali? tentu saja tidak. Ingat, kita tidak bisa mengendalikan macet, yang kita bisa kendalikan adalah interpretasi atau cara pandang kita ketika terjebak macet. Misalnya saja, “wah lumayan nih bisa baca buku”, “wah lumayan bisa nyicil tulisan”, “wah lumayan bisa dengerin podcast”.

Ngajakin Hidup Berkesadaran

Ada kalimat begini:

“Orang yang gampang cemas adalah orang yang punya kecenderungan bahwa ia tidak bisa mengontrol sesuatu”. (Hal 115)

Iya juga sih ya. Mungkin kebanyakan dari kita ketika menjalani setiap detik kehidupan tuh cemas akan masa yang akan datang dan atau justru tenggelam dalam penyesalan atas apa yang sudah terjadi. Kalau kata Seneca,

“We suffer more in imagination than in reality” (Letters)

Kita sering nyiksa diri dengan karangan pikiran kita sendiri. Padahal ada studi tentang Anxiety yang bilang bahwa 85% kekhawatiran kita itu sebenernya nggak pernah terjadi. Penelitian ini menyuruh responden buat nulisin kecemasan mereka dan di akhir periode, mereka diminta buat ceklis mana-mana aja yang kejadian.

Seneca bilang:

“Kita memiliki kebiasaan membesar-besarkan kesedihan. Kita tercabik di antara hal-hal masa kini dan hal-hal baru yang akan terjadi. Pikirkan apakah sudah ada bukti yang pasti mengenai kesusahan masa depan. Karena sering kali kita lebih disusahkan kekhawatiran kita sendiri.”

Pandangan ini bener-bener ngingetin lagi buat hidup mindful. Membersamai diri sendiri, secara utuh, hadir jiwa, raga, dan rasa dalam setiap tindakan dan pergerakan.

Cosmic Point of View alias Efek Melihat dari Jauh

Saya jadi inget nasehat salah satu guru silat dulu, namanya (Alm) Mas Nungki. Waktu itu saya sedang menghadapi masalah yang berat.

“Coba deh, sekarang bayangin Ulfah terbang nih ya ke angkasa, trus lihat bumi sampai kelihatan kecil banget”.

Nasehat yang nggak pernah saya lupa dan pas baca ni buku sampai ke halaman 106, ternyata itu merupakan bagian dari ajaran filosofi teras. Teknik ini pertama kali diperkenalkan oleh Marcus Aurelius. Intinya sih coba deh bayangin aja, apa masalah kita ini lebih besar dibanding bumi itu sendiri dan segala dinamikanya? Kalau kata nasehat-nasehat di postingan akun dakwah. “Aku punya masalah besar, tapi kan Aku punya Allah yang Maha Besar”.

Sampe-sampe, mantan astronot bernama Becky Ferreira bilang, “Saya sungguh percaya jika saja para pemimpin bangsa-bangsa bisa melihat plane mereka dari jarak 100.000 mil, maka perspektif mereka akan berubah drastis”.

Nah kalau udah gini, kita (harusnya) bisa lebih santuy misal ngadepin anak nggak mau udahan mandinya, suami lembur mulu (jadi nggak bisa tag team), cucian lupa dijemur semaleman, baju kelunturan dan masalah domestik rumah tangga lainnya.

Bikin Inget Mati

Saya demen banget ini, di Bab 11 ada pembahasan tentang kematian. Saya jadi inget kajiannya Ust. Oemar Mitta pernah bilang kalau mengingat mati adalah bagian dari ibadah. Nginget mati bener-bener bisa jadi tools buat evaluasi segala ambisi yang kita punya.

Kita sering denger orang bilang, “Ih nggak berasa ya, cepet banget”, “kayaknya waktu 24 jam kurang buat gue”, “gue rasanya pengen membelah diri”.

Seneca pernah bilang:

“Life is long if you know how to use it…we are not given a short life but we make it short..and wasteful of it.” (On Shortness Life”

Seneca juga bilang kalau yang jadi persoalan itu bukan masalah lama sebentarnya waktu hidup kita, tapi gimana kualitas hidup kita sendiri.

Mindset ini ngebantu banget buat ngurangin kekhawatiran yang sering menyerang kita. Ngebantu juga buat milih-milah prioritas dalam hidup. Ngevaluasi mimpi yang kita kejar, apakah yang kita kejar itu sebetulnya cuma angka-angka semata alias harta? tahta? popularitas? ingin dikenang? padahal ujung-ujungnya toh kita akan mati dan terlupakan.

Make sense banget ini. Sebut nama orang yang paling kalian anggap terkenal. Sesungguhnya pasti ada aja orang yang nggak kenal dia. Marcus Aurelius bilang:

Orang-orang yang sangat menginginkan dikenang sesudah mati lupa bahwa mereka yang akan mengenangnya pun akan mati juga. Dan begitu juga orang-orang sesudahnya lagi. Sampai kenangan tentang kita, diteruskan dari satu orang ke yang lain bagaikan nyala lilin, akhirnya meredup dan padam. – Marcus Aurelius (Meditations)

Overall, buku ini layak banget baca sih. Kalau ditanya rate-nya berapa, saya bakalan kasih 8.5/10 karena kontennya segar dan resonated banget sama kehidupan sehari-hari. Plus, bisa langsung dipraktekkan pula ilmu-ilmunya.

Sekian dulu review saya. Kalau favorit teman-teman yang mana?b

Decluttering – Langkah Awal Kehidupan yang Lebih “Waras”

hidup-minimalis-declutter-bebenah-rumah

Decluttering adalah sebuah proses dimana kita bebenah dan mengeluarkan barang-barang yang sudah tidak dipakai (atau tidak pernah dipakai) dari rumah.

Setahun belakangan ini, saya banyak membaca dan mempelajari lebih lanjut tentang gaya hidup minimalis. Semua berawal dari perasaan hidup yang terasa “hampa” terutama sejak hamil anak ke-2. Sejak bangun sampai tidur sampai tidur lagi, mata sakit melihat aneka tumpukan barang yang tidak pada tempatnya (dan karena tidak punya tempat). Apalagi saat itu saya tinggal di apartemen mini tanpa kamar (petakan).

Saat menyewanya apartemen itu, kami sudah mendapatkan beraneka furnitur yang beberapa barangnya sebetulnya jarang kami pakai. Otomatis banyak ruang yang terpakai untuk menyimpan barang itu.

Terlebih, dengan kebiasaan  lungsur-melungsur barang adalah hal yang kerap terjadi (apalagi jika kau punya anak).

Rumah jadi penuh sesak dengan pakaian, mainan, barang elektronik yang sebetulnya kalau diteliti, lebih banyak yang tidak dipakai. Belakangan saya paham bahwa barang-barang itu bertengger di rumah karena satu alasan:”Just in Case“, alias “Kali aja ntar kepake”.

Kegiatan sehari-hari pun lebih banyak merapikan dan membersihkan rumah. Bayangkan saja, ini belum termasuk mengajak anak main dan memasak. Luar biasa menguras fisik dan mental (sedangkan mengurus diri sendiri pun tidak sempat). Beberapa tekanan yang paling membuat leher merasa tercekik antara lain:

  1. Merasa diri tidak becus menjadi istri dan ibu. Rumah nggak keurus gitu, berantakan! harusnya kan bisa lebih rajin lagi beresin rumah.
  2. Waktu buat upgrade diri yang nyaris tidak ada. Misalnya: baca buku kek, eksperimen apa kek, ngaji kek, and so on.
  3. Dikit-dikit ngegas, tiap ada “ulah” suami dan anak yang membuat situasi penampakan rumah semakin kacau.
  4. Mau pergi keluar rumah, tidak siap jika nanti pulang dalam kondisi capek, melihat rumah masih berantakan dan harus pula menyiapkan makan malam. Ini berlangsung beberapa bulan, membuat diri cuma pergi keluar rumah hanya untuk belanja ke pasar saja. Sisanya? tentu saja “nguli”. (FYI, pernah loh saya pulang dari main ke rumah teman, lalu menangis karena stress melihat rumah berantakan dan belum sempat masak makan malam).

Situasi-situasi di atas adalah alasan utama mengapa saya akhirnya mau berubah. Mau hidupnya nggak cuma jadi Upik Abu. Jangan salah paham dulu, bukannya saya tidak bersyukur atau tidak sadar betapa banyak kebaikan yang Allah kasih sebagai ganjarannya. Tapiii, saya ingin mengeksplorasi diri, saya ingin “project” yang lebih besar lagi.

Saya ingin hidup lebih santuy, alias lebih tenang hatinya. Tidak tergesa, berkesadaran, dan penuh cinta.

Saya ingin punya waktu untuk menjawab pertanyaan, “Siapa saya?”, “Mengapa saya diciptakan di dunia”, “Apa peran saya?”, “Apa misi hidup saya?”.

Selama ini, pertanyaan itu terkubur gara-gara RUTINITAS BEBERES yang tiada akhir. Sudah tak terhitung lagi berapa kali saya harus menunda diri untuk merancang pemetaan kehidupan hanya gara-gara teringat cucian piring menumpuk, cucian baju belum dilipat, dan mainan anak berceceran.

Tidak ada tersisa waktu untuk menggali dan berpikir. Sholat pun tiada nikmat karena hati terasa sesak seperti dikejar-kejar pekerjaan. Bangun tidur badan pegal, mau tidur mental babak belur karena terus dihantam “yang itu masih kotor”, “yang ini belum kepegang”, “nggak becus jadi orang”.

Oke, intinya sebelum bertanya “bagaimana cara decluttering ?”, sebaiknya kita siapkan diri untuk menjawab “mengapa ingin decluttering”. Karena kalau hanya sampai bab tips-trik-cara-cara nge-hack rumah supaya kelihatan rapi, sebetulnya kita hanya perlu membeli kontainer-kontainer besar atau menyiapkan gudang untuk kita sembunyikan barang-barang di sana.

Tapi kemudian mungkin tanpa sadar kita menjadi “Penimbun yang Ulung” karena telah berhasil menata beraneka barang tanpa terlihat berantakan. (iya sih, semua barang punya tempatnya masing-masing, tapi apa emang semua barang itu dibutuhin?).

Sekalinya ada yang dibuang, didonasikan, atau diberikan kepada orang lain, tanpa menunggu waktu lama, kau akan kembali mengisi ruang-ruang dalam rumahmu dengan barang-barang baru. Entah karena tergiur diskon, promo, black friday, atau yang lainnya. (Baca : impulsive buying).

Saya bicara pada diri saya sendiri waktu itu, “Sudahlah, mau sampai kapan kamu memberikan nilai/makna/arti pada benda? pada materi?”. Dirimu bukanlah apa yang melekat pada badanmu atau apa benda yang kamu miliki. Dirimu adalah apa yang kau berikan pada sekitar. Tentang kebermanfaatan.

Jadi bagi saya, memulai hidup lebih bermakna versi saya adalah dengan memulai latihan memilah “Mana yang “ingin” (obsesi) dan mana yang penting?”, lewat packing party barang-barang di rumah. Barang kali memang harus begitu. Sebelum belajar memilah prioritas, kita bisa mengasah kemampuan diri untuk bisa selektif, dengan decluttering barang di rumah.

Decluttering adalah langkah awal yang saya syukuri telah saya ambil, karena dengan begitu, saya bisa mengisi waktu-waktu saya (yang dulu buat bebenah), menjadi olahraga, menyiapkan permainan untuk anak-anak, mencoba hal-hal baru seperti vlogging, composting, dan mengunjungi tempat-tempat baru di Taiwan.

Sampai saat ini saya belum sampai pada goals yang saya inginkan (berkaitan dengan keberadaan barang di rumah), tapi setidaknya saya membuat progres yang jauh lebih baik sampai detik ini. Alhamdulillah.

Saya sadar bahwa decluttering itu bukan pencapaian. Tapi sebuah proses yang dilakukan sepanjang perjalanan kehidupan.

Decluttering mengajarkan diri ketika akan menambahkan barang ke dalam rumah. Jadi terbiasa menanyakan kepada diri sendiri, “apakah ini bisa mendukung hidup saya lebih bermakna? atau hanya jadi calon sampah saja?”.

Saya jadi terlatih untuk tidak memberikan sentimen lebih kepada barang. Nampaknya, tidak ada lagi istilah “Wah, sayang banget, ini kan baju waktu suami ngelamar saya”, atau “ini kan mainan pertamanya anak saya”. Saya jadi belajar bahwa memori itu tersimpan dalam ingatan, bukan di dalam barang. Akhirnya kaidah ini juga lah yang memudahkan saya untuk menghapus banyak sekali foto-foto di gallery hape.

Barangkali otak kita juga seumpama hape ya, kalau udah kepenuhan bisa lemot, nge-hang.

Tidak menyangka. Padahal ketika memulai ini semua, saya hanya tertarik pada bagaimana cara merapikan rumah secara efektif. Tapi ternyata, pertanyaan itu membawa diri saya jauh kepada, “Memangnya apa yang akan kamu lakukan, ketika rumahmu sudah rapi dan kinclong?”, “What’s next?“.

Dan pertanyaan ini lah, yang membuat saya kini merasa, hidup saya lebih bermakna (dari sebelumnya). Mungkin segitu dulu ya bahas decluttering-nya, sambung lain waktu.

Sebagai penutup, kalau katanya The Minimalists

Love people, and use things. Because the opposite, never works

Taipei, 22 Maret 2020

 

 

 

 

Macam-Macam Label Vegetarian Sebagai Alternatif Makanan Muslim di Taiwan

Logo halal tidak selalu sama karena negara yang menerbitkannya berbeda-beda

Logo halal tidak selalu sama karena negara yang menerbitkannya berbeda-beda

Taiwan ternyata merupakan negara yang memiliki aturan pelabelan makanan vegetarian terbaik sedunia. Bahkan dulu saya pernah nonton di salah satu videonya Naz Daily yang menyebutkan bahwa Taiwan adalah negara dengan restoran untuk vegetarian terbanyak di dunia.

Sebagai Muslim, memakan makanan halal adalah satu bentuk ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, saat kita tinggal di Taiwan (yang notabene tidak semua produknya memiliki label halal seperti di Indonesia), haruslah lebih cermat dalam memilih jenis makanan yang dikonsumsi.

Terkadang logo halal tertutup oleh plastik

Terkadang logo halal tertutup oleh stiker tulisan mandarin

Beruntung punya banyak teman-teman dari Indonesia yang peduli dengan kehalalan makanan ini. Info berikut, saya himpun juga dari Organisasi Salimah di Taiwan dan Forum Mahasiswa Muslim Taiwan atau FORMMIT. Dulu awal saya datang ke Taiwan sih super bingung karena mata harus cermat nyari label halal ada di mana dan bentuknya pun beda-beda. Alhasil beberapa minggu pertama betul-betul hanya membeli produk dengan label halal.

SIMBOL ATAU KARAKTER VEGETARIAN

Kadang juga tertulis seperti ini

Kadang juga tertulis seperti ini : VEGAN

Singkat cerita, akhirnya saya diberi tahu bahwa kita bisa memilih makanan dengan label vegetarian seperti ini : 素. Tidak hanya itu, ada juga jenis-jenis karakter lainnya sebagai berikut ini.

1. Simbol Umum 素

素(dibaca Sù) yang artinya Vegetarian. 食 (dibaca Shí) artinya Makanan. Maka ketika ketemu karakter tulisan mandarin 素食, berarti Makanan Vegetarian. Lambang ini biasanya dipakai untuk simbol restoran vegetarian.

Contoh restoran vegetarian yang ada di Taiwan

Contoh restoran vegetarian yang ada di Taiwan

2. Pakai Variasi keterangan 可, 吃, 用

Contoh foto kemasan lama (sekarang sudah tidak dipakai). Sumber Foto : http://vegantaiwan.blogspot.com/

Contoh foto kemasan lama (sekarang sudah tidak dipakai). Sumber Foto : http://vegantaiwan.blogspot.com/

Kadang tampilannya juga seperti ini, fokusdi karakter paling belakang aja hehe

Kadang tampilannya juga seperti ini, fokus di karakter paling belakang aja hehe

可, 吃, 用 (Ketiga karakter ini bisa diabaikan sebetulnya)
可= kě = bisa/dapat
吃= chī = makan
用= yòng = pakai
食者可吃 = Bisa dimakan vegetarian
食者可用 = Bisa digunakan vegetarian

Kemasan terbaru

Kemasan terbaru

3. 奶素 (Lacto-Vegetarian)

Kesukaan Dhuha, Tinggal Kukus

Kesukaan Dhuha, Tinggal Kukus

奶 nǎi = susu/lacto
Lacto-Vegetarian bisa diartikan sebagai orang yang tidak mengonsumsi produk daging dan telur, kecuali susu. Jadi mereka masih mengonsumsi produk susu seperti keju, susu, maupun yogurt.

4. 蛋素 (Ovo-Vegetarian)

Hampir semua produk dairy ada keterangan seperti ini

Logo kadang ada di belakang, kadang ada di depan

蛋 dàn = telur
Ovo-Vegetarian adalah vegetarian yang tidak mengonsumsi ikan, unggas, daging dan susu, tapi masih mengonsumsi telur. Simbol ini jarang digunakan untuk label makanan.

5. 奶蛋素 (Lacto-Ovo-Vegetarian)

Kalau beli roti juga suka ada simbolnya

Kalau beli roti juga suka ada simbolnya

Sesuai keterangan sebelumnya, artinya vegetarian ini masih mengonsumsi telur, susu, dan produk turunannya. Simbol ini banyak ditemukan di aneka roti dan makanan ringan.

6. 全素 (Vegetarian Sepenuhnya)

Kentang Goreng Frozen

Kentang Goreng Frozen

全 quān = sepenuhnya
Vegan sepenuhnya dan juga tidak mengandung bawang merah/putih, daun bawang,  maupun bumbu yang berbau menyengat. Karena dalam ajaran Buddha dan beberapa kepercayaan, mereka tidak diperbolehkan untuk mengonsumsinya.

Ada juga simbol 純素 yang artinya sama, yakni vegan murni (biasanya juga tidak mengandung bawang). Simbol ini juga sering digunakan.

7. 植物五辛素

Dan ping, makanan penyelamat, cuma ceplok telor aja udah Alhamdulillah banget dah rasanya

Dan ping, makanan penyelamat, cuma ceplok telor aja udah Alhamdulillah banget dah rasanya

Simbol ini memang agak membingungkan karena terdiri dari 5 karakter sekaligus. Karakter ini intinya punya arti bahwa makanan tersebut adalah vegetarian, tapi mengandung 5 bahan (bawang merah, bombay, bawang putih, daun bawang, dst) yang dilarang di beberapa ajaran tertentu seperti Buddha. Simbol ini juga berarti produknya masih ada kemungkinan mengandung produk telur dan atau susu.

Demikian kira-kira simbol yang kalian harus hafalkan atau simpan di handphone, supaya saat belanja bisa sambil dilihat-lihat. Sejak tahu simbol ini, saya sangat senang sekali karena ternyata banyak sekali pilihan makanan di Taiwan yang bisa kita makan tanpa takut mengandung bahan-bahan yang dilarang Allah.

Oh iya, berikut ini saya lampirkan juga link untuk melihat-lihat contoh produk yang bisa dikonsumsi. Katalog ini dirangkum dan disusun oleh FORMMIT dan Salimah Taiwan.

FORMMIT : https://drive.google.com/file/d/1oQ-9-QVkb8BxQ4XB8larKUSPwmCaZxzy/view

SALIMAH TAIWAN : https://www.facebook.com/persaudaraan.muslimah.taiwan/photos/?tab=album&album_id=1395304283880727

CEK KOMPOSISI PRODUK

ada juga trik sederhana untuk mengecek apakah suatu produk halal atau tidak, yakni dengan melihat komposisinya. Biasanya produk yang aman dimakan akan menggunakan minyak-minyak dari bahan nabati (tanaman). Hindari bahan dengan emulsifier, gelatin, fatty acid, lecithin, Lutein, Stearic acid(tanpa informasi tambahan), dan bahan pengental lainnya, karena kemungkinan berasal dari bahan babi.

Jika tulisan mandarin, biasanya saya akan menggunakan aplikasi Google Translate.

Translate komposisi menggunakan Google Translate Images

Translate komposisi menggunakan Google Translate Images

 

ISTILAH BAHAN YANG BERASAL DARI BABI

Babi adalah nama hewan yang dilarang untuk dikonsumsi. Bukan hanya dagingnya, tapi semua bagian dan jenis turunannya. Kadang, sebuah produk tidak menggunakan daging babi sebagai bahannya. Akan tetapi, bisa saja ia menggunakan minyaknya yang ditulis dalam istilah khusus. Oleh karena itu, berikut ini saya berikan informasi lengkapnya tentang nama lain bahan dari babi.

  1. Lard : Lemak Babi (kadang ditulis fat)
  2. Porcine : Kandungan babi (bisa lemak, daging, tulang)
  3. Hog : Istilah babi yang melebihi berat 50 kg
  4. Pork : Daging babi
  5. Swine : Spesies babi
  6. Boar : Babi hutan
  7. Bacon : Daging babi yang dibuat salai (irisan tipis seperti dendeng)
  8. Ham : Paha babi
  9. Sow milk : Susu babi
  10. Pig blood cake : Darah babi beku

Demikian informasi seputar simbol-simbol vegetarian yang harus kamu tahu supaya semakin leluasa kalau mau cari makanan yang muslim-friendly alias boleh dimakan oleh muslim. Semoga Allah meridhai ikhtiar kita ya.

Sumber ngambil dari Booklet Halal buatan FORMMIT

Sumber ngambil dari Booklet Halal buatan FORMMIT

Referensi : http://vegantaiwan.blogspot.com/2009/06/new-vegetarian-labelling-coming-in.html?m=1

Disclaimer : Saya bukan ahli bahasa mandarin. Semua tulisan berdasarkan informasi dari teman-teman di Taiwan, pengalaman pribadi, dan baca-baca blog lain.

Sedikit Catatan Tentang JOMO (Joy of Missing Out)

JOMO

JOMO

 

Pernah kan? ngerasa harus re-share informasi artis yang lagi dalam masalah via medsos? atau buru-buru chat ke seluruh pertemanan semisal ada gosip-gosip terpanas? atau sebaliknya, pengen tau banget update gosip terpanas di sekitar? takut banget ketinggalan gitu ceritanya.

Juga, mungkin pernah kah menunggu notifikasi like atau komentar atas postingan di medsos kita sendiri? Barangkali, menghitung-hitung jumlah like dengan postingan sebelumnya? lalu merasa bertanya-tanya, “kok yang nge-like dikit ya?” (padahal uda OOTD atau foto di tempat paling heitzs dan hinsthagramebel).

Itu (mungkin) gejala FOMO.

FOMO, Fear of Missing Out. Mungkin teman-teman pernah denger ya? sebuah kondisi dimana diri berasa kayak dikejar-kejar oleh sesuatu yang lagi trending, dikejar ekspektasi/penilaian orang, atau bahkan mental berasa tertekan sama pencapaian hidup orang lain.

Ngerasa kosong kalau nggak ikutan tren. Ngerasa bersalah kalau nggak tau apa yang lagi viral. Akhirnya diri malah sibuk di dunia digital. Dunia maya. Dunia yang cuma ada di angan-angan. Nggak ril.

Kebalikannya JOMO, Joy of Missing Out.

Belajar dari bayi dan anak-anak misalnya. Mereka bisa “stay in the moment”, alias bisa hidup berkesadaran. Waktunya ngutak-ngatik lego, dia bener-bener di situ. Ya fisiknya, ya pikirannya, ya perhatiannya, jiwanya.

(Kayaknya) Nggak ada tuh pikiran, waktunya mainan cat air. Pikirannya uda pengen posting ke medsos, trus nyari-nyari quotes buat bikin caption, sambil akhirnya nungguin respon orang lain. Entah like atau komen.

Lucunya, kadang pernah, udah mau posting sesuatu akhirnya nggak jadi karena takut komentar orang. Atau yang parahnya, mungkin ada orang yang akhirnya merasa diri tidak cukup layak di dunia karena membandingkan hidupnya dengan apa yang di lihat di medsos.

Mungkin saatnya kita berpikir ulang tentang makna hidup bahagia yang sebenarnya. Hidup dengan penuh ketenangan dan rasa nyaman. Seharusnya semua orang bisa.

Yang kemudian membuat sulit adalah karena di era teknologi super cepat ini. Seolah ada peraturan-peraturan tak tertulis tentang “Cara Bahagia”. Seolah yang hal-hal yang dibagikan di media sosial haruslah memenuhi standar-standar tertentu.

#BahagiaItuSederhana, tapi yang mosting sebetulnya sedang ingin memberi pihak tertentu kalau “Halo, gue juga hepi kali meskipun gue nggak jalan-jalan kayak sampeyan”. Bukan betul-betul bahagia, tapi bahagia-bahagiaan aja.

Soalnya apa? Soalnya dalam hatinya masih ada rasa benci, rasa iri, rasa tidak nyaman, atau rasa negatif saat melihat postingan orang lain. Selama itu masih ada, ya coba dipertanyakan ulang. “Lu orang beneran bahagia nggak sih? kok ada orang lain yang keliatan bahagia lu nggak seneng”.

Lagian, kalau ada orang dapat kerjaan bagus, dapat rezeki berlimpah, dan nggak ngambil dari jatahnya situ, ngapa juga harus emosi? hey, Anda juga layak bahagia.

Jadi kalau dalam hidup sudah mulai ada tanda-tanda tidak beres. seperti, selalu buka instagram/facebook/twitter dengan waktu yang sangat berlebihan. Saatnya anda mencoba disconnected.

Saatnya anda terapi “digital detox”. Latihan intensional sama hal-hal di depan mata. Mulai bangun koneksi terbaik dengan orang-orang terpenting dalam hidup kita, di dunia nyata.

Bangun rangkaian aktivitas tanpa gegas. Santai. Nikmati detik demi detiknya. Curahkan yang terbaik. Perhatianmu, kemampuanmu, dan segala apa yang terbaik dalam dirimu.

Karena, berita receh akan selamanya receh dan dilupakan.
Sedangkan, pengalaman memandang mata hari terbit atau terbenam, masih terasa hangat dalam pikiran. Obrolan penuh perhatian dengan orang tersayang tak lekang oleh zaman. Suara-suara pasir saat mendaki gunung masih terdengar.

Jadi, mulai sekarang, apa kita mau memilih jalan yang penuh ketenangan?

Cibinong, 15 Januari 2020

#silminadiary

Pengalaman Pertama Kali Bekam dan Refleksi di Salon Muslimah Farras Depok

PenampakanSalon dari depan

Penampakan Salon dari depan

Jadi ceritanya setelah lahiran anak ke-2, saya belum pernah urut atau pijat-pijat gitu. Trus pas balik ke Indonesia emang uda diniatin mau bekam sama pijat, apalagi pas landing, ni badan sempet drop banget. Ngerasain deh tuh namanya radang tenggorokan, batuk, dan pilek.

Mungkin ini yang namanya jetlag, ya?, dari yang iklim musim dingin menuju Indonesia yang istilahnya lagi pancaroba.

Singkat cerita, mulailah saya gugling-gugling cari tempat bekam di Depok. Cari yang nggak jauh dari rumah ortu karena nanti kudu nitip anak-anak biar nggak usah dibawa. Nemu lah di instagram, namanya Salon Muslimah Farras.

Spanduk Depan

Spanduk Depan

Pagi reservasi online dulu biar nanti di sana nggak menunggu terlalu lama. Admin reservasi ramah, fast respon, dan informatif. Saya ditanyakan mau treatment apa. Ternyata ini untuk memastikan dengan terapis yang melakukan bekam. Setelah konfirmasi, ternyata saya diberi tahu untuk datang jam 10 pagi.

Salon ini buka mulai jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Konsep salon ini terbilang unik, karena selain untuk muslimah, treatment juga ditawarkan bagi anak-anak (bahkan mulai dari pijat bayi).

Saya ditangani oleh bu Halimah. Orangnya ramah, tangannya lembut tapi kalau sudah mengurut, ga tau kenapa berasa banget. Bukan tipe yang keras menyakitkan. Alhamdulillah cocok sama yang tipe seperti ini. Selidik punya selidik, kata beliau sih kalau kita totok atau urut di titik yang benar, ya emang efeknya begitu. Titik-titik yang dimaksud adalah titik meridian.

Foto Sama Owner Salon

Foto Lubna Sama Owner Salon

Saya sampai penasaran kenapa tangannya bisa halus begitu. Dikasih tipsnya, pokoknya sering-sering menggosok tangan menggunakan ampas kopi, teh, saat cuci beras, kulit buah, biji-bijian buah (pepaya misalnya), nasi basi (pas misal ketemu nasi sisa yang mau dibuang). Menggosok tangan seperti meremas-remas saat mencuci beras. Kalau di dunia per-skinker-an, mungkin tujuannya adalah exfoliating, alias menghilangkan sel kulit mati yang menumpuk di tangan.

Daftar "Menu" Salon

Daftar “Menu” Salon, kalau paket-paket bisa liat di instagramnya

Treatment Bekam dan Refleksi Kaki

Oh ya, sembari dibekam, saya juga mengambil treatment refleksi kaki. Durasi untuk kedua treatment jika ditotal  sekitar satu setengah jam. Proses bekam, terapis sangat telaten, dimulakan dengan basmalah dan selalu mengonfirmasikan kepada saya apa tarikan angin pada cup bekam terlalu keras atau tidak. Ya intinya, sangat nyaman lah sebagai orang yang baru pertama kali nyobain bekam sampai dikeluarkan darahnya gitu.

Saya mengambil treatment refleksi kaki karena bekam tidak bisa digabung dengan pijat full. Supaya menghemat waktu, saya gabungan prosesnya saja. (maklumlah ya, nitip dua bocah di rumah, hehe).

Pijat Bayi (pules banget si Lubna)

Karena sudah cocok sama terapisnya, akhirnya keesokan harinya saya membawa Lubna (9 bulan) ke salon ini. Saya ambil treatment pijat bayi. Saya udah degdegan aja, khawatir bakalan nangis-nangis jengker gitu. Ternyata MasyaAllah, mbak Halimah (terapis), ngajakin kenalan dulu dong. Tujuannya biar nggak asing dan si baby nyaman.

Kata beliau, namanya anak itu jangan dipaksa. Nanti yang ada malahan trauma dan nggak mau lagi badannya diurut. Soalnya kan emang tujuan pijat kan biar rileks, kalau ada unsur paksaan, mungkin si bayi malah tambah sakit-sakit badannya.

Iya juga sih, saya lihat si bayi nyaman aja gitu. Ya paling menggeliat-geliat aja kalau ada beberapa titik yang dirasa emang lagi pegel/sakit. Posisi ngikutin nyamannya bayi. Karena pas itu jam tidur paginya Lubna, akhirnya saya pun sambil nyusuin juga (si bayi uda ngantuk dan minta nyusu).

Alhamdulillah, pengalaman pertama Lubna pijat juga berlangsung nyaman dan lancar  jaya. Lubna pun tidur dengan pulesnya.

Wedang Jahe Abis Treatment

Wedang Jahe Abis Treatment

Ada juga beberapa hal positif yang saya suka dari pengalaman pijat di Salon Depok ini, seperti:

  1. Tempat cukup bersih dan nyaman, meski sekat hanya berupa horden.
  2. Tempat parkir motor cukup luas (muat untuk 1-2 mobil sepertinya).
  3. Staf-nya ramah
  4. Ada wedang jahe yang nikmat
  5. Terapis berpengalaman dan juga mengedukasi kita sebagai pelanggan dalam beberapa hal terutama titik-titik yang bisa dipijat sendiri untuk sehari-hari.
  6. Reservasi mudah, via whatsapp
  7. Treatment bervariasi, mulai untuk kecantikan maupun kesehatan
  8. Jual snack ringan dan beberapa produk
  9. Harga relatif terjangkau untuk bekam dan pijat
  10. Ramah anak (bayi), terapis membuat bayi nyaman dan tidak trauma.
  11. Ambience keshalihan berasa, keliatan dari staf ramah sama audio murotal Quran.
Ruang Treatment Pas Saya Bekam dan Refleksi Kaki

Ruang Treatment Pas Saya Bekam dan Refleksi Kaki

Adapun kekurangannya hanya seputar titik google maps yang tidak sesuai dengan di lapangan (akhirnya saya minta shared live location ketika menuju tempat tersebut).

WhatsApp Image 2020-01-14 at 10.46.00 PM WhatsApp Image 2020-01-14 at 10.46.01 PM (1) WhatsApp Image 2020-01-14 at 10.46.01 PM

Ruang Tunggu

Ruang Tunggu

WhatsApp Image 2020-01-14 at 10.45.56 PM (2) WhatsApp Image 2020-01-14 at 10.45.57 PM

Itulah pengalaman saya melakukan bekam, refleksi kaki, dan pijat bayi di Salon Muslimah FARRAS, Tanah Baru, Depok. Ada yang punya tempat andelan lain buat pijat atau spa? mau doong. Semoga pengalaman ini bisa bermanfaat ya moms.

 

Al-Zahrawi, Sang Pionir Ilmu Bedah Modern dan 12 Penemuan Fenomenal Beliau

Sumber gambar : wikipedia

Sumber gambar : wikipedia

Abul Qasim Khalaf Ibn Al-Abbas Az-zahrawi atau dikenal dengan Al-Zahrawi merupakan seorang ilmuan di bidang kedokteran. Namanya mungkin sepopuler Ibnu Sina dan sosoknya baru terungkap setelah ilmuan Andalusia Abu Muhammad bin Hasm menjadikannya sebagai salah seorang dokter bedah terkemuka di Spanyol.

Merupakan keturunan Arab Anshar yang lahir pada tahun 324 H (936 M) di kota Az-Zahra’ yang merupakan wilayah Cordova di Andalusia. Di sana lah ia menimba ilmu, mengajarkan ilmu kedokteran, mengembangkan ilmu bedah dan mengobati masyarakat bahkan hingga ia tutup usia pada tahun 404 H (1013 M) pada usia 77 tahun. Beliau wafat tepat dua tahun setelah tanah kelahirannya dijajah dan dihancurkan.

Mengawali karirnya sebagai dokter bedah dan pengajar di beberapa sekolah kedokteran, Al-Zahrawi mededikasikan dirinya untuk praktik dan mengajarkan ilmu kedokteran. Namanya kurang dikenal, karena ia lebih fokus pada penyembuhan dan perawatan masyarakat. Menurutnya, praktek dokter bedah tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Hanya dokter yang memang memiliki kemampuan di bidang tersebut dan bersetifikat yang layak untuk melakukan tindakan.

Sumber gambar : wikipedia

Sumber gambar : wikipedia

Sosoknya mulai terkenal setelah bukunya yang berjudul At-Tasrif Liman ‘Ajiza ‘an At-Talif (Metode Pengobatan) diterbitkan. Dalam bukunya, Al-Zahrawi banyak menguraikan hal baru dalam dunia kedokteran.

Al-Zahrawi menjelaskan 325 jenis penyakit turunan berikut dengan gejala dan perawatan-perawatannya. Salah satunya, ia menjelaskan pengobatan mengenai penyakit turunan anak laki-laki yang ternyata penyakitnya bawaan dari ibu dari anak itu sendiri. Penyakit yang memang tidak ada gejala-gejala yang tampak. Penyakit tersebut belakangan dikenal dengan sebutan Hemofilia.

Para cendekiawan sekarang menemukan bahwa dalam buku ini berisikan tentang gambaran berbagai teknik pengobatan yang relatif modern, seperti posisi Walcher untuk membantu proses persalinan yang sulit. Disebut posisi Walcher karena orang-orang mengenal bahwa Gustav Adolf Walcher lah yang pertama kali menemukan posisi tersebut, padahal 700 tahun sebelumnya, Al-Zahrawi sudah mengaplikasikan nya terlebih dahulu.

Selain itu juga, ada penanganan untuk pengaturan dislokasi tulang dan patah tulang. Metode ini digunakan untuk mengatur dan mengurangi bahu terkilir selama berabad-abad sebelum Kocher memperkenalkan tekniknya yang mirip dengan pengobatan Eropa

Dalam kitab Tasrif, terdapat 3 bab yang khusus menjelaskan tentang operasi bedah, termasuk prosedur dan teknik penerapannya. Berikut ini penjelasan singkat tentang penemuan beliau dalam kitab tersebut:

  1. Pembedahan mata, telinga, dan tenggorokan. (Beliau menggambarkan Tonsilektomi). Tonsilektomi sendiri adalah operasi pengangkutan tonsil/amandel, bagian dari kelompok  jaringan Limfoid (seperti kelenjar di leher) yang berperan untuk melawan infeksi kuman yang terhirup atau tertelan. Dimana hal ini akan terjadi jika amandel telah terinfeksi. Trakeostomi adalah prosedur bedah yang dilakukan dengan membuat lubang di saluran udara atau trakea untuk memasukan tabung yang dapat membantu pasien yang kesulitan bernafas dan mengalami penurunan kadar oksigen atau gagal dalam sistem pernafasan.
  1. Penyusunan alat untuk pemeriksaan bagian dalam telinga.
  2. Perancangan alat yang digunakan untuk memindahkan atau memasukkan benda ke tenggorokan.
  3. Penjelasan tentang bagaimana cara pakai alat untuk pengangkatan polip dari dalam hidung dengang menggunakan kail (hook).
  4. Penggambaran, pemaparan, dan pembagian arteri portal tem (pembuluh nadi) yang berkaitan untuk meredakan beberapa jenis sakit kepala.
  5. Penggunaan teknik kauterisasi (merupakan sebuah tindakan medis yang berguna untuk menyembuhkan atau mengobati luka pada jaringan yang rusak) biasanya untuk mengobati tumor kulit atau abses (penumpukan nanah pada satu daerah tubuh). Beliau telah menerapkan prosedur kauterisasi sebanyak 50 kali dengan operasi yang berbeda.
  6. Orang pertama yang mengaplikasikan Ligasi, yaitu pengikatan suatu organ berongga dengan suatu ligature (benang pengikat luka). Untuk mengikat pembuluh darah agar menghentikan pendarahan. Cara penjahitan dengan menggunakan Cutgut (tali atau senar yang tebuat dari usus kambing atau hewan lainnya yang berfungsi untuk menyatukan jaringan pada tubuh). Ia mendahului ahli bedah militer Prancis yang terkenal Ambroise Pure (1510-1590) yang dulunya dikenal sebagai orang Eropa pertama yang menggunakan jahitan, pada abad ke-lima.
  7. Pengobatan untuk penyakit fistula anal, yaitu terbentuknya saluran kecil di antara ujung usus besar dan kulit di sekitar anus atau dubur.
  8. Pengangkatan batu kandung kemih. Beliau memberikan ide kepada dokter yang merawat untuk memasukan jari ke dalam rektum (organ terakhir dari usus besar yang berakhir di anus) pasien, lalu memindahkan batu ke leher kandung kemih. Kemudian membuat sayatan pada dinding perineum (area kulit antara liang vagina dengan anus). Setelah itu, barulah batu tersebut dapat dilepaskan.
  9. Ia juga menyusun/membuat alat untuk pemeriksaan uretra.
  10. Al-Zahrawi juga orang pertama yang menggambarkan dan menjelaskan tentang kehamilan ektopik, yaitu kehamilan yang berkembang di luar rahim dan biasanya terjadi di dalam tuba falopi (saluran kecil yang dilewati sel telur yang dibuahi untuk menuju rahim).
  11. Beliau juga membuat beberapa gigi palsu tiruan yang terbuat dari tulang binatang.

At-Tasrif berisikan 30 bab dan ditujukan kepada para pelajar bidang pengobatan dan juga dokter-dokter yang menjadikan ensiklopedia tersebut sebagai teman dalam pelbagai situasi masalah karena mengandung jawaban dan penyelesaian-penyelesaian klinikal yang banyak. At-Tasrif dilengkapi dengan gambar-gambar peralatan pembedahan terawal di dalam sejarah, yang kurang lebih   ada   sekitar   200   gambar   peralatan   pembedahan   yang   dijelaskan   di   jilid   terakhir ensiklopedinya. Selain itu cara penggunaan peralatan tersebut beserta prosedur pembedahan dengan peralatan itu pun turut dijelaskan.

 

Sumber gambar : wikipedia

Sumber gambar : wikipedia

 

Demikian artikel singkat tentang tokoh dengan kontribusi luar biasa di bidang kedokteran. Semoga dapat menginspirasi.

 

Disusun oleh :

  1. Banowati Mitsalina (NIM 11180210000095)
  2. Siska (NIM 11180210000165)

Referensi :

  1. Basya, Ahmad Fuad. 2008. Sumbangan Keilmuan Islam Pada Dunia. Maktabah Al-Imam Al-Bukhari li An-Nasyr Wa At-Tauzi
  2. As-Sirjani, Raghib. 2009. Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia. Mu’asasah Iqra
  3. Yamani, Ja’far Khadem. 2007. Kedokteran Islam, Sejarah & Perkembangannya. Dzikra
  4. Masood, Ehsan. 2009. Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
  5. https://www.haibunda.com/kehamilan/20180507134744-49-19979/cara-lakukan-pijat-perineum-agar-persalinan-terasa-nyaman
  6. https://id.wikipedia.org/wiki/Rektum
  7. https://www.alodokter.com/fistula-ani
  8. https://www.womenonweb.org/id/page/525/what-is-an-ectopic-pregnancy-and-how-do-you-know-you-have-one
  9. https://vdokumen.com/ibn-batutah.html
  10. https://halosehat.com/review/tindakan-medis/cauterization
  11. https://www.medicalogy.com/blog/jenis-jenis-benang-operasi-catgut/

Cerita Pengalaman Menyapih Anak Pertama

IMG_20190522_020707_908

Menyapih Dhuha (Bagian 1)

Bagi sebagian ibu ada yang sangat mudah untuk bisa menyapih anaknya. Alhamdulillahnya, saya termasuk yang satunya lagi, alias perlu ‘usaha’ banget 😆.

Wajar ya kayaknya. Lha wong dari lahir itu uda jadi kebiasaannya. Untuk dhuha, berarti sudah lebih dari 700 hari tidur itu harus dengan menyusu.

Mengubah kebiasaan, tentu harus pake cara yang nggak biasa. Selain itu ya kudu disiplin (baca: tega).

Semingguan ini Dhuha berhasil tidur tanpa menyusu dan kali ini saya ingin berbagi pengalaman. Semoga bermanfaat.

Sebelum ngomongin teknisnya gimana, ini beberapa hal yang harus dipersiapkan.

1. Minta pertolongan Allah
Wajib. Yang kasih perintah menyusui Allah, yang kasih petunjuk menyapih 2 tahun juga Allah. Minta pertolongan supaya lancar prosesnya. Ngurangin stres pas ngadepin momen anak histeris minta nyusu.

2. Kerja sama dengan suami
Minta bantuan bapaknya dhuha buat gendong atau nimang-nimang sebelum tidur malam. Awalnya susah, ga mau tidur, rewel. Lama-lama bisa juga. Dari yang durasi gendong hampir sejam, sekarang cuma 15 menit.

Kerja sama juga dalam bentuk motivasi soalnya kadang emaknya ini yang uda cepet nyerah apalagi pas fisik uda capek plus ngantuk, bawaannya pengen nyusuin aja biar anak cepet tidur.

3. Sounding secara intensif sebulan sebelumnya
Sejak hamil keliatan gede, mulai sounding bahwa di dalam perut emaknya ada dede bayi dan ngasi tau kalau nanti bakal nyusu kayak Dhuha.

Nah pas Lubna uda lahir, hampir setiap hari bilang gini: “NANTI DHUHA DUA TAHUN, NYUSUNYA SELESAI YA..”

4. Menitipkan Dhuha beberapa hari ke teman
Ada teman yang menawarkan diri kalau dhuha dititipkan dirumahnya. Berhubung anaknya beliau emang udah sering main dan seneng sama Dhuha, yasudah akhirnya coba nitip. Alhamdulillah berhasil tanpa drama.

Dhuha pernah tiga kali nitip dengan empat teman.
3 malam, semalam dan yang terakhir 4 malam dengan dua orang berbeda. Semuanya aman memang karena teman juga punya anak-anak yang akrab sama dhuha.

Ini emaknya sempet bertanya-tanya, lha kok kalau dititip malah nggak pernah rewel sebelum tidur. Kalau malam sih katanya kebangun, mungkin nyariin tapi cuma ditepuk-tepuk langsung tidur lagi.

IMG_20190520_142232_882
TEKNIS MENYAPIH ALA SAYA

1. Tidur Siang

Teknisnya, pas sesi tidur siang. Sebelumnya dikasih makan dulu yang cukup, sekitaran jam 12 siang kalau uda keliatan keringetan dan nguap-nguap, saya pangku miring dia kayak mau nyusuin sambil ditimang-timang.

Awalnya mah ngamuk-ngamuk, ada kali sejam nangis kejer minta nyusu. Nggak saya kasih. Yah ini berlangsung 2 hari. Kemarin sempat nyerah, tapi ya gimana, inget over supply ASI, kasihan juga Lubna jadi seringnya dapat foremilk (kembung mulu jadinya).

Hari ke tiga, tidur siang makin gampang dan sebentar mangkunya 10-15 menit. Malah di hari ke tiga emaknya yang tau-tau matanya basah, mangku sambil lihatin anak pules. “Nak, udah dua tahun aja, kok malah umi yang kangen nyusuin yah”.

Kalau dipangku ga tidur-tidur, biasanya saya ajak main lagi dan nunggu dia kelihatan ngantuk. Yah, kalo lagi berlebih tenaga, gendong sampe merem.

2. Tidur Malam

Kalau tidur malam, hampir seminggu ini jadi kerjaan bapaknya. Caranya ya gendong sampai tidur. Awal-awal susah dan nangis-nangis parah, nunjuk-nunjuk ke uminya minta nyusu.

Akhirnya dibawa menjauh biar ga mupeng pas uminya nyusuin Lubna. Pas uda pules baru deh taruh di kasur.

Hari ke tujuh malah makin gampang, taruh do kasur, pukpuk sama bapaknya. Bapaknya udah merem duluan, anaknya gegoleran agak lama trus merem sendiri. Yah paling nggak uda ga teriak-teriak lagi.

Buat pejuang WWL di luaran sana, semangat ya!
.
#menyapihdhuha
#menyapihdengancinta

 

 

 

 

Review Buku Cerita Anak : Beruang Bilang Maaf

Sampul Buku

Sampul Buku

 

Emang dah kalau ngomongin wacana, banyak banget yang pengen dikerjain. Salah satunya pengen bikin vlog yang isinya review buku-buku anak sambil read a loud gitu, kehidupan di Taiwan dan seterusnya.

20190515_112921kita

Tapi ya gimana, bisa laptopan nunggu jam 11 malem minimal atau sebelum jam 6 pagi. Pegang hape aja gabisa lama (taro hape diatas kulkas dan diliat secara berkala aja, ngetik-ngetik gini nunggu anak pada merem).

20190515_113022

Yaudah, kerjain yang sebisanya aja dah. Nulis review ini buat gambaran temen-temen yang kali aja lagi cari referensi buku buat anak-anak atau mungkin buat didonasiin ke taman baca @rumahbelajarkita (ngiklan dikit).

REVIEW

– Buku ini bisa dipake buat ngenalin konsep minta maaf. Nggak banyak tulisan, cocok buat anak dibawah satu tahun. Ide cerita bisa dikembangkan ke banyak hal.

20190515_113039

– Misalnya, abis kita minta maaf kita bantu beresin kekacauan yang dibuat.

– Warna buku berwarna-warni, bisa tebak-tebakan warna.

– Objek-objeknya variatif dan tergambar dengan warna-warna solid, bisa buat tebak-tebakan misalnya nama buah-buahan dan benda.

SINOPSIS

20190515_113058

Si Anak beruang ceritanya main sepeda di dalam rumah. Pas lagi seru main muter-muter gitu, dia nabrak ibunya yang lagi bawa buah-buahan. Sang ibu menasihati dan anak beruang pun minta maaf sembari membantu memungut buah.

Anak beruang kembali bermain sepeda. Kali ini ia menabrak ayahnya yang lagi bawa tumpukan kertas. Sang ayah menasihati dan anak beruang pun meminta maaf sambil membereskan kertas yang tercecer.

Setelah itu anak beruang melanjutkan main sepeda ke halaman rumah.

Penerbit : Pelangi Mizan
Penulis : Benny Rhamdani
Illustrator : Syarifah Tika

#reviewbukuanak #resensibukuanak #bukuceritaanak #boardbook #beruangbilangmaaf

Salat Zuhur di Masjid Taichung

IMG_20190511_201452_937 IMG_20190511_201453_002 IMG_20190511_201452_998 IMG_20190511_201452_936 IMG_20190511_201452_936 IMG_20190511_201452_935 IMG_20190511_201452_938 IMG_20190511_201452_935

 

Ini foto beberapa bulan lalu pas ke Taichung. Tapi rasanya kayak udah lama banget, karena apa.. yak.. kalo kata saya efek desain bangunannya, retro banget.

Masjid ini merupakan masjid terbesar di Taichung. Barangkali ini lebih luas jika dibandingkan dengan Masjid Agung Taipei.

Kami mampir pas jam-jam zuhur. Ternyata setiap akhir pekan, masjid ini memang lumayan ramai dengan orang Indonesia yang bekerja di kawasan Taichung, terutama para pekerja pabrik.

Berbeda dengan Masjid Agung yang tidak 24 jam, masjid ini bahkan mempersilahkan kita untuk beritikaf saat hari libur.

Kemarin setelah zuhuran, juga ada kajian-kajian seperti mentoring yang diisi oleh orang Indonesia. Asli, suasananya seperti kita lagi mudik trus mampir buat sholat. Jarang-jarang kan di Taiwan lihat orang salat pakai sarung? mana pas kajian juga pembicara banyak pakai bahasa jawa, hehe. Serasa di Tanah air jadinya.

Taichung, Februari 2019

#catatanditaipei #masjidtaichung #ziarahmasjid