Metode ABC (Amati-Bayangkan-Cari Tahu): Keterampilan Berpikir yang Sering Terabaikan

 

Menginjak usia 32 tahun, semakin memahami bahwa begitu banyak metode yang bisa digunakan untuk meningkatkan keterampilan berpikir dan mengambil keputusan. Saya sendiri berharap bahwa soft-skill yang satu ini bisa saya ketahui sedini mungkin.

Ada begitu banyak alasan, beberapa diantaranya adalah:

  1. Bisa lebih mengenal diri sendiri.
  2. Bisa lebih kritis dalam melihat menghadapi peristiwa atau permasalahan.
  3. Bisa lebih percaya diri dalam mengambil keputusan.
  4. Bisa lebih peka terhadap hal-hal detail yang selama ini tidak terlalu diperhatikan.
  5. Bisa lebih sadar dan penuh intensi dalam melakukan tiap kegiatan.

Sebetulnya metode Amati-Bayangkan-Cari Tahu ini sudah sering sekali kita lakukan, namun lebih sering lagi kalau kita tidak sadar telah melakukannya. Itu semua karena budaya buru-buru dan rutinitas yang kerap kita lakukan. Kita, saya lebih tepatnya, lebih sering melakukan aktivitas tanpa berkesadaran penuh, atau bahasa kerennya, tidak mindful.

Hal yang wajar, karena memang barangkali 80% aktivitas kita sehari-hari sudah terprogram dalam alam bawah sadar. Beberapa bulan ini, saya mulai menerapkan metode ini (waktu itu belum tahu namanya) dalam mengamati ketika diri sendiri marah atau kesal ke anak-anak.

Step 1 – Amati

Apa yang saya lihat sehingga membuat saya marah? perkataan atau suara apa yang membuat saya tidak nyaman? perlakuan atau sentuhan apa yang membuat saya risih dan kesal? aroma apa yang memicu emosi negatif saya? rasa apa yang sedang saya alami sebetulnya (berkaitan dengan mekanisme biologis tubuh saya)?.

Setelah mulai mengamati apa yang dialami diri sendiri, ternyata saya sering terpicu untuk marah ketika dalam kondisi tubuh lapar,kelelahan (ngantuk), pegal-pegal, dan ingin berkemih. Saya relatif ingin semua bergerak cepat (misal ketika anak memakai sepatu atau pakaian). Padahal, ada rasa tidak nyaman karena ada kebutuhan yang belum terpenuhi dari diri sendiri.

Contoh yang berkaitan dengan indera penglihatan, melihat nuansa dan kondisi rumah berantakan, saya merasa tidak nyaman sehingga suka terlintas emosi negatif yang muncul ketika anak “melakukan eksplorasi” dengan mengamburkan aneka barang.

Permisalan lain adalah ketika mencium aroma pesing dari anak, membuat diri waswas akan najis tersebut, sehingga justru ada sensasi emosi negatif dan cenderung menyalahkan ini semua karena anak yang belum lulus toilet training. Sehingga dari persoalan tersebut saya sudah bisa membuat diri tidak rasional dan mudah ter-trigger untuk merilis kekesalan lewat mimik wajah dan suara.

Saya juga mengamati ketika emosi ini melanda, napas terasa pendek-pendek. Jantung kadang berdebar dan ada perasaan sesak di bagian dada. Dalam kasus tertentu, misal yang mengganggu indra penciuman, terkadang ada rasa mual.

Step 2 – Bayangkan

Setelah mengamati, tahap berikutnya adalah membayangkan. Bayangkan ketika anak menumpahkan makanan/buang air kecil di lantai/bertengkar dengan saudaranya sampai terjadi teriakan dan tangisan, bisa langsung dilakukan dengan bertanya ke diri sendiri dan menyelesaikan persoalan dengan diri sendiri dahulu.

“Oke, sekarang apa yang sebetulnya terjadi? apa sedang lapar? kelelahan? ingin berkemih? apa sedang ada janji atau tugas lain yang harus diselesaikan?”, intinya segera bertanya ke diri sendiri tentang suasana/emosi negatif apa yang menyertai diri ini.

Bertanya juga dengan diri sendiri, mengingat-ingat prinsip bahwa setiap peristiwa yang terjadi pada anak adalah peluang untuk bisa diambil pelajaran oleh mereka dan kita orang tuanya. Sehingga marah dan bentakan bukanlah hal yang sepatutnya diluncurkan dalam situasi genting ini.

Bayangkan pula apa yang akan terjadi jika kita meluapkan emosi yang salah kepada anak-anak. Bayangkan truma dan luka batin yang akan menetap dalam anak-anak kita kelak, entah sampai kapan.

Ingat-ingat dan bayangkan bahwa Allah adalah CCTV sejati yang selalu mengamati gerak-gerik dan bahkan pikiran kita. Apakah kita akan menyerah dengan hawa nafsu amarah, atau akan maju melawan dorongan marah itu?

Step 3 – Cari Tahu

Langkah ini adalah langkah untuk bereksperimen, mencoba-coba hal yang kemudian bisa menjadi solusi akan permasalahan yang ada.

Dalam contoh di atas, ternyata sudah coba diamati dan dibayangkan berbagai kemungkinan yang ada. Saatnya membuat prosedur penyelesaian yang bisa mengurangi risiko negatif atau bahkan mengubah masalah menjadi hal yang justru penuh manfaat.

Solusi pertama adalah mulai menjurnal untuk menuliskan refleksi harian terutama akan kejadian-kejadian tentang emosi negatif ini. Ternyata dengan menuliskan perasaan negatif yang bisa memicu amarah ke anak, terbukti membuat lebih sadar dan berkurang khilaf marah-marahnya ke anak. Karena ketika dituliskan, hal yang membuat marah justru menjadi terlihat sangat sepele. Sampai malu sendiri dibuatnya.

Eksperimen selanjutnya adalah melakukan latihan hidup berkesadaran. Baik secara statis maupun dinamis. Memperhatikan napas ketika duduk saja, atau dalam aktivitas harian. Selama ini, saking sudah tahu caranya bernapas, kita jadi merasa tidak perlu berlatih napas. Padahal latihan napas ini krusial, dan manfaatnya sangat banyak. Paling tidak, membuat state diri kita menjadi lebih kalem.

Lagi pula, beberapa teori kan juga bilang bahwa ketika akan marah, coba tahan 3 hingga 6 tarikan napas panjang untuk membuat kepala lebih dingin dan sikap lebih rasional.

Langkah terakhir yang dilakukan adalah dengan menuliskan keberhasilan-keberhasilan kecil saat sukses mengendalikan emosi negatif. DItuliskan untuk menghindari diri dari perasaan “tidak mampu berubah”, padahal namanya perubahan dilakukan setahap demi setahap. Hidup ini, kan proses.

Pengalaman ber-ABC dengan Anak-anak

Sejak berlatih mindful dan menjurnal, saya merasakan bahwa mulai mempraktekkan dengan anak-anak. Misalnya saja saat mengajak anak berkegiatan di dapur, membuat telur dadar.

Saya mengamati lebih jeli lagi, binar mata dan keterampilan tangannya. Juga dengan mengamati reaksi mereka saat diberikan instruksi.

Kemudian langkah berikutnya, bertanya tentang tekstur kulit telur, lekuk-lekuk tajamnya ketika sudah dipecahkan, dan menanyakan seperti apa rasanya memegang telur mentah itu (imajinasi mereka).

Langkah berikutnya adalah mencari tahu apa yang harus dilakukan jika ada potongan kulit telur yang masuk ke dalam mangkuk. Saat anak mengaduk terlalu cepat, dan menumpahkan sebagian telur, kita kemudian mendiskusikan apa yang harus dilakukan untuk membersikan lantai dan sikap yang harus dilakukan agar tidak tumpah lagi.

Dari kegiatan sederhana, kemudian menjadi sangat luar biasa karena orangt tua betul-betul hadir saat bermain bersama anak.

Ternyata ketika kita menyambut peran orang tua, disitu pula saatnya kualitas diri kita bertambah karena kita mau belajar dan memperbaiki diri.

 

#excercise4

 

 

Tentang Etika Menghargai Karya Cipta Orang Lain

Foto: Anna Shvets via Pexels
Foto: Anna Shvets via Pexels

Berikut ini saya akan membagikan refleksi dari Orientasi ke-2 dari Komunitas Ibu Main STrEAM tentang pemahaman tentang HaKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual).

Sebelumnya, saya akan menceritakan secara singkat garis besar materinya, yaaa..

MENGAPA KITA HARUS PEDULI HaKI?

Sekarang saya ingin memberi sebuah gambaran,

Bagaimana pendapat Anda jika anda seorang desain grafis, kemudian ada orang lain yang tanpa izin menggunakan mencetak karya-karya anda dan dijual untuk kepentingan mereka?

Bagaimana jika anda seorang penulis, kemudian kata-kata anda dikutip sebagian atau mungkin seluruhnya, dan diganti dengan nama orang lain untuk diikutsertakan dalam lomba atau dalam karya tulis mereka?

Bagaimana jika anda seorang pembuat kue, melakukan percobaan dan gagal berkali-kali sampai akhirnya menemukan formula resep sukses, kemudian ada orang lain menggunakan resep Anda, tanpa mencantumkan nama Anda untuk popularitas mereka?

dan masih banyak lagi.

Tentu anda akan sedih, merasa tidak dihargai, kecewa, gondok, marah, jengkel dan ingin ngamuk.

Mengapa? ya karena Anda yang sudah menciptakan atau membuat usaha keras, tapi ada orang lain yang memotong jalan pintas itu untuk keuntungan pribadi.

Dengan empati ini, tentu kita harusnya langsung sadar bahwa namanya karya cipta orang lain itu haruslah mendapatkan perhatian dan kepedulian. Cara sederhana adalah dengan mencantumkan nama mereka, tidak mengkomersialisasikan (mencari keuntungan), dan meminta izin jika akan menggunakan karya mereka.

MAU TIDAK MAU HARUS MELEK & PEDULI HAKI

Saya dan Anda pasti (kemungkinan besar), kita akan bersinggungan dengan HaKI,  karena sejatinya, di era digital saat ini, semua orang yang memposting sesuatu untuk publik adalah pembuat konten (content creator). Tidak sedikit, kita juga membutuhkan media visual, teks, suara/musik, dan video untuk menunjang apa yang ingin kita sampaikan di media sosial. Ketika media penunjang itu kita main asal comot saja dari karya orang lain, kemudian tidak menyertakan sumber atau atas izin mereka, sama saja kita seperti pencuri.

Tujuan HaKI adalah untuk melindungi hak atas kekayaan intelektual adalah untuk melindungi si pemilik karya. (Sumber: talenta.co)

 

SOLUSI : PELAJARI JENIS-JENIS KODE LISENSI

Sumber: wikimedia.org (Creative commons license spectrum.)
Sumber: wikimedia.org (Creative commons license spectrum.)

Tenyata, kita bisa menggunakan media yang ada di internet untuk kepentingan pribadi, namun kita juga harus mempelajari lisensi yang diberikan oleh pembuatnya. Lisensi adalah izin untuk menggunakan, menyalin, atau mengubah suatu karya cipta yang diberikan pembuat karya kepada para pemakai karya mereka.

Ada beberapa jenis lisensi atau perizinan yang diberikan, ada yang hanya untuk penggunaan pribadi, ada yang tidak boleh dimodifikasi, ada yang hanya boleh dibagikan dengan mencantumkan pembuat karya, ada juga yang membebaskan izinnya bahkan boleh dikomersialisasikan.

Berikut ini adalah jenis-jenis lisensi oleh pembuat karya di internet (Creative Common). Jika mungkin juga bisa mengecek disclaimer, atau kebijakan untuk penggunaan karya-karya ini ya.

Ada banyak artikel yang menjelaskan tentang Creative Common atau arti dari kode-kode lisensi ini, silakan dibrowsing ya 🙂 .

Adab atau etika menuntut ilmu adalah dengan jujur dengan diri sendiri dan menghargai karya orang lain.

 

Menjadi bahan perenungan, bahwa kelak anak-anak juga harus memahami tentang peduli dan hak-hak orang lain. Bagus juga jadi materi pembelajaran ya, karena anak masih usia dini, bisa menggunakan perumpamaan lisensi peminjaman mainan atau barang lainnya.