Sedikit Catatan Tentang JOMO (Joy of Missing Out)

JOMO

JOMO

 

Pernah kan? ngerasa harus re-share informasi artis yang lagi dalam masalah via medsos? atau buru-buru chat ke seluruh pertemanan semisal ada gosip-gosip terpanas? atau sebaliknya, pengen tau banget update gosip terpanas di sekitar? takut banget ketinggalan gitu ceritanya.

Juga, mungkin pernah kah menunggu notifikasi like atau komentar atas postingan di medsos kita sendiri? Barangkali, menghitung-hitung jumlah like dengan postingan sebelumnya? lalu merasa bertanya-tanya, “kok yang nge-like dikit ya?” (padahal uda OOTD atau foto di tempat paling heitzs dan hinsthagramebel).

Itu (mungkin) gejala FOMO.

FOMO, Fear of Missing Out. Mungkin teman-teman pernah denger ya? sebuah kondisi dimana diri berasa kayak dikejar-kejar oleh sesuatu yang lagi trending, dikejar ekspektasi/penilaian orang, atau bahkan mental berasa tertekan sama pencapaian hidup orang lain.

Ngerasa kosong kalau nggak ikutan tren. Ngerasa bersalah kalau nggak tau apa yang lagi viral. Akhirnya diri malah sibuk di dunia digital. Dunia maya. Dunia yang cuma ada di angan-angan. Nggak ril.

Kebalikannya JOMO, Joy of Missing Out.

Belajar dari bayi dan anak-anak misalnya. Mereka bisa “stay in the moment”, alias bisa hidup berkesadaran. Waktunya ngutak-ngatik lego, dia bener-bener di situ. Ya fisiknya, ya pikirannya, ya perhatiannya, jiwanya.

(Kayaknya) Nggak ada tuh pikiran, waktunya mainan cat air. Pikirannya uda pengen posting ke medsos, trus nyari-nyari quotes buat bikin caption, sambil akhirnya nungguin respon orang lain. Entah like atau komen.

Lucunya, kadang pernah, udah mau posting sesuatu akhirnya nggak jadi karena takut komentar orang. Atau yang parahnya, mungkin ada orang yang akhirnya merasa diri tidak cukup layak di dunia karena membandingkan hidupnya dengan apa yang di lihat di medsos.

Mungkin saatnya kita berpikir ulang tentang makna hidup bahagia yang sebenarnya. Hidup dengan penuh ketenangan dan rasa nyaman. Seharusnya semua orang bisa.

Yang kemudian membuat sulit adalah karena di era teknologi super cepat ini. Seolah ada peraturan-peraturan tak tertulis tentang “Cara Bahagia”. Seolah yang hal-hal yang dibagikan di media sosial haruslah memenuhi standar-standar tertentu.

#BahagiaItuSederhana, tapi yang mosting sebetulnya sedang ingin memberi pihak tertentu kalau “Halo, gue juga hepi kali meskipun gue nggak jalan-jalan kayak sampeyan”. Bukan betul-betul bahagia, tapi bahagia-bahagiaan aja.

Soalnya apa? Soalnya dalam hatinya masih ada rasa benci, rasa iri, rasa tidak nyaman, atau rasa negatif saat melihat postingan orang lain. Selama itu masih ada, ya coba dipertanyakan ulang. “Lu orang beneran bahagia nggak sih? kok ada orang lain yang keliatan bahagia lu nggak seneng”.

Lagian, kalau ada orang dapat kerjaan bagus, dapat rezeki berlimpah, dan nggak ngambil dari jatahnya situ, ngapa juga harus emosi? hey, Anda juga layak bahagia.

Jadi kalau dalam hidup sudah mulai ada tanda-tanda tidak beres. seperti, selalu buka instagram/facebook/twitter dengan waktu yang sangat berlebihan. Saatnya anda mencoba disconnected.

Saatnya anda terapi “digital detox”. Latihan intensional sama hal-hal di depan mata. Mulai bangun koneksi terbaik dengan orang-orang terpenting dalam hidup kita, di dunia nyata.

Bangun rangkaian aktivitas tanpa gegas. Santai. Nikmati detik demi detiknya. Curahkan yang terbaik. Perhatianmu, kemampuanmu, dan segala apa yang terbaik dalam dirimu.

Karena, berita receh akan selamanya receh dan dilupakan.
Sedangkan, pengalaman memandang mata hari terbit atau terbenam, masih terasa hangat dalam pikiran. Obrolan penuh perhatian dengan orang tersayang tak lekang oleh zaman. Suara-suara pasir saat mendaki gunung masih terdengar.

Jadi, mulai sekarang, apa kita mau memilih jalan yang penuh ketenangan?

Cibinong, 15 Januari 2020

#silminadiary

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *