Sadar yang Apa?

Beberapa tahun belakangan, media sosial saya dibanjiri dengan konten tentang kesehatan mental. Juga bertubi-tubi saya temukan banyak praktisi mindfulness yang menceritakan bagaimana mereka bisa melewati masa-masa kelam dalam hidupnya. Ada yang berhasil melewati badai finansialnya, PTSD-nya, patah hatinya, dan lainnya.

Saya mulai tertarik isu hidup berkesadaran ini tahun 2014 atau 2015 lewat sebuah workshop tentang meletakkan “jeda” dalam keseharian yang penuh dengan ingar bingar.

Namun pencerahan didapat ketika sampai pada saat menyimak kajian dengan tema Muraqabatullah. Sebuah konsep Merasa diawasi oleh Allâh Azza wa Jalla. Dulu mikirnya, kalau diawasi, seolah terpasang kamera CCTV yang siap merekam kesalahan kita. Bukti bahwa diri ini lupa dari sifat Allah yang Maha Rahman dan Rahim. Luput memaknai bahwa yang sedang memperhatikan kita tuh ya Dzat pemilik cinta.

Gimana sih kita kalau mengawasi orang yang kita cintai? nuansanya? ingin cari kesalahan dia, atau ingin memastikan ia selamat dan baik-baik saja? tentu cintaNya Allah itu melebihi batas definisi yang tergambar di dunia ini. Tapi bukankah fenomena cinta dan kasih sayang itu bisa kita lihat wujudnya seperti apa?

Misalnya saja bagaimana ketangguhan ibu pinguin kaisar yang rela berjalan 50-120 km untuk memastikan telur mereka aman (nesting). Mereka juga menelan makanan tapi tak dicerna untuk kemudian ia berikan pada anak-anaknya. Siapa yang menitipkan insting istimewa ini? Fenomena ini ditujukan kepada manusia bukan lain untuk menyadari bahwa pencipta pinguin kasih sayangnya lebih besar dari semua fenomena cinta yang ada di dunia.

Kembali lagi ke hidup berkesadaran. Barangkali ini tulisan untuk teman-teman yang sedang berupaya mencari ketenangan dan makna lewat hidup penuh sadar, hadir, dan utuh. Seandainya masih terasa ada yang kosong, itu barangkali karena unsur Tuhan tidak disertakan dalam proses mindful-nya.

Imam Ibnu al-Qayyim menjelaskan bahwa murâqabah merupakan pedoman dan tiangnya amalan hati. Sikap tenang dan khusyu’ dalam menjalankan ibadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala, bermula dari sikap murâqabah ini.

Namanya juga sikap, artinya itu sebuah kebiasaan yang perlu dididik dan dilatihkan. Fisik yang tenang bermula dari hati dan pikiran yang tenang. Pikiran bisa tenang kalau sudah mendapatkan “alasan” untuk tenang. Alasan-alasan yang dimaksud adalah pemahaman yang Allah berikan pada kita karena telah mencari ilmunya.

Mengaitkan dengan tulisan sebelumnya tentang basmalah, saya semakin yakin bahwa hadist-hadist Nabi Muhammad ﷺ merupakan petunjuk untuk kita melatih diri agar senantiasa terhubung dengan Allah. Bukan semata-mata perintah yang membuat kita repot dan merasa berdosa jika tidak melakukannya.

Seperti berkurangnya “keberkahan” karena tidak mengawali aktivitas dengan basmalah. Hal ini jangan sampai membuat seperti Allah yang “needy” dengan perhatian manusia, tapi sebaliknya, kitalah yang butuh perhatiannya Allah.

Make sense nggak sih, kalau misal kalian lapar dan makan. Kemudian bandingkan dengan pribadi yang melakukan amalan hati dengan sikap murâqabah, merasa diperhatikan.

Kita akan sadar bahwa Allah yang memberikan rasa lapar,
Sadar bahwa Allah turunkan rezeki berupa makanan,
Allah pula yang memilihkan makanan-makanan apa yang baik untuk jiwa kita,
Kemudian ketika kita makan dengan menyadari bahwa Allah Rahman dan Rahim, maka bukankah aktivitas makan kita jauh lebih bermakna? Hati kita akan dibanjiri syukur, takjub, haru karena demikian Agung kekuasaan-Nya?

Bukankah kita akan melihat perbedaannya? Pantaskah seseorang yang lapar-kemudian makan (makannya tak peduli halal-haram, tak disertakan doa, apalagi adab) mendapat hadiah berupa hati yang gembira-content-khusyuk-tenang?

Coba gali lagi ketika kita ingin mempraktekkan hidup mindful. Apakah sekadar sadar nafas demikian ritme dan temponya, makanan demikian tekstur dan warnanya, angin demikian dingin di kulit… atau bagaimana jika kita tambahkan unsur iman dalam keseharian? Kita libatkan Allah dalam penyadaran diri bahwa semua-semua sensasi yang kita terima pada panca indera kita, adalah sebentuk kasih sayang dan media agar kita dapat selalu terhubung dengan-Nya.

Kamis, 25 Januari 2024

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *