Review Buku “Memilih” karya Ayu Primadini

A432F10C-2F1D-4B54-8C93-EB5A39DD95D1
Buy a book by it’s writer!

Membeli buku gara-gara penulisnya, yaitu . Ya, buku ini saya baca karena yakin isinya menarik.

Tahu penulisnya karena tahun lalu memang sedang suka mempelajari pemikiran dan metode Charlotte Mason yang cukup populer di kalangan pesekolah rumah (homeschooler).

Jadi ceritanya, penulis buku ini merupakan host di podcast Charlotte Mason Indonesia (CMID) yang menurut saya, selalu berhasil memberikan narasi, memantik diskusi dengan pertanyaan-pertanyaannya yang menggugah.

Ternyata saya tidak keliru. Buku ini kemudian menjadi buku pertama saya baca sampai habis di Tahun 2023. Barangkali, ini jenis buku yang bisa dihabiskan dalam sekali duduk di komuter Bogor-Kota. Tipe buku yang asyik banget buat bekel di kafe sendirian.

Berisi esai reflektif tentang pekerjaan sejati manusia yaitu “memilih”. Di era penuh distraksi seperti sekarang ini memang kerap membuat kita menjalankan hidup tanpa sadar. Semua berjalan otomatis. Bangun tidur langsung raih ponsel untuk cek notifikasi. Seolah setiap keputusan dilakukan secara impulsif tanpa mau melihat motif dibalik pilihan-pilihan tindakan kita.

Lihat teman berlibur ke eropa, jemari auto buka penyedia tiket pesawat untuk ikutan cek harga. Lihat anak teman ikut kursus, besoknya ikutan juga. Kita merasa dikejar-kejar dan tak rela ketinggalan hal kekinian.

Ada pula yang merasa “memilih” untuk menjadi “anti-mainstream”. Padahal jika dipikir mendalam, bukankah keputusan menjadi anti-mainstream itu sendiri karena pengaruh hal mainstream. Ingin beda dari yang kebanyakan. Artinya, memilih melakukan karena ingin pembuktian bahwa “saya berbeda”. Memilih bukan karena kebutuhan diri, tapi karena ikut arus eksistensi.

Kita enggan mengambil jeda untuk mengupas “strong why” dalan tiap keputusan yang diambil. Mengapa demikian? Tentu saja karena kenyataan tidak selalu menyenangkan. Kita akan bertemu dengan kerapuhan diri yang selama ini tidak ingin kita terima dan akui.

FDB884DD-A395-45CF-BD2C-77A1EB0518C9

Banyak sekali hal yang sepemikiran alias relate dengan kehidupan saya. Jenis buku yang kadang sampai heran, oh ternyata seringkali manusia punya inner voice yang kurang lebih sama.

Buku ini berhasil mengingatkan saya untuk tidak bosan-bosan meluangkan waktu untuk evaluasi dan refleksi diri.

Juga tentang gagasan-gagasan yang mencerahkan tentang konsep pasangan hidup bukanlah belahan jiwa. Karena jika cuma sebelah, kita akan merasa pasanganlah yang membuat kita utuh. Kadang jika demikian, akan berbahaya karena artinya kita selalu merasa kurang dan menuntut pasangan untuk sesuai dengan ekspektasi.

Kita adalah manusia yang utuh. Adapun peran pasangan, adalah untuk bisa bertumbuh bersama untuk tujuan yang satu. Sahabat yang selalu mengingatkan dan partner dalam menjalankan amanah hidup.

Ada bagian-bagian menarik semisal bicara tentang otoritas. Apakah ada kondisi dimana manusia tidak punya pilihan? Bahwa pasti pernah kita gemas sekali jika ada teman yang curhat bahwa hidupnya menderita, tapi dia tak juga pindah atau berusaha keluar dari lingkungan itu.

Ia bilang, tak punya pilihan. Padahal tiap pribadi selalu punya ruang otoritas jika ia mau dan berani. Hanya perlu mengupas diri lebih dalam, mengurai rasa takut dan cemas yang menghantam pikiran.

Semua pemikiran mendalam ini dituliskan dengan bahasa yang sederhana dan mengalir adanya. Saya suka sekali pemilihan diksi yang digunakan penulis.

Buku setebal 127 ini memuat 16 esai pendek yang akan membuat kalian berujar, “oh iya juga ya..”.

Hal yang paling nyata adalah tentang realita media sosial dan teknologi yang sekarang membuat kehidupan seperti sibuk tak berujung. Makin banyak hal yang (seolah) harus dikejar dan silaturahim maya yang kian menggerus sistem sosial kemasyarakatan kita.

Kita merasa perlu “keep in touch” dengan sahabat yang jauh di sana. FOMO dengan unggahan-ungahan mereka, namun abai dengan yang ada di depan mata. Kualitas koneksi menurun dan cenderung dangkal.

Lagi-lagi, barangkali keruwetan hidup kita ini biang keroknya karena tiap keputusan yang diambil sehari-hari tidak lagi didasari oleh intensi sadar dan motif mendalam.

Semisal, memilih pakaian hanya karena kekinian. Enggan memilih karena ketinggalan zaman padahal nyaman dikenakan. Kegiatan memilih yang kemudian dilandasi penilaian orang, bukan penilaian sendiri.

Memilih jurusan kuliah hanya karena kampusnya negeri, meski di tempat yang tak sepenuhnya dimengerti karena yang penting sedikit pesaingnya.

Di ujung perjalanan kemudian mengapa hidupku begini. Padahal sejak awal tak mau dengarkan diri sendiri. Sejak kecil terbiasa untuk mengikuti apa yang tenar, bukan yang benar.

Oh iya, di dalam bukunya juga penulis suka menyampaikan kutipan-kutipan dari buku yang beliau baca. Saya paling suka baca yang seperi ini karena serasa sakali dayung dua pulau terlampaui.

Ini tu modelan buku yang cocok banget buat kado adik-adik kita yang lagi mau belajar baca buku non fiksi. Kayak buat kasih nasehat tapi caranya alus, karena isinya banyak petuah-petuah yang bakalan relate sama generasi milenial, Z, dan alfa.

 

Taipei, 6


Maret 2023

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *