Mengapa Ikutan KIMS (Komunitas Ibu Ibu Main STrEAM)?

Belajar mulai dari yang ada, tidak perlu mengada-ngada.

Belajar mulai dari yang ada, tidak perlu mengada-ngada.

Bulan lalu saya melihat teman SMA mengupdate di media sosialnya tentang aktivitas harian anaknya yang berbasis science sederhana di rumah. “Wah, menarik dan variatif sekali kegiatannya”, batinku saat itu. Kemudian, tak berapa lama, saat acara sesi sharing tiap malam minggu, temanku ini membagikan pengalamannya yang belakangan ia ikuti.

Ikutan komunitas ibu mainstream“, itu kalimat yang kudengar.

Hah? mainstream“, (mainstream: umum, overrated, gitu kah?”), unik banget namanya wkwkw.

Ternyata, saya salah. Main STrEAM, ini ternyata merupakan sebuah aktivitas pendidikan berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics).

TUJUAN BERGABUNG KIMS

Saat itu langsung penasaran dan tertarik sekali untuk ikutan. Alasannya:

  1. Saya sedang memulai perjalanan untuk mengaplikasikan pendidikan berbasis keluarga, atau biasa dikenal dengan homeschooling. Otomatis, di sini, peran orang tua harus betul-betul mandiri dan disiplin dalam merancang dan mempersiapkan aktivitas menyenangkan di rumah bersama anak-anak.
  2. Sebagai keluarga yang menjalankan homeschooling, kami sadar untuk mencari “teman seperjalanan” dalam mencapai tujuan pendidikan keluarga. Itu artinya, mengupgrade diri dan berkumpul dengan teman-teman yang “sefrekuensi” menjadi sebuah kebutuhan yang tidak bisa dielakkan. Menurut saya, KIMS adalah tempat yang cocok untuk itu.
  3. Saya merantau tinggal di Taipei saat ini dengan dua balita, (usia anak pertama, 4 tahun 4 bulan dan yang kedua, 2 tahun 5 bulan). Ditengah segudang pekerjaan domestik yang tidak bisa dengan mudah didelegasikan ke pihak lain, sering kali saya kehabisan waktu untuk sekadar eksplor/mencari ide kegiatan dan berakhir kebingungan (karena bingung harus mulai dari mana) untuk memilihkan jenis kegiatan untuk anak-anak.
  4. Setelah mendengar pemaparan pada saat orientasi, saya semakin yakin bergabung dengan KIMS dengan segala keunikannya. Terutama dengan filosofi huruf “r” kecil, yang menjadi simbol dari kata “Tradisional”. Saya sangat suka karena disamping pendekatan STEAM, komunitas ini juga mengusung kearifan lokal/nilai-nilai tradisional dalam proses belajar anak.

RENCANA MENJALANI ORIENTASI

Setelah melihat panjangnya durasi orientasi KIMS ini, saya sadar harus membuat perencanaan dan strategi supaya pendekatan STrEAM ini kemudian menjadi budaya dalam keluarga kami.

  1. Menuliskan tiap agenda, jadwal, dan tugas-tugas dalam jurnal harian dan calendar sebagai pengingat agar tidak lupa mengikuti kelas daring/zoom yang diadakan, berikut dengan tugas-tugas yang diberikan. Cara ini dilakukan juga sebagai latihan kedisiplinan dan komitmen kami dalam meraih tujuan pendidikan keluarga.
  2. Menyiapkan  slot waktu khusus untuk mengaplikasikan sesi main ala KIMS. Artinya, saya juga harus mulai menyusun prioritas harian saya dan menyortir kegiatan-kegiatan yang kurang produktif maupun kurang bermanfaat.
  3. Menyiapkan waktu khusus untuk membuka grup WhatsApp utama maupun grup WhatsApp kelompok KIMS, supaya tidak tertinggal dengan info-info penting terupdate.

Bismillah, semoga ikhtiar-iktiar ini mendapatkan keridhaan dari Allah.

Taipei, 28 September 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *