Mendisiplinkan Anak Muslim Usia Dini : Sebuah Refleksi

Bagaimana mengubah perilaku “menantang” anak usia dini?
Dulu. Waktu anak pertama masih bayi, ada seorang teman (ibu senior) memberikan wejangan yang mengganggu pikiran.
Saking mengganggunya, saya sampai sekarang masih ingat.
A7803217-E0BF-46B1-8259-B92504E8585E
“Anak itu (meski bayi), manipulatif, jadi harus tegas dan hati-hati”, maksudnya harus “didisiplinkan sejak dini”.
Menurut saya. Energi yang disampaikan ini negatif. Menganggap anak itu objek, kertas kosong yang perlu segera “diwarnai”, serta merupakan beban hidup yang siap menyita energi.
Anak itu pemberian Allah. Bukan daya dari manusia. Mereka adalah pribadi utuh sejak lahir. Punya hak-hak asasi yang harus dipenuhi.
Membesarkan anak itu, adalah bentuk pengabdian kita ke Allah. Jika sejak awal sudah menempatkan anak sebagai “musuh” yang perlu diwaspadai, apakah cinta bisa tumbuh?
Mindset. Pola pikir yang perlu direvisi. Bahwa setiap perilaku anak yang “menantang” itu bukan karena anak jahat. Tapi merupakan sebuah jendela belajar keluarga.
Anak mencoret dinding, ya karena mereka punya hasrat untuk menyalurkan kemampuan kognitifnya. Mereka lebih nyaman menggerakkan motoriknya (menulis) secara vertikal. Perlu diberikan alasan logis, fasilitas, dan ruang tabah yang banyak. Itu memang sudah menjadi “biaya” pengasuhan yang tak kasat.
Mendisiplinkan bukan supaya anak nurut. Kalem. Mau disuruh-suruh. Mudah diarahkan.
Mendisiplinkan, itu artinya kita MEMBANTU mereka menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupan ini.
Disiplin yang membentuk karakter.
Disiplin yang kelak akan memudahkan mereka mencapai tujuan.
Disiplin yang membuat mereka mengenal diri, sehingga mampu memahami arti sebuah konsekuensi.
Disiplin yang mampu mengasah rasa, sehingga mereka peka akan kapasitas diri, dan akhirnya mampu menciptakan batasan-batasan berdasarkan nilai yang diyakini.
Kita orang tua, bukan pusat semesta anak-anak dengan kebenaran yang maha absolut. Kita sendiri pun perlu dan harus belajar. Karena zaman berubah. Ada banyak sekali penelitian-penelitian yang mematahkan “mitos pengasuhan atau doktrin” yang kini sudah tak relevan.
Kita sedang menuju akhir zaman.
Tantangannya berbeda
Kebutuhannya berbeda
Tak bisa pakai cara yang sama
Apakah kita mau bertumbuh bersama mereka?
Mengasuh anak, ladang pahala
Berbakti kepada orang tua, ladang pahala
Saya jadi berpikir keras, Bagaimana cara agar kedua hal di atas dapat bersinggungan. Dijalankan sungguh-sungguh dan dengan suka cita.
Niat dan harapan tentu tidak akan pernah cukup.
Niat, doa, tawakal sejak awal memang menjadi rukun awal. Memang perlu ikhtiar yang bukan sembarang ikhtiar.
Akhirnya kita kembali disadarkan bahwa ketika kita ingin membuat anak disiplin. Pertama-tama memang orang tuanya dahulu yang sadar, dan mau disiplin juga.
Refleksi Materi @klastulistiwa
“Teknik Penanaman Karakter untuk Anak Muslim Usia Dini”
Ahad, 19 Maret 2023

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *