Memaknai Hari yang Ideal vs Membangun Kebiasaan

Satu pesan yang paling terngiang-ngiang adalah saat penjelasan bahwa namanya MENENTUKAN PRIORITAS itu butuh BERKORBAN.

Berkorban untuk menyortir yang kita anggap penting, bahkan mendesak untuk bisa digeser agar hari menjadi lebih optimal.

Bahwa mendapatkan hari ideal setiap hari adalah sebuah sumber kusut dalam kehidupan. Sumber kekecewaan karena ternyata ekspektasi kita selama ini berlebihan.

Perasaan “hari yang tidak ideal” itu memang tidak perlu dilawan, tidak perlu dijadikan alasan untuk menghakimi diri. Perasaan itu memang tidak nyaman, ya hadirkan dan rasakan saja, biarkan dia nanti pergi dengan sendirinya berangsur-angsur karena kita pun fokus dan berkonsisten dalam perbaikan.

Itulah kenyataan yang harus kita hadapi. Barangkali kita selama ini hanya membuat rencana-rencana di alam pikiran. Dimana ketika semua dijalankan, ternyata banyak faktor di luar kendali yang akan mempengaruhi kenyataan (kejadian).

Kalau biasanya akan langsung bilang ke diri sendiri, “gimana sih, bikin plan aja ga becus!”, “tuh kan, gimana kedepannya kalau gini-gini terus!”, “susah berubah”.

Kenyataan memang berat, misalnya: beberapa hal dalam “to do list” harian kita yang berupa “hal-hal yang penting dan wah!”, ternyata harus dilepaskan (Letting go) karena menimbulkan penolakan dari tubuh kita sendiri

Karena untuk berubah dari kebiasaan menunda itu adalah sebuah hal sangat besar. Jangan sampai perasaan “selalu gagal” atau “nggak becus” membuat diri terpuruk tenggelam dalam lingkaran setan.

Karena yang kita ingin bangun itu kebiasaannya (otot yang bikin gerak otomatis). Maka langkah awal memang harus memilih dari yang paling kecil penolakannya. Pilih target yang membuat diri tidak punya pilihan untuk menunda karena ada perasaan “ah, gini doang mah kecil!”.

“Stupid small”. Mau konsisten olahraga, “Why” besar tidaklah cukup. Will power jika dipaksa terus menerus juga bisa habis, sehingga energi semakin lesu dan akhirnya habit pun mangkrak.

Pilih yang tergampang, sekecil mungkin, kemudian alokasikan saat bangun tidur atau saat mau tidur. Sekali lagi, alokasikan. Berikan slot waktu, meski hanya 1 menit.

1 menit konsisten, jauh lebih besar kemungkinan untuk sustain sehingga punya berdampak besar, ketimbang 1 jam yang kadang-kadang.

Perjalanan membangun habit ini perlu dilihat sebagai strategi yang gentle untuk meruntuhkan sistem yang sudah terpatri dalam diri kita.

Karena, diri kita ini sudah terlalu banyak sekali program-program otomatis yang membuat kita menunda aksi perubahan. Rasanya memang tidak nyaman melawan diri sendiri, dan ini perlu dimaklumi.

Pemakluman itu digunakan untuk kita agar tidak terlalu keras terhadap diri sendiri, apalagi ketika tidak bisa mencapai target ideal/optimal.

Jika hari ini terasa “gagal” alias hanya dapat target minimal, kita hanya perlu mencatat dan MOVE ON.

Keep going
Jalan lagi aja
Sambil terus audit diri dan refleksi

Di hari ke 14 ini, melihat catatan dan dokumentasi belajar anak yang apa adanya. Melihat tidak lagi dengan “aturan hari ini belajarnya A, B, C”, tapi dimulakan dengan bersyukur dengan anugerah untuk melanjutkan perbaikan.

(Golden Momen dari Pelatihan Habit Transformation oleh Rumah Inspirasi)

Rabu, 15 Maret 2023

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *