Review Buku Membasuh Luka Pengasuhan | Ngajak Diri Buat Jadi Orang Tua Saleh

membasuh luka pengasuhan

Membasuh Luka Pengasuhan adalah sebuah karya yang ditulis oleh pasangan suami istri, yaitu: Ulum A. Said dan Febrianti Almeera.  Buku ini dibuat atas dasar kepedulian. Karena topik tentang “Luka batin akibat kekeliruan pengasuhan (yang kebanyakan tidak disengaja)” ini dirasakan oleh begitu banyak orang.

“Luka pengasuhan adalah luka di sisi rasa (bisa juga akibat luka fisik yang berdampak pada rasa) yang diterima anak dari orangtuanya.”

***

Kalau nggak salah, inti bahasan yang bikin tertarik adalah pendapat bahwa:

“Kekeliruan pola asuh kebanyakan memang bukan disengaja, tapi diwariskan”

“Luka pengasuhan adalah ‘utang’ yang perlu dibayar meskipun dengan cara berangsur”

Nah, tinggal berarti kan untuk mutus rantai itu kita perlu sadar dan mau belajar supaya nanti nggak turun ke anak cucu.

***

Buku ini menjelaskan mengapa kita harus membasuh luka pengasuhan dengan rinci melalui dua sudut pandang, yaitu: Emosi dan Alquran.

Buku ini dibuka dengan penjelasan tentang mengapa yang namanya luka pengasuhan itu harus “ditangani”. Jadi nggak bisa tuh istilah, “yaudahlah ya, itu dulu, udah lewat”, lalu (pura-pura) melupakan dan enggan membahas karena merasa sudah selesai dan akan sembuh dengan sendirinya.

Ternyata, yang namanya luka pengasuhan itu sejenis luka batin. Kalau dalam bahasa psikologi, masuknya “mental illness”. Dampaknya luas banget kalau tidak ditangani. Di bagian ini, saya tertarik dengan pembahasan mengenai “Respon Error”.

Respon Error

Kalau dari segi emosi, itu ternyata karena si luka pengasuhan yang pernah kita alami entah saat kita kecil atau sudah dewasa dari orang tua kita itu nantinya bisa membuat seseorang mengalami respon error.

“Respon Error adalah respon yang tidak sebanding dengan stimulusnya.”

Kalau di buku diceritakan pengalaman waktu penulis mengalami kejadian ketika sang istri tiba-tiba berteriak, menangis, memukul, dan bahkan melempar-lempar barang lain saat melihat suami melemparkan handphone ke atas kasur. Padahal, ternyata respon sang istri itu, diakibatkan dari trauma yang ia pernah alami waktu kecil.

Contoh lain dari respon error adalah ketika ada suami yang selalu tercekat ketika sedang adu pendapat dengan istrinya. Padahal ia punya ilmu leadership dan paham bahwa ia adalah kepala keluarga. Tapi ketika sudah dalam situasi serius untuk mengeluarkan argumen, ia gagal. Simulusnya adalah adu pendapat.

“Luka yang diabaikan, berpotensi menjadi respon error”

Saya kira, di BAB 1, penulis berhasil memberikan penjabaran yang sangat lengkap tentang urgensi hal pembasuhan luka pengasuhan. Satu hal yang menarik adalah gaya penceritaan dalam bentuk dialog dan penggunaan kata-kata sederhana, namun membekas dalam hati.

Penjabaran Upaya Pembasuhan Luka Pengasuhan

Penulis mampu mengantarkan pembacanya pada solusi yang bisa ditempuh dari dua sudut pandang, emosi dan Alquran. Kalau dari sisi emosi, kita bisa menggunakan terapi DEPTH. Sedangkan dari sisi Quran, yaitu dengan Tazkiyatun Nafs.

Terapi DEPTH adalah metode “penyembuhan” dengan cara mengakses memori traumatis yang tersimpan di beberapa titik-titik tubuh. Memori yang dimaksud memiliki muatan emosi negatif seperti: sedih, marah, murka, muak, kesal, merasa bersalah, jijik, dan lain sebagainya.

Penulis buku sangat rinci membahas tentang BAGAIMANA cara membasuh luka pengasuhan dengan teori DEPTH. Meski dijelaskan juga, bahwa butuh upaya lain untuk betul-betul “bersih” dari hambatan dan sumbatan emosi negatif (trauma).

Minimal, kita jadi bisa menghancurkan bongkahan besar emosi negatif. Pas baca buku ini awal-awal, saya sangat emosional karena buku ini membawa diri para cuplikan peristiwa masa kecil.

Contoh Kisah Proses Penyembuhan Luka Pengasuhan

Kita para pembaca juga diberikan kesempatan untuk belajar memetik hikmah dari para pembasuh luka. Ya, pada BAB 3, kita akan mendapatkan tiga kisah nyata tentang bagaimana mereka melewati luka batin yang ditorehkan oleh orang tua mereka. Saya salut sekali, karena pasti tidak mudah untuk menceritakan ulang hal yang mungkin sebagian orang anggap tabu untuk dibahas.

Sudut Pandang Alquran (Tafsir)

Bagian dari buku ini yang paling menjadi favorit saya adalah tiap penulis mengurai makna berdasarkan Alquran. Contohnya adalah pada saat penjelasan mengenai makna “UFF” yang ada pada Surat Al-Isra ayat 23. Selama ini mungkin saya hanya berfokus bahwa yang namanya berkomunikasi ke orang tua itu cukup dengan tidak berkata kasar atau bilang “Ah!”. Tapi dalam buku ini saya mendapat keterangan lebih lanjut dan sudut pandang menarik tentang jangkauan makna “UFF/Ah”.

Contoh lainnnya adalah saat penulis menjelaskan makna “rasa” dan “emosi” di Alquran. Bahwa Alquran membahas soal perasaan sekaligus perilaku yang muncul akibat rasa tersebut. Misalnya:

  1. Perubahan degup jantung (QS. Al-Anfal [8]:2)
  2. Reaksi kulit (QS. Az-Zumar [39]:23)
  3. Reaksi pupil mata (QS. Ibrahim [14]:42)
  4. Reaksi pernafasan (QS. Al-Hijr [15]:97

Dan seterusnya.

Intinya, ketika menjelaskan ini kemudian penulis memberikan kesimpulan indah yaitu bahwa yang namanya perasaan disimpan dalam satu ruang bernama Qalbu. Berbeda dengan kebanyakan teori (emosi dan perasaan  disimpan dalam pikiran sadar atau bawah sadar).

Qalbu mampu menampung apa-apa yang disadari oleh pemiliknya. Sementara, untuk menampung apa-apa yang tidak disadari oleh manusia, wadah di dalam dirinya  itu disebut dengan Nafs. Nafs sendiri adalah hasil bertemunya unsur jasad dengan ruh (fisik dan spirit).

Lalu apa hubungannya dengan luka pengasuhan?

Begini, dari penjabaran tersebut, bahwa manusia itu punya dua unsur. Sedang dalam Quran dijelaskan bahwa dalam hidup ini, ada dua jalan: Fujuur dan Taqwa. Jalan Fujuur (keburukan) itu amat disukai oleh jasad kita (berkaitan dengan kenikmatan dunia), sedangkan Taqwa (kesalehan) itu disukai oleh Ruh kita.

Keduanya saling tarik menarik. Dalam konteks luka pengasuhan, tak heran jika akan sangat mudah bagi anak untuk menyalahkan orang tuanya atas luka yang terimanya di masa pengasuhan. Sebagian malah ada yang “menikmati” alias tidak melakukan apa-apa ketika menjadi korban luka asuh orang tuanya.

Makanya, namanya memaafkan orang tua atau proses membasuh luka ini sangat sulit dilakukan. Karena ini memang jalan taqwa. Tapi jangan khawatir, dalam Alquran pun dijelaskan bahwa yang namanya Nafs ini punya kekuatan internalnya sendiri. Buku ini memberikan solusi, bahwa untuk “mengobati” diri adalah dengan Tazkiyatun Nafs.

Secara keseluruhan, saya sangat menikmati penjabaran makna luka pengasuhan (batin) yang disajikan dengan sistematis, mulai dari “why, what, dan how-nya”. Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh teman-teman yang mungkin saat ini sedang mempersiapkan pernikahan, melahirkan, atau bagi siapa saja yang ingin berusaha terlepas dari bayang-bayang luka masa pengasuhan serta tidak ingin mewariskannya ke generasi berikutnya.

Rating buku : 9/10

 

Ngapain Sih Emak-Emak Baca Buku Filosofi Teras? [Sebuah Review]

review_filosofi_teras_henry_manampiring

Filosofi Teras bagi saya merupakan buku self-improvement berbasis filsafat stoikisme. Bisa dibilang, buku ini banyak memberikan inspirasi dan ilmu yang berguna banget buat keseharian saya sebagai emak-emak. Alasan paling utama ya seperti yang dijelaskan di BAB 9 dalam buku ini:

“Parenting adalah memilih untuk berdamai dengan hal-hal yang tidak bisa kita kontrol”.

Saya langsung membayangkan peristiwa ketika anak sakit, anak menumpahkan tepung roti, memecahkan gelas kaca, terjatuh, ketika mereka tidak mau makan, dan banyak hal lainnya.

Saya mengapresiasi sekali kehadiran buku ini. Bagi orang yang hampir tidak pernah membaca buku filsafat, saya jadi ingin menyelami “kitab-kitab” stoic lainnya, terutama karya Marcus Aurelius yang berjudul “Meditations“.

Kenapa buku ini ditulis?

Buku ini dibuka dengan data survei nasional yang berkaitan dengan anxiety alias kecemasan. Penulis melakukan wawancara dengan seorang pskiater bernama  dr. Andri, Sp.KJ, FAPM. Intinya sih ya memang yang namanya penyakit itu bisa disebabkan atau diperparah dengan kondisi psikis kita.

Kenapa ngomongin kecemasan? coba telisik deh penyebab kecemasan? ternyata ya emang karena cara pandang kita yang keliru ketika lagi menghadapi masalah.

“Bukan stres yang membunuh kita, tapi reaksi kita terhadapnya”, kutipan dari Hans Seyle (Hal. 9)

Buku ini juga ditulis tanpa menggurui, jelas dong, wong ini buku sebetulnya isinya sharing alias berbagi pengalaman sang penulis. Mengapa? karena penulis sendiri bilang bahwa stoisisme ini lah yang menjadi solusi alternatif dalam mendapatkan ketenangan yang lebih baik pasca-terapi obat. Ya, penulis pernah mendapat diagnosa “Major Depressive Disorder“.

Buku Filosofi teras ditulis dengan gaya bahasa sederhana dan mudah dicerna. Kalau saya bilang, buku ini cocok banget kalau dijadiin hadiah mulai dari adik-adik kita yang berusia remaja. Salah satu yang membuat buku ini unik dan tidak kelihatan “berat” (karena bahas filsafat) adalah dengan adanya ilustrasi komik dan halaman quotes. Lumayan nih buat yang gaya belajarnya visual, jadi nggak terlalu cepat bosan.

Hidup Sesuai dengan Fitrah

review_filosofi_teras_henry_manampiring_stoic

Saya selalu bersemangat ketika ada pembahasan bahwa dalam hidup ini sebetulnya tuh kita tinggal ikutin aja “irama” nya yang Allah udah kasih. Kenalin diri, gali potensi, lalu berkarya sesuai dengan fitrahnya melalui misi hidup. Kalau di buku ini, Bab-nya dinamain “Hidup selaras dengan Alam”.

Bahwa kita nih manusia punya fitur unik berupa akal dan rasio. Lalu secara alamiah (qadarullah), manusia adalah mahluk sosial. Otomatis (seharusnya) bisa hidup damai dan sejahtera bersama-sama. Orang nyebelin mungkin akan tetap ada, tapi kenegatifan dia harusnya nggak akan membuat diri kita jadi nyebelin, kan? Kalau kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib:

“Yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan”. – Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Trus dalam kehidupan ini, ada istilah Butterfly Effect, kita manusia dan alam punya keterkaitan. Kalau di hadist ada ungkapan bahwa sesama muslim itu ibarat badan. Sistem. Masing-masing udah ada peruntukan perannya. Jadi kalau ada satu partikel yang nggak sesuai dengan ketetapan alam, ya pastinya ngefek ke semuanya, ke semesta.

Pas di bagian ini, saya bener-bener geleng-geleng kepala takjub mengingat materi rukun iman ke-6, yep. Iman kepada Qada dan Qadar.

Dikotomi Kendali

Premis buku ini menurut saya bisa diwakilkan dengan dua kata ini. Ya, dikotomi kendali.

“Some things are up to us, some things are not up to us” – Epictetus

Ada hal yang bisa kita kontrol, ada juga hal yang nggak bisa kita kontrol. Kelahiran kita di dunia aja bukan maunya kita, kan?. Jadi dengan pemahaman ini, akhirnya saya bisa lebih tenang dalam membuat perencanaan dan membuat keputusan. Fokus saja kepada hal yang bisa kita kendalikan.

Pemahaman ini tuh seperti memberikan validasi atas iman kepada Qada dan Qadar. Allah sudah memberikan ketetapan dan kadar tertentu pada segala sesuatu. Kita hanya harus tawakal dari awal, saat mengerjakan, dan setelah mengerjakan. Allah membuat keputusan, tapi manusia diberikan ranah tersendiri untuk berikhtiar “mengendalikan sesuatu”.

Kita nggak bisa kendaliin hal-hal yang ada di luar diri kita. Kabar baiknya, kita masih punya kekuasaan penuh atas apa yang kita pikirkan, apa yang kita pakai, apa yang kita makan, apa yang kita kerjakan.

Dikotomi kendali ini nggak ngajarin pasrah (diem-diem bae nggak usaha), ya. Justru penegasannya adalah mengoptimalisasi ranah ikhtiar diri.

Pengingat untuk Mengenal Diri

review_filosofi_teras_henry_manampiring_stoisisme

Seberapa sering kita langsung reaktif ketika ada hal yang tidak sesuai ekspektasi atau hal yang membuat diri ini marah, kecewa, cemburu, iri, dan emosi negatif lainnya? Nah, dalam buku ini ada bab tentang “Melawan Interpretasi Otomatis”. Misalnya, waktu macet parah dan kita ada meeting penting banget. Mungkin seringnya kita bakalan nggrundel dalam hati, marah-marah, atau nyalahin kondisi dan ngerasa kalau udah buang-buang waktu di jalan.

Filosofi Teras mengajarkan untuk tidak buru-buru terhanyut dalam respon otomatis berupa emosi negatif, tapi kita diajak untuk memeriksa kembali apa fakta yang terjadi. Macet. That’s it.  Bukan hal yang baru dan khusus dirancang untuk kita seorang.

Apa dengan frustasi dan marah-marah akan membuat jalanan lancar kembali? tentu saja tidak. Ingat, kita tidak bisa mengendalikan macet, yang kita bisa kendalikan adalah interpretasi atau cara pandang kita ketika terjebak macet. Misalnya saja, “wah lumayan nih bisa baca buku”, “wah lumayan bisa nyicil tulisan”, “wah lumayan bisa dengerin podcast”.

Ngajakin Hidup Berkesadaran

Ada kalimat begini:

“Orang yang gampang cemas adalah orang yang punya kecenderungan bahwa ia tidak bisa mengontrol sesuatu”. (Hal 115)

Iya juga sih ya. Mungkin kebanyakan dari kita ketika menjalani setiap detik kehidupan tuh cemas akan masa yang akan datang dan atau justru tenggelam dalam penyesalan atas apa yang sudah terjadi. Kalau kata Seneca,

“We suffer more in imagination than in reality” (Letters)

Kita sering nyiksa diri dengan karangan pikiran kita sendiri. Padahal ada studi tentang Anxiety yang bilang bahwa 85% kekhawatiran kita itu sebenernya nggak pernah terjadi. Penelitian ini menyuruh responden buat nulisin kecemasan mereka dan di akhir periode, mereka diminta buat ceklis mana-mana aja yang kejadian.

Seneca bilang:

“Kita memiliki kebiasaan membesar-besarkan kesedihan. Kita tercabik di antara hal-hal masa kini dan hal-hal baru yang akan terjadi. Pikirkan apakah sudah ada bukti yang pasti mengenai kesusahan masa depan. Karena sering kali kita lebih disusahkan kekhawatiran kita sendiri.”

Pandangan ini bener-bener ngingetin lagi buat hidup mindful. Membersamai diri sendiri, secara utuh, hadir jiwa, raga, dan rasa dalam setiap tindakan dan pergerakan.

Cosmic Point of View alias Efek Melihat dari Jauh

Saya jadi inget nasehat salah satu guru silat dulu, namanya (Alm) Mas Nungki. Waktu itu saya sedang menghadapi masalah yang berat.

“Coba deh, sekarang bayangin Ulfah terbang nih ya ke angkasa, trus lihat bumi sampai kelihatan kecil banget”.

Nasehat yang nggak pernah saya lupa dan pas baca ni buku sampai ke halaman 106, ternyata itu merupakan bagian dari ajaran filosofi teras. Teknik ini pertama kali diperkenalkan oleh Marcus Aurelius. Intinya sih coba deh bayangin aja, apa masalah kita ini lebih besar dibanding bumi itu sendiri dan segala dinamikanya? Kalau kata nasehat-nasehat di postingan akun dakwah. “Aku punya masalah besar, tapi kan Aku punya Allah yang Maha Besar”.

Sampe-sampe, mantan astronot bernama Becky Ferreira bilang, “Saya sungguh percaya jika saja para pemimpin bangsa-bangsa bisa melihat plane mereka dari jarak 100.000 mil, maka perspektif mereka akan berubah drastis”.

Nah kalau udah gini, kita (harusnya) bisa lebih santuy misal ngadepin anak nggak mau udahan mandinya, suami lembur mulu (jadi nggak bisa tag team), cucian lupa dijemur semaleman, baju kelunturan dan masalah domestik rumah tangga lainnya.

Bikin Inget Mati

Saya demen banget ini, di Bab 11 ada pembahasan tentang kematian. Saya jadi inget kajiannya Ust. Oemar Mitta pernah bilang kalau mengingat mati adalah bagian dari ibadah. Nginget mati bener-bener bisa jadi tools buat evaluasi segala ambisi yang kita punya.

Kita sering denger orang bilang, “Ih nggak berasa ya, cepet banget”, “kayaknya waktu 24 jam kurang buat gue”, “gue rasanya pengen membelah diri”.

Seneca pernah bilang:

“Life is long if you know how to use it…we are not given a short life but we make it short..and wasteful of it.” (On Shortness Life”

Seneca juga bilang kalau yang jadi persoalan itu bukan masalah lama sebentarnya waktu hidup kita, tapi gimana kualitas hidup kita sendiri.

Mindset ini ngebantu banget buat ngurangin kekhawatiran yang sering menyerang kita. Ngebantu juga buat milih-milah prioritas dalam hidup. Ngevaluasi mimpi yang kita kejar, apakah yang kita kejar itu sebetulnya cuma angka-angka semata alias harta? tahta? popularitas? ingin dikenang? padahal ujung-ujungnya toh kita akan mati dan terlupakan.

Make sense banget ini. Sebut nama orang yang paling kalian anggap terkenal. Sesungguhnya pasti ada aja orang yang nggak kenal dia. Marcus Aurelius bilang:

Orang-orang yang sangat menginginkan dikenang sesudah mati lupa bahwa mereka yang akan mengenangnya pun akan mati juga. Dan begitu juga orang-orang sesudahnya lagi. Sampai kenangan tentang kita, diteruskan dari satu orang ke yang lain bagaikan nyala lilin, akhirnya meredup dan padam. – Marcus Aurelius (Meditations)

Overall, buku ini layak banget baca sih. Kalau ditanya rate-nya berapa, saya bakalan kasih 8.5/10 karena kontennya segar dan resonated banget sama kehidupan sehari-hari. Plus, bisa langsung dipraktekkan pula ilmu-ilmunya.

Sekian dulu review saya. Kalau favorit teman-teman yang mana?b

Pengalaman Pertama Kali Bekam dan Refleksi di Salon Muslimah Farras Depok

PenampakanSalon dari depan

Penampakan Salon dari depan

Jadi ceritanya setelah lahiran anak ke-2, saya belum pernah urut atau pijat-pijat gitu. Trus pas balik ke Indonesia emang uda diniatin mau bekam sama pijat, apalagi pas landing, ni badan sempet drop banget. Ngerasain deh tuh namanya radang tenggorokan, batuk, dan pilek.

Mungkin ini yang namanya jetlag, ya?, dari yang iklim musim dingin menuju Indonesia yang istilahnya lagi pancaroba.

Singkat cerita, mulailah saya gugling-gugling cari tempat bekam di Depok. Cari yang nggak jauh dari rumah ortu karena nanti kudu nitip anak-anak biar nggak usah dibawa. Nemu lah di instagram, namanya Salon Muslimah Farras.

Spanduk Depan

Spanduk Depan

Pagi reservasi online dulu biar nanti di sana nggak menunggu terlalu lama. Admin reservasi ramah, fast respon, dan informatif. Saya ditanyakan mau treatment apa. Ternyata ini untuk memastikan dengan terapis yang melakukan bekam. Setelah konfirmasi, ternyata saya diberi tahu untuk datang jam 10 pagi.

Salon ini buka mulai jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Konsep salon ini terbilang unik, karena selain untuk muslimah, treatment juga ditawarkan bagi anak-anak (bahkan mulai dari pijat bayi).

Saya ditangani oleh bu Halimah. Orangnya ramah, tangannya lembut tapi kalau sudah mengurut, ga tau kenapa berasa banget. Bukan tipe yang keras menyakitkan. Alhamdulillah cocok sama yang tipe seperti ini. Selidik punya selidik, kata beliau sih kalau kita totok atau urut di titik yang benar, ya emang efeknya begitu. Titik-titik yang dimaksud adalah titik meridian.

Foto Sama Owner Salon

Foto Lubna Sama Owner Salon

Saya sampai penasaran kenapa tangannya bisa halus begitu. Dikasih tipsnya, pokoknya sering-sering menggosok tangan menggunakan ampas kopi, teh, saat cuci beras, kulit buah, biji-bijian buah (pepaya misalnya), nasi basi (pas misal ketemu nasi sisa yang mau dibuang). Menggosok tangan seperti meremas-remas saat mencuci beras. Kalau di dunia per-skinker-an, mungkin tujuannya adalah exfoliating, alias menghilangkan sel kulit mati yang menumpuk di tangan.

Daftar "Menu" Salon

Daftar “Menu” Salon, kalau paket-paket bisa liat di instagramnya

Treatment Bekam dan Refleksi Kaki

Oh ya, sembari dibekam, saya juga mengambil treatment refleksi kaki. Durasi untuk kedua treatment jika ditotal  sekitar satu setengah jam. Proses bekam, terapis sangat telaten, dimulakan dengan basmalah dan selalu mengonfirmasikan kepada saya apa tarikan angin pada cup bekam terlalu keras atau tidak. Ya intinya, sangat nyaman lah sebagai orang yang baru pertama kali nyobain bekam sampai dikeluarkan darahnya gitu.

Saya mengambil treatment refleksi kaki karena bekam tidak bisa digabung dengan pijat full. Supaya menghemat waktu, saya gabungan prosesnya saja. (maklumlah ya, nitip dua bocah di rumah, hehe).

Pijat Bayi (pules banget si Lubna)

Karena sudah cocok sama terapisnya, akhirnya keesokan harinya saya membawa Lubna (9 bulan) ke salon ini. Saya ambil treatment pijat bayi. Saya udah degdegan aja, khawatir bakalan nangis-nangis jengker gitu. Ternyata MasyaAllah, mbak Halimah (terapis), ngajakin kenalan dulu dong. Tujuannya biar nggak asing dan si baby nyaman.

Kata beliau, namanya anak itu jangan dipaksa. Nanti yang ada malahan trauma dan nggak mau lagi badannya diurut. Soalnya kan emang tujuan pijat kan biar rileks, kalau ada unsur paksaan, mungkin si bayi malah tambah sakit-sakit badannya.

Iya juga sih, saya lihat si bayi nyaman aja gitu. Ya paling menggeliat-geliat aja kalau ada beberapa titik yang dirasa emang lagi pegel/sakit. Posisi ngikutin nyamannya bayi. Karena pas itu jam tidur paginya Lubna, akhirnya saya pun sambil nyusuin juga (si bayi uda ngantuk dan minta nyusu).

Alhamdulillah, pengalaman pertama Lubna pijat juga berlangsung nyaman dan lancar  jaya. Lubna pun tidur dengan pulesnya.

Wedang Jahe Abis Treatment

Wedang Jahe Abis Treatment

Ada juga beberapa hal positif yang saya suka dari pengalaman pijat di Salon Depok ini, seperti:

  1. Tempat cukup bersih dan nyaman, meski sekat hanya berupa horden.
  2. Tempat parkir motor cukup luas (muat untuk 1-2 mobil sepertinya).
  3. Staf-nya ramah
  4. Ada wedang jahe yang nikmat
  5. Terapis berpengalaman dan juga mengedukasi kita sebagai pelanggan dalam beberapa hal terutama titik-titik yang bisa dipijat sendiri untuk sehari-hari.
  6. Reservasi mudah, via whatsapp
  7. Treatment bervariasi, mulai untuk kecantikan maupun kesehatan
  8. Jual snack ringan dan beberapa produk
  9. Harga relatif terjangkau untuk bekam dan pijat
  10. Ramah anak (bayi), terapis membuat bayi nyaman dan tidak trauma.
  11. Ambience keshalihan berasa, keliatan dari staf ramah sama audio murotal Quran.
Ruang Treatment Pas Saya Bekam dan Refleksi Kaki

Ruang Treatment Pas Saya Bekam dan Refleksi Kaki

Adapun kekurangannya hanya seputar titik google maps yang tidak sesuai dengan di lapangan (akhirnya saya minta shared live location ketika menuju tempat tersebut).

WhatsApp Image 2020-01-14 at 10.46.00 PM WhatsApp Image 2020-01-14 at 10.46.01 PM (1) WhatsApp Image 2020-01-14 at 10.46.01 PM

Ruang Tunggu

Ruang Tunggu

WhatsApp Image 2020-01-14 at 10.45.56 PM (2) WhatsApp Image 2020-01-14 at 10.45.57 PM

Itulah pengalaman saya melakukan bekam, refleksi kaki, dan pijat bayi di Salon Muslimah FARRAS, Tanah Baru, Depok. Ada yang punya tempat andelan lain buat pijat atau spa? mau doong. Semoga pengalaman ini bisa bermanfaat ya moms.

 

Review Buku Cerita Anak : Beruang Bilang Maaf

Sampul Buku

Sampul Buku

 

Emang dah kalau ngomongin wacana, banyak banget yang pengen dikerjain. Salah satunya pengen bikin vlog yang isinya review buku-buku anak sambil read a loud gitu, kehidupan di Taiwan dan seterusnya.

20190515_112921kita

Tapi ya gimana, bisa laptopan nunggu jam 11 malem minimal atau sebelum jam 6 pagi. Pegang hape aja gabisa lama (taro hape diatas kulkas dan diliat secara berkala aja, ngetik-ngetik gini nunggu anak pada merem).

20190515_113022

Yaudah, kerjain yang sebisanya aja dah. Nulis review ini buat gambaran temen-temen yang kali aja lagi cari referensi buku buat anak-anak atau mungkin buat didonasiin ke taman baca @rumahbelajarkita (ngiklan dikit).

REVIEW

– Buku ini bisa dipake buat ngenalin konsep minta maaf. Nggak banyak tulisan, cocok buat anak dibawah satu tahun. Ide cerita bisa dikembangkan ke banyak hal.

20190515_113039

– Misalnya, abis kita minta maaf kita bantu beresin kekacauan yang dibuat.

– Warna buku berwarna-warni, bisa tebak-tebakan warna.

– Objek-objeknya variatif dan tergambar dengan warna-warna solid, bisa buat tebak-tebakan misalnya nama buah-buahan dan benda.

SINOPSIS

20190515_113058

Si Anak beruang ceritanya main sepeda di dalam rumah. Pas lagi seru main muter-muter gitu, dia nabrak ibunya yang lagi bawa buah-buahan. Sang ibu menasihati dan anak beruang pun minta maaf sembari membantu memungut buah.

Anak beruang kembali bermain sepeda. Kali ini ia menabrak ayahnya yang lagi bawa tumpukan kertas. Sang ayah menasihati dan anak beruang pun meminta maaf sambil membereskan kertas yang tercecer.

Setelah itu anak beruang melanjutkan main sepeda ke halaman rumah.

Penerbit : Pelangi Mizan
Penulis : Benny Rhamdani
Illustrator : Syarifah Tika

#reviewbukuanak #resensibukuanak #bukuceritaanak #boardbook #beruangbilangmaaf

[REVIEW] Dove Original Light & Smooth Deodorant – Home Tester Club

Pas banget deodorant spray habis dan saya kepikiran buat beli deodorant lain. Kebetulan join di Home Tester Club dan dia ada nawarin produk deodorant. Nggak pakai lama akhirnya saya apply untuk mencobanya. Kali ini saya bakalan sedikit cerita dan berbagi pengalaman saya menggunakan produk Dove Original Light & Smooth Deodorant ini.

Wah, dapat dua. Yang satu untuk teman atau saudara nih.

Wah, dapat dua. Yang satu untuk teman atau saudara nih.

Saya paling suka dengan signature aroma khas dove-nya, juga kemasan yang simple namun elegan karena ada warna emas pada logonya. Aroma khas dove ini memang menjadi favorit saya dibanding deodorant lainnya. Aromanya Soft, sweet dan creamy.

Cairannya tidak membuat lengket dan melembabkan kulit ketiak, setuju dengan claim satu-satunya deodoran yang mengandung 1/4 moisturising cream. Namun memang, menurut saya ini kalau untuk aktifitas outdoor, kurang bisa menahan bau badan dari keringat berlebih. Untuk mencerahkan, saya belum lihat ada yang signifikan (mungkin karena saya baru pakai semingguan ini aja).

Loved the design!

Loved the design!

Dove ini juga tidak membuat kerak pada bagian ketiak pakaian, ini yang membuat saya suka untuk deodorant model roll on. Biasanya saya menghindari roll on (biasanya saya pilih bentuk padat atau spray) karena terganggu dengan efek samping yang diberikan. Namun Dove beda.

Lembut dan nggak lengket.

Lembut dan nggak lengket.

Sebulan kedepan, kalau memang bisa mencerahkan dan menghaluskan, saya bakalan rekomenin ke teman-teman.

Depok, 25 Agustus 2017

[REVIEW] Bumbu Instan Bamboe Asia Tom Yum – Ikan Ekor Kuning

Ketika waktu sangat sempit, bayi anda sedang tidur dan anda sangat enggan terkena cipratan minyak saat menggoreng ikan, maka Bumbu Bamboe Asia Tom Yum adalah jawaban atas segala kegundahan itu. Berbekal sisa satu wortel di kulkas dan setengah kilo ikan ekor kuning, anda bisa mendapatkan sajian yang levelnya lumayan ketimbang beli masakan jadi di warteg/warpad.

Penampakan Bumbu Instan Bamboe Asia Tom Yum. Loved the packaging!

Penampakan Bumbu Instan Bamboe Asia Tom Yum. Loved the packaging!

Rasa-rasanya, tiada salahnya ketika belanja bulanan anda menyetok beberapa jenis bumbu instan sebagai inspirasi ketika mager mulai melanda. Salah satunya bumbu instan favorit saya sih ya si Bamboe ini. Favorit karena dia nyediain aneka ide masakan yang lebih variatif ketimbang merk lainnya. Selain itu dia modelnya kayak bumbu udah ditumis gitu alias mateng.

Petunjuk penyajian dan informasi lainnya.

Petunjuk penyajian dan informasi lainnya.

Tapi kalo kata saya mah, se-instan-instan-nya bumbu instan, ini cuma enak kalo kita tambahin bumbu sendiri juga. Buat tom yum ikan ini, berikut detail resepnya dan perkiraan biaya masak (Nggak termasuk garam, gula, gas, air) :

– Ikan ekor kuning 3 pcs (Rp. 15.000,-)
– Bawang Putih 5 siung (Rp. 1000,-)
– Daun jeruk 5 lembar (Rp. 100,-) > iya emang murah, orang gopek dapet serauk
– Sereh 2 batang (Rp. 500,-)
– Wortel sebats (Rp. 1000,-)
– Lemon 1 buah (Rp. 1000,-)
– Kecap Ikan 1 sdm (Rp. 200,-)
– Kaldu Jamur Merang (Rp. 700,-) > bisa di skip
– Setengah bungkus bamboe Tom Yum (Rp. 3000,-)

Pastanya begini modelnya.

Pastanya begini modelnya.

Cara masak, liat bungkusnya plus feeling dah. Waktu masak sekitar 20 menitan dan total  biaya abis Rp. 22.500,- untuk makan 3 orang. Kan! seorang berarti kena 7.500-an doang. Kalo beli ikan di warung padang seorang kena Rp. 15.000,-. You win! and saved Rp. 22.500,- *grin*

Penampakannya! Soo, Yummy!

Penampakannya! Soo, Yummy!

Review rasa : Tom yum banget lah, dulu suka kangen kalo makan di Steamboat  yang di margonda. Tapi sejak belajar bikin sendiri, jadi ga pengen kesana lagi. Kalo ga salah inget, sekali makan steamboat (bisa buat bertiga), itu sekitaran 80 ribu deh.

Nilai buat bumbu instan ini : 4/5

Saran : Next kalo tetep mau ikan, mungkin bisa cari jenis ikan yang strukturnya lebih setrong dan nggak cepet hancur pas di rebus. Mending fillet ikan yang tebel-tebel. Variasi lainnya kalian bisa pake cumi, udang, atau olahan seafood seperti crab stick atau bakso-baksoan.

#silminarecipe #silminareview #hematinshay #tomyum #fishtomyum #bumbuinstan #makananinstan

Depok, 18 Agustus 2017

Ide Masakan Gunung #2 : Terong Goreng Tabur Cabai Bawang Pakai Tepung Bakwan MamaSuka

Jangan keder ya sama nama resepnya haha, abisan bingung mau namain apa untuk resep kali ini. Yak, ide menu masakan yang kayaknya bakal cucok sama lidahnya orang Indonesia ini bisa jadi pilihan buat lauk pas lagi naik gunung. Selain bikinnya gampang, akhirnya kita juga bisa makan makanan yang bernutrisi ini. Jangan salah, akhirnya saya cari tau juga manfaatnya ni terong, dan ternyata dia emang punya khasiat ngatur asam lambung, pokoknya ramah banget ini makanan buat di usus.

Kita ini emang harus pilih-pilih ya sayuran yang dibawa itu harus tahan sama gempetan barang-barang di tas. Dan kayaknya nih ya, terong salah satu sayur yang setrong lah. Langsung aja nih resep sama cara bikinnya.

Bahan :
– Terong Ungu 1 buah (Rp. 1000,-)
– 1/4 bungkus tepung bumbu, saya pakai Miwon Tepung Bakwan Mamasuka 250G (beli di Indomaret Rp. 5700,-) berarti sekitaran Rp. 1.500 lah ya kepakenya.
– Bawang Merah 3 siung (Rp. 500,-)
– Bawang Putih 2 siung (Rp. 500,-)
– Cabe Merah & Rawit masing-masing 2 (Rp. 500,-)
– Garam secukupnya (bawa aja dari rumah, gratis >,<)

*itu harga perkiraan ya pas yang bumbu, aslinya mah lebih murah pastinya, itu buat acuan aja.

Mamasuka Tepung Bakwan

Mamasuka Tepung Bakwan

Cara buat :
– Iris kira-kira setengah cm terong
– Aduk 1/4 bungkus tepung bumbu dengan air, di kira-kira aja sampai mengental dan bisa bungkus irisan terong.
– Goreng dalam minyak panas, inget, tunggu panas dulu si minyaknya biar bagus hasilnya. Kalau warnanya udah agak coklat, angkat.
– Cincang bawang dan cabe, goreng sampai kering dan angkat.
– Taburin ke atas terong, dan tambahkan garam sedikit.

Sumpah, gampang beud.

Sumpah, gampang beud.

Total abis Rp. 4.000,- (belum termasuk minyak goreng dan gas yah). Cukuplah buat 3 orang makan.

Resep ini bisa juga buat ide pas lagi laper banget tapi pengen yang cepet-cepet gitu, kayak tadi pagi, belom sempet ke tukang sayur, adanya ini doang di kulkas. 15 menit, kelar dan si terong ini berhasil menjadi pemadam kelaparan sayah.

Ternyata emang lebih aman kita nyetok tepung bakwan, soalnya dia rasanya nggak terlalu asin, jadi kalau buat goreng sayuran pas. Beda kalau tepung-tepung bumbu yang buat daging, dia kurang cocok buat terong ini menurut saya. Pakai mamasuka ini teksturnya juga jadi ngembang gitu tapi tetep krenyes.

Recook? Of course!

#silminarecipe #mamanusantara #hematinshay

Depok, 14 Agustus 2017

Ide Masakan Gunung : Bikin Brownies Pake Teflon (Review Nutricake)

Kapan lagi ya kan bikin kuweh ga pake mikser dan cuma pake sendok!

Saya hobi travelling. Jaman di MAPA pas kuliah, kalau makan mah mayan ada gizinya karena itu tuntutan silabus setiap melakukan ekspedisi yang ngewajibin bikin menu harian (harus ada karbo, protein dan vitamin) berikut perhitungan kalori sehari 2500-3500 kalori pas lagi jalan menggunung. Iya diitungin, jadi kalo pas belanja bawa kalkulator sama catetan buat cari yang kalorinya tinggi pleus harga murah. Melototin tabel kalori snacks lamaa bener, yang nggak ngerti mungkin ngirain mau ngutil.

Pas belakangan, suka open trip dan nanjak bareng sama temen yang lain, main menunya back to basic, kalo nggak mie instan ya sarden. Padahal kalau dipikir-pikir tiap jalan ke swalayan, itu banyak banget makanan instan yang lainnya. Mungkin karena kita belum pernah coba jadi sangsi kalau mau coba-coba pas di gunungnya. Mangka dari itu, kali ini saya bakalan bikin series makanan instan. Kali aja yekan ada yang mau candle light dinner di gunung. (masa pake emi lodoh doang?!)

IMG_20170811_115538

BAHAN DAN CARA MASAK

Untuk postingan perdana ini saya bakalan review brownies-nya Nutricake. Bahan lain yang kudu disiapin cuman telur satu butir, margarin 100 gram (setengah sachet yang bentuk persegi itu lho) dan air 5 sendok makan. Campur semuanya, dan aduk sampai rata.

Kentelnya langsung pas pake 5 sendok makan air

Kentelnya langsung pas pake 5 sendok makan air

Brownies ini bisa di kukus atau di panggang. Karena saya niatnya buat ide masak di gunung, saya bakalan pakai cara panggang diatas teflon (saya pakai ukuran 20 cm). Kalau kalian ga punya teflon buat naik gunung, kalian bisa pakai nesting juga kok.

Saya pakek teflon 20 cm

Saya pakek teflon 20 cm

KUNCINYA SATU! Pakai api keciiiiil, biar gak gosong dan biar matangnya merata. Cara ngecek uda mateng apa belum, tinggal tusuk pakai garpu. Kalau garpunya bersih, itu uda mateng. Kalau di garpu masih ada tertinggal adonan, tungguin lagi sampe mateng. Kemaren ngetes di rumah si ini bisa mateng sekitar 20 menitan.

Apinya lebih kecil dari ini yaa, soalnya saya pake segini jadi agak cepet gosong

Apinya lebih kecil dari ini yaa, soalnya saya pake segini jadi agak cepet gosong

RASANYA KAYAK GIMANA SIH?

Awalnya nggak expect yang muluk-muluk, taunya pas uda jadi ini enak banget loh!. Menurut saya manisnya pas, gak kurang ga lebih. Dan istimewanya ini ada choco chipsnya!, nyoklat juga (nggak rasa coklat abal pokoknya). Nggak ada sensasi milky nya. Pas lah, ibarat kata ini brownies versi original. Jadi kalau kalian suka sensasi creamy, milky, kalian bisa pakein susu kental manis pas udah mateng, atau taburan keju.

Ajib yah! teflon doang padahal.

Ajib yah! teflon doang padahal.

Tekstur? moist gitu, nggak bikin seret atau enek.  Satu porsi ini menurut saya idealnya cukup untuk 3 orang. Cucok dinikmati bareng kopi. (aduh jadi kangen kemping!).

Desainnya eye-catching, plastiknya tebel, aman buat travelling

moist dan manisnya pas!

ABIS BERAPA?

Harga per-Agustus 2017
Nutricake 230 gram Rp. 12.500,-
Telur satu butir katakanlah Rp. 1.500,-
Margarin setengah sachet Rp. 3.000,-.

Total Rp. 17.000,- saja sodara-sodara!

Lumayanlah, kalau mau mevvah-mevvah-an di gunung. Meskipun emang kalo udah treking tiga jam mah, biskuit togo juga abis-abis aja.

Intinya, recommended!

Nilai : 4.5/5

 

Depok, 12 Agustus 2017

 

 

[Review] Pengalaman Menjadi Freelancer via Projects.co.id

Gambar diatas adalah screenshot honor yang saya dapatkan untuk penulisan artikel dengan tema Lifestyle di cintaihidup.com, kok bisa?

Pernah punya niat untuk dapat uang tambahan dari online? lewat menulis? mungkin pengalaman saya ini bisa menjadi salah satu jawabannya. Sebagai seorang ibu yang sedang mempersiapkan kelahiran alias cuti kerja. Saya beruntung mendapatkan informasi adanya sebuah platform marketplace yang bisa mempertemukan saya dengan pemberi kerja.

Apalagi, pekerjaan itu berkaitan dunia tulis menulis. Tanpa ragu saya langsung register untuk menjadi membernya. Marketplace itu bernama projects.co.id. Awalnya saya sempat meragukan apakah saya benar-benar akan mendapatkan pekerjaan dari sini. Soalnya pernah juga punya pengalaman yang sama di situs serupa. Tapi, beberapa kali saya apply penawaran kerja, selalu saja “kalah” bid dari pesaing.

Tepatnya sehari setelah saya membuat keanggotaan dan apply beberapa penawaran menulis, akhirnya saya berhasil mendapatkan dua project. Masing-masing saya diminta untuk menulis artikel berjumlah 900 kata keatas. Keduanya menuntut saya untuk rajin-rajin riset konten supaya tidak ditemukan “unoriginal text” alias kalimat copas-an, meskipun hanya satu kalimat.

Rasanya? Wow sekali. Bagi saya yang baru ini, tantangan menjadi seorang creative content ternyata sangat-sangat membuat degdegan. Meskipun target saya itu hanya diminta dua judul perhari. Tapi percayalah, ini sama sulitnya dengan membuat abstraksi tesis. Biasanya saya menulis sesuai dengan mood, atau lebih parah… saya menulis kalau saya ingat!. Bersyukur saya jadi terpacu untuk bisa memproduksi tulisan yang tidak hanya mementingkan diri sendiri, tapi juga para pembaca.

Saya juga menemukan momen dimana menulis itu sebagai kegiatan profesional yang benar-benar menjanjikan. Saya jadi ingat resolusi untuk bisa berkomitmen menulis minimal sehari satu tulisan. Dan kini, berkat projects.co.id saya (mulai) meniti komitmen itu.

Pekerjaan yang Saya Dapatkan dari Projects.co.id

Berikut saya tambilkan salah satu pekerjaan yang saya dapatkan dari projects.co.id.

SS-projectscoid

 

Pada project ini, saya diminta untuk membuat artikel bertema psikologi. Si Owner (pemberi kerja) memberikan kata kunci untuk tulisan yang saya buat. Kata kunci diberikan satu per satu secara bertahap. Setelah dianggap ok, tulisan akan di publish di website (www.dosenpsikologi.com). Kemudian owner melanjutkan pemberian tugas kepada saya.

Berikut penilaian saya selama (baru semingguan) menggunakan projects.co.id

  1. Tampilan portal sangat user-friendly.
  2. Bahasa yang digunakan mudah dimengerti.
  3. Mudah untuk menjelajah pekerjaan yang ditawarkan.
  4. Format sangat lengkap sehingga kita sebagai pencari kerja akan mudah sekali melihat detail pekerjaan yang ditawarkan.
  5. Menggunakan rekening bersama sehingga terjamin dari segala bentuk kecurangan.
  6. Ada fitur chat untuk bisa komunikasi cepat dengan si pemberi kerja.
  7. Ada notifikasi via sms untuk setiap bid yang kita dapatkan.
  8. Ketika kita “kalah” bid, akan masuk informasi ke email kita. Kita juga bisa tahu, berapa dan siapa yang akhirnya memenangkan pekerjaan tersebut.
  9. Tersedia tips-tips yang sangat bermanfaat. Misalnya supaya kita bisa mendapatkan project, supaya terhindar dari penipuan, tips optimasi profil kita supaya agar meningkatkan kesempatan mendapatkan pekerjaan dll.
  10. Mudah untuk menarik dana dari sistem ke rekening kita. Verifikasi melalui nomor telepon yang kita daftarkan di projects.co.id.
  11. Tidak ada biaya transfer tambahan untuk bank tertentu. (saya pakai BCA, daftar bank lain yang tidak dikurangi biaya transfer antara lain : BNI, BNI Syari’ah, Mandiri dan CIMB Niaga. Selain dari itu, biaya dipotong Rp. 7.500 per sekali penarikan.

Kira-kira segitu dulu ulasan pengalaman saya menggunakan projects.co.id yang so far so good. Semoga bisa bermanfaat buat teman-teman semua. 🙂

 

Silmina Ulfah | Bumiayu, 10 April 2017

[Review] Nyobain Ramen dan Sushi-nya Tanoshii (Depok)

Kadang kita harus hati-hati sama mata kita. Cuma gara-gara nonton What Owning a Ramen Restaurant in Japan is Like di Youtube, suami jadi ngiler dan kepingin makan ramen. Hari sudah gelap pula, mata juga hampir kiyep-kiyep karena seharian sudah beraktifitas diluar sampai sore. Kadang saya bingung, kenapa saya yang hamil tapi dianya yang “ngidaman”.

Anyway, gara-gara ragu sama review dari zomato, akhirnya saya minta rekomen dari beberapa temen saya yang suka icip-icip aneka makanan alias doyan makan.  Oh kalau di resto “DBK” biasa aja kayak mie instan, kalo di “TKR” hambar juga kayak mie instan, kalau yang paling lumayan sih di Tanoshii, kata temen saya. Yaudah abis itu saya nelpon buat nanyain buka sampe jam berapa. ternyata kedai ramen ini tutup jam setengah 10 malam.

Fix, abis suami pulang isya-an kita cus ke Tanoshii. Padahal gerimis-gerimis kecil ituh. Kan maen dah, langkah tiada gentar. Saya sendiri jadi mikirin besok-besok berarti kudu makin ketat pengeluaran, nggak ada hengot-hengot lagi >,< . (dasar emak-emak!).

Tanoshii Ramen & Donburi

Sampai di Tanoshii kita jadi satu-satunya pelanggan. Tanoshii ini bentuknya ruko tiga lantai yang gabung sama studio58 (studio musik). Suasana temaram karena lampu yang dipake warna kekuningan, saya sendiri sukanya yang begini, nggak silau. Bangku-meja kayu sederhana (nggak ada bantalannya buat duduk, jadi ga betah lama-lama saya 😛 ). Pas masuk berasa suasana jepangnya, musik lagu-lagu jepang. Hiasan dinding gambar sketsa komik ala-ala jepang gitu. Untuk fasilitas lain, ada toilet yang lumayan bersih (baca : nggak bau) dan juga ada free wifi.

Pas buka daftar menu, saya seneng karena menu-menunya ada foto masakannya, jadi kebayang makanannya kayak apa, ada penjelasannya juga di tiap menunya. Untuk ukuran sushi ramen, cenderung terjangkau harganya.

Yang kocak, suami malah milih sushi (bukannya daritadi pengen makan ramen -,-” ??). Tapi yasudah, akhirnya dia pilih Tobiko Roll dan saya pilih Beef Spicy Ramen. Dan tetiba kepengin es krim matcha (dalem hati, ah paling eskrimnya biasa aja, gak apa-apalah, cuma lima belas ribu ini). Sama untuk minum kita pesen teh panas. (pesen minum cuma satu karena saya bawa botol minum).

Pesanan Datang!

Nggak lama kemudian, datenglah itu es krim sama teh panas. Saya girang banget karena isinya ada dua scope dan dari warnanya kebayang itu pasti teh ijonya berasa. Teh panas juga disuguhkan, saya suka sama gelas keramik-nya (pengen bawa pulang).

Matcha Ice Cream

Pas kita nyobain…., bener ternyata! esgrimnya enak banget! matchanya berasa banget, pengalaman pernah beli eskrim matcha malah banyakan rasa susu-nya. Tapi ini beda, teksturnya agak padat dan aromanya sedap! Kami syuka sekalih!. Ini pas makanan kita udah abis, kita pesen satu porsi lagi. (iya..kita doyan!). Nilai 4.5/5!

Matcha Ice Cream Tanoshii

Matcha Ice Cream Tanoshii

Tobiko Roll

Pas dateng, doeng!.. agak kaget karena sizenya piyik-piyik ketimbang resto sushi yang di “STMBT” sama di “TKR”. Dalem hati berbisik, ini mah mana kenyang!. Isinya ada delapan potong. Disajikan bersama jahe merah, wasabi dalam wadah piring keramik. Pas dicobain, Waakk.. ini entah emang karena udah lama nggak makan sushi apa gimana, ini enak!. Terakhir nyoba di warung “STMBT” yang deket stasiun pocin itu, cuma kayak nasi di kepel-kepel trus dikasih ikan aja soalnya. Kali ini saya angkat jempol untuk sushi seharga 27.000-an ini. Ternyata ukurannya pas yah di mulut, jadi ngunyahnya juga enak. Nggak kudu megap-megap gimana gitu kan jadinya. Luarnya ada telur ikan dan mayo, dalemnya ada krenyes-krenyesnya.  Nilai 3.75/5!

Tobiko Roll Sushi

Tobiko Roll Sushi

Beef Spicy Ramen

Saya nggak pernah nyobain tekstur mie Ramen yang asli kayak gimana. Perasaan lidah saya untuk tekstur mie-nya sih seperti mie biasa saja. Kenyalnya kayak mie instan gitu, cuma ukurannya aja lebih gede sedikit. Tapi keistimewaan ramen ini ada di kuahnya!. Iya kuahnya itu sedep, kentel dan berasa spicy-nya. Ketimbang ramen yang ada di resto “GKNTPN” di dmall itu, ini jelas jadi juaranya. Pernah juga nyobain ramen di resto “TKR”, itu malah hambar ama aroma langu rumput lautnya mengganggu. Meh.

Beefnya empuk, penyajian menarik!. Saya kasih nilai 3.75/5!

Spicy Beef Ramen

Spicy Beef Ramen

Karena masih berasa laper dan penasaran, kita pesen satu menu lagi yaitu Crispy Roll.

Rasanya?, kalau dibanding Tobiko, ini lebih unik lagi karena ada diatas sushinya ada kulit salmonnya yang crispy. Pertama liat sih, salmonnya yang silver-silver ini mirip sama alumunium foil wkwk. Pas dicobain kok ya nagih gitu. Kayaknya saya sanggup makan tiga piring!. Bentuk juga sama, masih piyik-piyik, cuma saya bener-bener  kehibur sama rasanya 😀 . Saya kasih nilai 3.8/5!

Crispy Roll Sushi

Crispy Roll Sushi

Saya cukup puas nongkrong di mari. Abis makan, kami bahagia. Nggak begah, nggak kurang juga. Passs. Juga karena kocek yang kirain bisa sampe dua ratus ribu ternyata  nggak sampe segitu. Yepp, kita ngabisin seratus dua puluh tujuh ribu sajah sodara-sodara!. Tanoshii,  meskipun kamu keliatannya sepi, pokoknya kamu jangan tutup ya!.

Pas kita mau pulang, juga udah ada beberapa meja lain yang terisi pelanggan. Keduanya terdiri dari ibu-ayah-anak, saya liat orderannya itu donburii gitu, saya jadi penasaran juga. Kapan-kapan saya mau coba Donburii-nya juga ah!.

Silmina Ulfah | Depok, 2 April 2017