Jika Karena Yang

Jika kita menjadi masa depan
Karena kita hidup pada sekarang
Yang akan menjadi masa belakang
Maukah kau ciptakan yang tak lekang?

Jika kita memang bilang ingin menang
Karena kita hidup dalam kekalahan
Yang menjadi bulan-bulanan
Maukah kau selalu mengangkat tangan?

Jika kita memang ingin pulang
Karena segala sesuatu rupa ini akan dibinasakan
Yang menjadi kenangan
Maukah kau saling mengingatkan dalam iman?

Dari manusia yang masih panjang angan
Depok, 25 Juni 2015

Puisi Tidak Nyambung

Semalam aku bermimpi berkeliling kota dengan menaiki balon udara,
Bahagia? tentu bahagia.

Tapi aku sudah belajar untuk menjadi dewasa
Salah satunya adalah bersiap siaga seandainya apa yang menjadi harapan tidak menjadi nyata

Ai, tiba-tiba aku ingin sekali bisa baca pikiran dan hati manusia.
Sekarang, ya sekarang juga

Depok, 24 Juni 2015 – Depok

Inabah, Allah.

Mampukan setiap langkah dan keputusan hamba adalah langkah Inabah.
Langkah yang yang membuat hamba mendekat kepadaMu

Jadikan segala cinta adalah cinta kepadaMu
Jadikan segala rasa ingin memiliki adalah memiliki kasih sayangMu
Jadikan segala rasa rindu hanyalah rindu kepada akhirat

Anugerahkan kepada hamba rasa takut daripada berbuat maksiat
Gentarkan langkah dan hati hamba untuk selalu takut kepadaMu
Perkenankan kepada hamba hati yang selalu mencariMu

Inabah, Allah

23 Juni 2015
4.30 WIB

Degradasi Iman atau Bukan?

Apa ini namanya degradasi iman, Tuhan?
Menurun tajam, dari 10 lembar ke 5 lembar seharian
Mengucap melagukan tentang keduniawian.
Tertinggal pelajaran dan harus menunggu kembali antrian

Ini Ramadhan, tapi tak sesemarak beberapa tahun belakangan
Apa ini namanya degradasi iman, Tuhan?
Haus lapar, sudah biasa Tuhan
Kali ini ada hal yang tertahan, mengganjal, Aku rindui Engkau Tuhan. Saat sekarang.

Apa ini tanda iman terkikis Tuhan?
Ketika apa yang ada disekitar lingkungan, mengatakan bahwa semua harus dipublikasikan?
Sebagian mencibir seharusnya dirahasiakan?
Memang Tuhan, tiada ruwet melainkan kami sendiri yang ciptakan.

Lelah dan jemu Tuhan, berpura-pura kenal Tuhan, padahal hati merangkak meraba mana yang jalan mana yang jurang. Itu saja masih jua dipermasalahkan.
Apa ini tanda hamba akan kafir, Tuhan?
Tulisan ini pun mungkin Tuhan, akan kembali dinamakan pencitraan

Tuhan, ini RamadhanMu, bulan paling terang dari segala bulan
Ini RamadhanMu yang didalamnya segala pengampunan dan keberkahan
Dengan segala kebersahajaan dan pengharapan
Serta dengan sejuta cerita tentang kisah manusia-manusia taat yang namanya tidak kikis oleh zaman

Ini RamadhanMu yang masih Kau karuniakan kepadaku Tuhan
Naungi kebodohan, ampuni kesalahan
Semoga iman islam masih Kau perkenankan

Tapi Biar

Tak pandai aku berpuisi
Tapi biar, karena tak kan kupaksa untuk mengerti
Dan entah sudah berapa detik berbunyi
Disitu namamu selalu bersembunyi

Tak pandai aku memuji
Tapi biar, supaya tak jadi tinggi hati
Dan entah sudah berapa hari berlari
Disitu suaramu seperti menetap tak mau pergi

Apa aku harus menetap saja disini?
Atau?
Bagaimana ini?

Mau Sepi Dulu Har(t)i Ini

Hatiku perlu sejenak sepi agar bisa meresapi.
Kurang menyenangkan memang, tapi bisa apalagi?
Dari pada berselimut harap menanti
Lebih baik sejenak jeda agar tidak terlampau sakit hati

Tak apa sakit hati memang
Dari sanalah kau akan mampu pahami arti menang
Mengalahkan ingin yang melelahkan
Yang tidak pernah habis dikejar sepanjang jalan

Hari ini perlu sepi
Besok juga mungkin harus sepi
Seterusnya juga mungkin harus begini
Menurutmu bagaimana?

Tapi tapi dan tapi
Semua-muanya beranak pinak saling mencari
Menerka-nerka apa bisa kita bisa saling mencari?
Lebih baik aku baca-baca saja histori

Depok Berawan Abu Saat Ini.

#Day 25 : Kerumunan

Aku pergi menjauhi kerumunan dimana orang lain berlomba mencari bahagia dan makna disana, menuju kerumunan yang lebih sedikit, dengan berniat mencari tujuan yang tauhid.

Aku pergi menjauh dari kerumunan dimana mereka saling bicara betapa peduli mereka pada negara dan alam raya, menuju kerumunan yang lebih sedikit yang saling ingatkan sabar dan istiqomah pada segala daya upaya yang sudah tercurah.

#Day 19 : Lega

Dari pada hidup dalam lingkup pertanyaan

Mengapa tidak ditanyakan

Lupakan rasa rendah dan kegengsian

Karena itu bukan jawaban

Manusia, ingin hidup dalam ketentraman

Tapi terlalu merasa mampu hingga merasa tidak perlu mempertanyakan

Tanyakan apa yang kau risaukan

Pinta pada Tuhan, agar segalanya menjadi keberkahan

Lalu ikhlaskan segala jawaban

Dan berbahagialah jalan ke depan

#Day 16 : Buat Apa Sekolah Tinggi-Tinggi?

 

Kelas Inspirasi Depok - 2013

Kelas Inspirasi Depok – 2013

Buat apa sekolah tinggi-tinggi
Kalau tidak jadi pemberani
Semakin tinggi semakin takut melawan tirani
Kerjapun hanya memikirkan gaji

Buat apa sekolah tinggi-tinggi
Kalau rupa-rupanya hanya ingin buat iri
Ilmunya dikemanakan, ia tidak peduli
Yang penting aman diri sendiri

Buat apa sekolah tinggi-tinggi
Kalau yang diingini hanyalah isi duniawi
Ingin disegani
Tapi takut mati

Buat apa sekolah tinggi-tinggi
Kalau hanya untuk diakui
Menjilat sana sini
Karena takut ditinggal pergi

Buat apa sekolah tinggi-tinggi
Kalau hanya pintar sendiri
Kau bilang belum sempat berbagi
Sambil beralasan dengan merendahkan diri

Buat apa sekolah tinggi-tinggi
Jika pada akhirnya tak kenal budi pekerti
Guru tak dihargai, orang tua dikelabui
Nilai kurang tinggal beli

Buat apa?

 

 

 

 

#Day 12 : Laa Tahzan

Dan yang membuatmu bertahan adalah kasih sayang Tuhan

Yang  membuatmu takut adalah kekhawatiran

Yang membuatmu sakit adalah penyesalan

Yang membuatmu belajar adalah pengalaman

Yang membuatmu menang adalah ketaqwaan

Laa Tahzan, Inallaha Ma’ana.