Bukan Sekedar Tujuan Tuan

Jadi apa tujuanmu pagi ini?, kau tahu? selama hidup ini jika kau tak pernah menanyakan pertanyaan ini kepada hatimu. Sia-sia. Sia-sia hidupmu!. Bahkan tanaman sirih tahu betul ia harus merambat, supaya tidak mati dan layu. Kau…kau manusia, bukan tanaman, harusnya lebih cerdas daripada itu.

Yang membuatmu sulit itu bukannya keinginanmu belum terpenuhi. Tapi karena kau khawatir akan hidup susah hari ini dan nanti. Kau meruwetkan pikiranmu sendiri dengan was-was tak beralasan, itu karena kau tak mengenal tujuan.

Bukan sekedar tujuan tuan, tapi tujuan Tuhan.

Kau mengerti? Ah, seharusnya kau mengerti kawan.

Desas-desus manusia membanjiri pikiranmu. Kau kemudian iku-ikut arus tersebut dengan duduk mendengarkan, sesekali memberikan komentar asal. Kubilang, tinggalkan. Sebelum nanti kau menyesal karena kau tahu kondisinya akan semakin menyeramkan. Tinggalkan desas-desus itu sebelum kau menyesal karena tidak ada yang kau bisa harapkan selain pertolongan Tuhan. Atau lebih parah, tinggalkan sekarang, sebelum kau mempertanyakan kekuasaan Tuhan.

©SILMINA ULFAH | BUMIAYU, 12 APRIL 2017

Belantara Tanda Tanya

Belantara tanda tanya

Mengapa mimpi ada jika nyatanya tak bisa menjadi nyata?

Jika memang begitu, benarlah adanya bahwa kau adalah kenyataan yang tiada

Tak cukup cinta, tak cukup dengan bertanya, maunya bagaimana.

 

Dalam belantara tanda tanya

Kukerjakan segala rupa agar kita agak serupa

Jika sudah begitu, sudah memang beda itu sebuah kewajaran paling ada

Tak perlu gulana, cukup terus berdoa, maunya bagaimana

 

Depok, 6 Februari 2016

 

 

 

Tanda Kehidupan

Kita selalu punya ruang untuk berbincang. Dalam doa yang terucap diatas sajadah pada malam panjang. Dalam tengadah, bermohon pada Sang Maha Penyayang.

Kita selalu dapat berinteraksi walaupun dalam dimensi sepi. Dalam syair yang teruntai dari suci hati. Doa itu berbunyi, agar kehidupan kita ini senantiasa diberkahi.

Bukankah air mata itu tanda kehidupan. Bahwa memang, hati masih memiliki perasaan?

Depok, 5 Februari 2016

Ada Yang Kurang

“Kau sudah tahu polanya, untuk menyembuhkanmu, kau tahu kau tidak butuh obat dan dokter”

“Ya aku tahu itu, aku hanya perlu tidur”

“Ada yang kurang”

“Ya, aku perlu merapikan ibadahku”

“Adalagi”

“Ya aku harus lebih peduli dengan diriku sendiri”

“Semoga Allah mengampuni kita”

“Aamiin”

 

4 November 2015, 1.26 am

Kau, yang Perkasa

Hutan pinus
Aku menatap tanah
Memandang langit
Begitu terus bergantian

Kunang-kunang berkeliaran
Suara gemerisik daun kering
Sesahutan para insekta
Dan semilir angin dingin

Aku menemukan diriku yang berbeda
Tidak peduli dengan dunia kota
Menemukan rasa takjub karena kejujuran yang hutan ajarkan
Merasakan selemah-lemahnya rasa dari curamnya langkah

Aku menemukan diriku yang lain
Yang merindukan rasa ingin sendirian bersama alam
Perasaan magis yang membuat air mata,
Mencari muaranya

Nafasku menjadi permohonan ampun padaNya
Letihku menjadi pengakuan keperkasaanNya
Tangisku menjadi rasa syukur yang tiada terkira
Sakitku menjadi perasaan hina dihadapanNya

Tuhan, mahlukmu ini, memang bukan apa-apa

 

Depok, 3 Desember 2015

Kita Sama-Sama Belajar

Kita sama-sama belajar
Belajar menginginkan dengan cara yang benar
Belajar menyayangi dengan kebaikan
Belajar mencintai dengan doa yang diuntaikan

Kita sama-sama belajar
Untuk bisa menjadi manusia pembelajar
Manusia, kau dan aku punya segudang kesalahan
Sekarang dan kedepan, kita betulkan

Kita sama-sama belajar
Bukan untuk menjadi merasa paling benar
Mari, saling ingatkan dalam kesabaran
Melibatkan Tuhan dalam segala lini kehidupan

 

Depok, 1 Desember 2015

Ah, Kamu.

Digenggam, dilepaskan dengan tali ikatan, bebas menarik kapan saja karena tahu, dibagian sana biasanya akan selalu merespon, apa-apa yang dikirimkannya. Janganlah kau uji manusia sedemikian berat, kau tidak tahu apa yang saat ini sedang ia perjuangkan dalam hidupnya, tidak berat-berat amat mungkin bagimu. Tapi baginya, seolah berdiri ditepian jurang yang dibawahnya ada kolam piranha dan masa lalu yang tidak mengasyikkan.

Bisa jadi, dia sudah rela lapar. Barangkali, dia sudah mengupayakan yang terbaik untuk bisa menghadiahkanmu dengan benda-benda murahan yang dibeli dengan sekuras tenaga.

Ah, manusia. Kau sudah menggenggamnya, kau tahu dia punya maaf yang besarnya melebihi cintanya.

Depok, 28 November 2015

Monolog : Sakit

“Bisa saja kutulis segala rupa kosa kata paling kasar dan menyakitkan hati. Tak kulakukan. Sesederhana, karena itu artinya aku menikam hatiku sendiri. Amboi, betapa pilu.”

“Ya sudah, lupakanlah.”

“Ah, seharusnya kau tak kuajak bicara, bisakah sesekali kau hanya mendengarkan? tak usah komentar!”

“Benar-benar marah rupanya?”

“Tak usah bertanya.”

“Tadi tak boleh komentar, sekarang tak boleh bertanya. Kalau kata Gus Muh, “Aku harus bagaimana?””

“Kau ini, benar-benar!”

“Kata anak jaman sekarang, kau hanya perlu liburan.”

“Aku bukan anak alay!!”

“Tapi gelagatmu… lagipula kau sangat alamiah”

“Sialan!”

“Nah, kadang kau cantik kalau sedang marah”

“Kubalas kau nanti, aku sedang tak berselera menambah jumlah musuh”

“Tak akan kau lakukan, sudah, sana, istirahat”

“Kadang aku berdoa, supaya aku berhenti berbincang dengan diriku sendiri”

“Hahaha, hati-hati, nanti malah kebalikannya. Kau akan beranak pinak, pasti seru, pasti gaduh”

“Gawat, bisa porak-poranda pikiranku”

 

13 Oktober 2015

7,2 Juta Detik

Apa kabar tulisan? Apa disana ada yang merindukan? 

Kita ini sudah 7,2 juta detik saling kenal. Sebanyak detik itu pula, dalam sadar dan tidak sadar kita berkomunikasi. Dalam bentuk saling bersahutan, bincang dalam impian, atau dalam bentuk doa-doa untuk masa mendatang. KIta tidak pernah berniat saling mencari awalnya, padahal.

Apakah kita dipertemukan akibat doa-doa yang sudah kita panjatkan? Atau dipertemukan karena ketidaksengajaan penentuan keputusan? Atau bahkan, karena kebingungan?

Entahlah.

Yang jelas disini aku sepeti merasakan sesuatu yang mungkin banyak orang beri nama “Sayang”.

Depok, 29 Agustus 2015

Belum Pernah

Aku belum pernah mengenal orang yang lebih buruk daripada diriku sendiri
Mereka bilang, orang-orang yang buruk itu adalah mereka yang tidak mengenal Tuhan
Tidak menyertakan Tuhan kedalam setiap gerak langkahnya, pemikirannya
Lalu aku, masih bermaksiat bahkan sembari mengingatNya
Berharapkan Tuhan memaafkan apa yang kulakukan

Tuhan, seperti apakah tempat untuk manusia seperti aku kelak?
Tuhan, ampunkan.

Depok, 26 Juli 2015