Pernikahan : Memaknai Kembali Arti Sebuah Rumah

Sumber Gambar dailymotion.com

Sumber Gambar dailymotion.com

[Pernikahan]. Kadang kita terlalu banyak memikirkan hal-hal yang sifatnya hanya sebatas penambahan nilai estetik. Bukan lagi memikirkan yang fungsional memang benar-benar saat ini sedang kita butuhkan dalam keseharian hidup kita.

Kalau dipikir-pikir, selama setelah menikah, saya dipusingkan dengan pikiran untuk segera bisa membeli sebuah rumah untuk keluarga baru kami. Setiap ada brosur dan iklan yang bergelimangan, saya selalu memutar otak bagaimana bisa memiliki salah satu diantaranya.

Kemudian setelah itu saya akan browsing bagaimana meningkatkan penghasilan untuk pengadaan uang muka rumah tersebut. Dengan tergesa-gesa karena seperti dikejar dengan promo-promo yang menggiurkan jika tidak mau kehabisan karena tenggat waktu yang diberikan biasanya tidak lebih dari sebulan. Lalu ditambah dengan bayang-bayang jika terlalu lama, harga akan semakin naik-naik ke puncak gunung. Sungguh melelahkan dan menyisakan kecemasan.

Lalu muncul rasa tidak puas terhadap pencapaian yang sudah didapatkan hingga kini. Dan mulai membandingkan diri dengan kehidupan teman-teman yang ‘terlihat’ lebih hijau karena sudah mampu memiliki rumah sendiri. Lalu muncul prasangka-prasangka yang lama kelamaan perasaan tersebut lebih mirip dengan rasa iri. Kalau bukan karena pertolongan Allah, tentu perasaan iri tersebut sudah menjelma dengki dan sirik. (Naudzubillahimindzalik)

Membaca-baca pengalaman orang lain yang memiliki nasib serupa. Sayapun berangsur-angsur menjadi kalem menghadapi keinginan untuk bersegera memiliki rumah. Dan kecenderungan justru teralihkan dengan keingintahuan tentang bagaimana melakukan perencanaan dan pengelolaan keuangan rumah tangga.

Saya juga terinspirasi dari pengalaman perjuangan orang-orang yang terjerat riba saat melakukan kredit rumah. Mencari-cari tahu tentang bahaya riba. Juga tentang sistem bias yang ditawarkan oleh bank label syariah yang sistemnya ternyata 11-12 dengan bank konvensional. Saya terinspirasi dan tidak ingin terjerumus kedalam perkara yang sama. Semoga Allah tidak menjadikan kami sebagai golongan manusia yang lalai sehingga dengan mudahnya memasukkan perkara yang haram kedalam hidup kami.

Lalu Allah memperingati saya dengan ayat populer ini,

فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Mungkin saja kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak pada sesuatu itu.

(QS. An-Nisa (4) : 19) – Petikan ayat

Ya. Mungkin saja  saya tidak menyukai rasa khawatir ini, padahal pada saat yang sama, Allah sedang menjadikan kebaikan yang banyak pada rasa itu. Bisa jadi, ketika saya memaksakan kehendak saya karena memandang baik kredit bank, Allah akan mengecap saya sebagai hamba yang tidak pandai bersyukur bahkan durhaka. Padahal, kondisi yang sekarang, sungguh Allah sudah memberikan rizqinya sehingga saya jauh dari kata kekurangan apalagi kelaparan.

Apa yang sebetulnya saya kejar? Apa yang sebetulnya saya cari? Apakah karena saya menjadikan bahagia hanya dengan terkabulnya setiap keinginan? Lalu bagaimana jika keinginan-keinginan itu menggiring diri ini kepada jurang dosa? Bagaimana jika keinginan-keinginan itu membuat diri menjadi jauh dari Allah? Apakah tidak nelangsa jika demikian?

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit” (QS. Al An’aam (6) : 125).

Cukuplah dengan lisan yang selalu meminta kepada Allah agar diri senantiasa diberikan petunjuk, sehingga Dia melapangkan dada kita untuk memeluk erat Agama ini (Islam).

Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka akan dipahamkan agamanya. (Imam Bukhori –  Hadits no. 69)

Kesimpulan yang bisa saya tarik dari pemaknaan sebuah rumah, Rumah terbaik adalah rumah yang Allah ridha dengan pemiliknya, sehingga Allah melapangkan segala urusan sehingga pemiliknya bisa hidup dalam naungan Agama dan keberkahan.

Tinggal si pemilik rumah itu yang terus ikhtiar dengan bekal ketaqwaan dipundaknya.

Depok, 20 Januari 2017

Silmina Ulfah

*Pas lagi cari gambar rumah nabi Muhammad SAW, nemu animasi rumah Nabi dalam bentuk 3D di link ini. 

Pernikahan : Keterbatasan Mata Dunia

Seseorang yang kukenal dan tampak tak punya masalah itu, seseorang yang dalam pandangan mataku baik orangnya, sejahtera hidupnya, besar rumahnya, mapan pekerjaannya, pintar anak-anaknya, ternyata masih menyimpan suatu masalah yang mengganjal dalam hatinya, “Suami saya masih belum dekat dengan agama”. Dan hal itu membuat ia gelisah sebagai seorang istri, karena ia berharap bisa mendapatkan bimbingan yang mengantarkan ia kepada Allah. Ia berharap suaminya bukan hanya giat dalam urusan dunia, tapi juga giat dalam mempersiapkan akhiratnya.

Ternyata benar kiranya, bahwa apa yang tampak baik bagi manusia, belum tentu baik di mata Allah.

Saya jadi teringat dengan sebuah hadist yang berbunyi :

Barangsiapa yang Allah kehendaki menjadi baik maka Allah faqihkan dia terhadap agama. Aku hanyalah yang membagi-bagikan sedang Allah yang memberi. Dan senantiasa ummat ini akan tegak diatas perintah Allah, mereka tak akan celaka karena adanya orang-orang yg menyelisihi mereka hingga datang keputusan Allah. [HR. Bukhari No.69].

Sesungguhnya yang baik itu selalu tentang Allah, bukan tentang manusia ataupun keterpenuhan hajat manusia.

Lalu apa itu faqih? Faqih adalah kepahaman. Kepahaman biasanya selalu dibarengi dengan pengamalan nyata atas ilmu-ilmu yang didapat. Karena agama bukanlah ilmu yang hanya harus dihafal, tapi agama adalah sebuah tuntunan tentang cara kita menjalani hidup di dunia ini sesuai dengan Sang Pembuat Kehidupan.

Jika memanglah kelak kita memiliki pasangan hidup yang kita anggap masih kurang ilmu agamanya, janganlah bersedih dan berputus asa. Sesungguhnya Allah maha besar kasih sayangnya, maha luas pemberiannya.

Bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, memintakan segala keinginan kita kepada Allah. Mintakan harapan kita jika memang HANYA hal tersebut adalah perkara yang baik untuk hidup kita di DUNIA dan AKHIRAT.

Mintakan pula kebaikan dan keberkahan dalam setiap untaian doa kita, sesungguh-sungguhnya.

Awali dengan niat yang bersih, dan kawal niat itu sampai akhir. Sungguh Allah maha melihat kesungguhan niat kita. Insya Allah, setelah itu taufik Allah akan tercurahkan kepada siapa saja yang lisan, perbuatan dan pikirannya selalu bermuara kepada-Nya.

Bersabarlah, Allah selalu melihat kesungguhan doa kita yang dibarengi dengan usaha-usaha kita.

Depok, 21 Desember 2016

Tips : Merencanakan Menu Keluarga dan Manajemen Kulkas

Sumber gambar : .quickanddirtytips.com

Sumber gambar : .quickanddirtytips.com

Selama ini kita mungkin mengira bahwa salah satu peran seorang Ibu dalam keluarga adalah menjadi koki atau juru masak keluarga. Maraknya video singkat resep-resep masakan yang beraneka ragam-pun semakin banyak beredar luas di media sosial, ironisnya, kebanyakan dari para ibu mungkin lebih habis menggunakan waktunya untuk menonton satu-per-satu aneka resep yang secara visual sangatlah memanjakan mata ketimbang mempraktekannya. Kemudian ketika kembali ke dapur dalam kehidupan nyata, masih saja banyak ibu-ibu yang kebingungan, besok masak apa ya? atau yang lebih parah lagi, hari ini masak apa ya? (ini mah nyindir diri sendiri 😛 ).

Bahkan beberapa ibu akhirnya menjadi stres untuk urusan perut ini. Ada yang beralasan tidak bisa masak (padahal banyak sekali panduan dengan takaran yang mendetail), atau malas memasak karena terlalu memakan waktu. Belum lagi urusan setelah memasaknya, cucian piring yang berminyak dan kotor pun langsung menunggu untuk diladeni, membuat pekerjaan masak ternyata bukanlah perkara recehan.

Padahal jika ditelisik lebih dalam, akar permasalahannya ternyata satu, Tidak Ada Perencanaan.

Bersyukur sekali saya kepada Allah karena saya diberi kesempatan untuk bisa mengikuti  program Matrikulasi Ibu Profesional yang digagas oleh Ibu Septi Peni Wulandani, yang dalam salah satu materinya dibahas mengenai “Perkembangan Peran Seorang Ibu”. Dalam materi itu dibahas tentang peran Ibu yang selama ini hanya menjadi tukang masak keluarga, maka untuk menjadi seorang Ibu yang profesional, kita harus meng-upgrade diri menjadi seorang perencana menu keluarga.

Saya sendiri merasakan bahwa jika kita hanya mengandalkan mood untuk mempersiapkan makanan untuk keluarga, maka bersiaplah bagi kita untuk mengalami hal-hal sebagai berikut:

  1. Boros uang karena terlalu sering membeli masakan jadi.
  2. Menurunnya skill memasak karena akhirnya sudah terlalu nyaman dengan membeli makanan jadi.
  3. Kecanduan junk food yang beresiko mendatangkan obesitas, kekurangan gizi dan berbagai macam penyakit.
  4. Tidak berselera dan tidak terbiasa makan makanan rumahan (jadi picky kalau sama makanan).
  5. Terputus rantai frasa “Kangen masakan Ibu” alias tidak ada yang ngangenin masakan buatan kita 😛

Setelah riset sana-sini (baca : baca buku Bunda Cekatan dan blogwalking), maka berikut saya rangkum beberapa tips utuk membantu kita untuk meningkatkan peran kita menjadi seorang manajer menu keluarga.

1. Mempersiapkan menu per-10 hari.

Kenapa 10 Hari? patokan ini adalah patokan minimum, alasannya sederhana, supaya tidak mudah bosan dengan jenis menu yang disediakan. Bayangkan saja jika nanti keluarga bosan kalau hari senin makannya sayur bayaaaam terus, kan jadi nggak seru kalau ketebak gitu. Dibuat per sepuluh hari supaya menu masakan selalu surprise 🙂 . Lebih kece kalau misal udah gape banget bikin menu-menu tertentu, kita bisa upgrade satu per satu menu baru untuk kita sisipkan di jadwal kita. Ah, jadi pekerjaan menantang kan kalau gini jadinya?. Oh iya, nggak cuma makanan besar aja ya, kita juga harus siapkan menu-menu kudapan untuk ngurang-ngurangin anggaran jajan di luar.

2. Membuat jadwal belanja dan daftar bahan makanan yang dibutuhkan.

Sumber gambar : thenextweb.com

Sumber gambar : thenextweb.com

Setelah tahu menu-menu yang akan dibuat, kita kemudian mulai membuat daftar bahan-bahan yang diperlukan. Idealnya untuk sayur-sayuran mampu bertahan 3-4 hari, nah kalau sudah, Ibu silahkan mengatur waktunya untuk belanja pekanan atau per 3-4 hari. Ingat ya, selalu bawa catatan belanja ketika ke pasar dan bawa uang secukupnya. Ini demi kesehatan dompet anda, serius. Kalau temen ada juga yang belanjanya per-pekan. Ini sih tergantung menunya juga yang udah kita buat ya.

3. Mengatur isi kulkas dan dapur (Manajemen Kulkas dan Dapur).

Sumber gambar : Sharon Tan

Sumber gambar : Sharon Tan

Nahh, ini nih.. salah satu ilmu yang baru nangkring di kuping, karena selama ini nggak begitu peduli ama bagaimana kita menyimpan makanan di kulkas. Ternyata setelah dievaluasi, emang nggak jarang juga buang bumbu-bumbu yang keburu kering atau busuk di kulkas. Sayur juga, keburu layu sebelum diolah karena nggak ada perencanaan. Asal beli aja pas ke pasar, bermodalkan “Ah kayaknya enak nih kalau masak ini”, atau “Ih tomat seger-seger amat, jadi pengen bikin jus”, berakhir menjadi wacana. Ya Allah, mubazir kan kalau gini. Semoga Allah mengampuni hamba yang suka buang bahan makanan dan makanan sisa.

Untuk mengatur bahan masakan, sebaiknya kita menyiapkan beberapa wadah untuk mengklasifikasikan bahan masakan.

  1. Untuk sayuran, siapkan  beberapa kotak makan yang kita isi dengan bahan sayuran sekali masak yang sudah dicuci bersih dan sudah ditiriskan. Dengan begini, sayuran akan terjaga kesegarannya. Jangan lupa bersihkan bagian-bagian sayuran yang sudah membusuk agar tidak menyebar ke yang lainnya.
  2. Untuk daging-ikan-ayam, cuci bersih dan letakkan dalam wadah tertutup. Naronya di freezer ya. Untuk nugget-nuggetan apa sosis-sosis gitu, kalau sudah dibuka plastiknya, simpan dalam kondisi tertutup supaya nggak bikin kulkas bau.
  3. Siapin bumbu karena saya udah buktiin kalau masak jadi lebih cepet banget ketika bumbu-bumbu sudah tersedia. Lumayan kan saving barang 10 menitan pas lagi masak. Kupas kulit bawang-bawangan, cuci bersih, keringkan, masukkan kedalam wadah. Untuk cabe, segera buang bagian-bagian kalau ada yang busuk. Ini bisa sih dijadiin dalam satu kotak makan gitu. Kita bisa prepare tiap pekan untuk bumbu-bumbu ini. Lebih asoy lagi kalau ibu bikin bumbu-bumbu dasar sendiri. Bumbu putih, bumbu kuning dan bumbu merah. Beuh, ini mah ntar tinggal cemplang-cemplung aja kayak abang nasi goreng liwat.

Begitulah tips yang saya rangkum dari berbagai sumber. Disini diperlukan komitmen para ibu untuk disiplin dengan perencanaan yang sudah dibuat. Untuk menjadi ahli, kita harus mengasah jam terbang kita, kalau mau ngaktifin kebiasaan kita menjadi sebuah habits, paling nggak kita kudu konsisten untuk melakukannya dalam 90 hari. Insya Allah, dengan begitu kedepannya kita akan bisa mencapai target-target menjadi Ibu Profesional yang lebih menantang lagi. Misalnya aja, setelah mahir mengatur menu, jadwal belanja dan mengatur kulkas, kita bisa mengembangkan kemampuan kita untuk benar-benar memperhitungkan asupan gizi keluarga. Masyaa Allah, semoga kebaikan yang kita upayakan ini adalah bentuk konkret kita menjalani peran Ibu yang Allah amanahkan kepada kita.

Ingatlah ketika letih dan jengah menghampiri saat kita kerjakan semua itu, ada karunia  dan ridho dari Allah sebagai gantinya. Karena yakinlah, menjalani amanah adalah ibadah.

Salam Pengabdian.

Depok, 212-2016

Referensi :

  1. Manajemen Kulkas Bersih Hemat Sehat
  2. Bunda Cekatan : 12 Ilmu Dasar Manajemen Rumah Tangga
  3. Tips Manajemen Dapur Untuk Ibu Sibuk