Cerita Pengalaman Menyapih Anak Pertama

IMG_20190522_020707_908

Menyapih Dhuha (Bagian 1)

Bagi sebagian ibu ada yang sangat mudah untuk bisa menyapih anaknya. Alhamdulillahnya, saya termasuk yang satunya lagi, alias perlu ‘usaha’ banget ūüėÜ.

Wajar ya kayaknya. Lha wong dari lahir itu uda jadi kebiasaannya. Untuk dhuha, berarti sudah lebih dari 700 hari tidur itu harus dengan menyusu.

Mengubah kebiasaan, tentu harus pake cara yang nggak biasa. Selain itu ya kudu disiplin (baca: tega).

Semingguan ini Dhuha berhasil tidur tanpa menyusu dan kali ini saya ingin berbagi pengalaman. Semoga bermanfaat.

Sebelum ngomongin teknisnya gimana, ini beberapa hal yang harus dipersiapkan.

1. Minta pertolongan Allah
Wajib. Yang kasih perintah menyusui Allah, yang kasih petunjuk menyapih 2 tahun juga Allah. Minta pertolongan supaya lancar prosesnya. Ngurangin stres pas ngadepin momen anak histeris minta nyusu.

2. Kerja sama dengan suami
Minta bantuan bapaknya dhuha buat gendong atau nimang-nimang sebelum tidur malam. Awalnya susah, ga mau tidur, rewel. Lama-lama bisa juga. Dari yang durasi gendong hampir sejam, sekarang cuma 15 menit.

Kerja sama juga dalam bentuk motivasi soalnya kadang emaknya ini yang uda cepet nyerah apalagi pas fisik uda capek plus ngantuk, bawaannya pengen nyusuin aja biar anak cepet tidur.

3. Sounding secara intensif sebulan sebelumnya
Sejak hamil keliatan gede, mulai sounding bahwa di dalam perut emaknya ada dede bayi dan ngasi tau kalau nanti bakal nyusu kayak Dhuha.

Nah pas Lubna uda lahir, hampir setiap hari bilang gini: “NANTI DHUHA DUA TAHUN, NYUSUNYA SELESAI YA..”

4. Menitipkan Dhuha beberapa hari ke teman
Ada teman yang menawarkan diri kalau dhuha dititipkan dirumahnya. Berhubung anaknya beliau emang udah sering main dan seneng sama Dhuha, yasudah akhirnya coba nitip. Alhamdulillah berhasil tanpa drama.

Dhuha pernah tiga kali nitip dengan empat teman.
3 malam, semalam dan yang terakhir 4 malam dengan dua orang berbeda. Semuanya aman memang karena teman juga punya anak-anak yang akrab sama dhuha.

Ini emaknya sempet bertanya-tanya, lha kok kalau dititip malah nggak pernah rewel sebelum tidur. Kalau malam sih katanya kebangun, mungkin nyariin tapi cuma ditepuk-tepuk langsung tidur lagi.

IMG_20190520_142232_882
TEKNIS MENYAPIH ALA SAYA

1. Tidur Siang

Teknisnya, pas sesi tidur siang. Sebelumnya dikasih makan dulu yang cukup, sekitaran jam 12 siang kalau uda keliatan keringetan dan nguap-nguap, saya pangku miring dia kayak mau nyusuin sambil ditimang-timang.

Awalnya mah ngamuk-ngamuk, ada kali sejam nangis kejer minta nyusu. Nggak saya kasih. Yah ini berlangsung 2 hari. Kemarin sempat nyerah, tapi ya gimana, inget over supply ASI, kasihan juga Lubna jadi seringnya dapat foremilk (kembung mulu jadinya).

Hari ke tiga, tidur siang makin gampang dan sebentar mangkunya 10-15 menit. Malah di hari ke tiga emaknya yang tau-tau matanya basah, mangku sambil lihatin anak pules. “Nak, udah dua tahun aja, kok malah umi yang kangen nyusuin yah”.

Kalau dipangku ga tidur-tidur, biasanya saya ajak main lagi dan nunggu dia kelihatan ngantuk. Yah, kalo lagi berlebih tenaga, gendong sampe merem.

2. Tidur Malam

Kalau tidur malam, hampir seminggu ini jadi kerjaan bapaknya. Caranya ya gendong sampai tidur. Awal-awal susah dan nangis-nangis parah, nunjuk-nunjuk ke uminya minta nyusu.

Akhirnya dibawa menjauh biar ga mupeng pas uminya nyusuin Lubna. Pas uda pules baru deh taruh di kasur.

Hari ke tujuh malah makin gampang, taruh do kasur, pukpuk sama bapaknya. Bapaknya udah merem duluan, anaknya gegoleran agak lama trus merem sendiri. Yah paling nggak uda ga teriak-teriak lagi.

Buat pejuang WWL di luaran sana, semangat ya!
.
#menyapihdhuha
#menyapihdengancinta

 

 

 

 

Dimensi Baru, Menjadi Ibu (Bagian Satu)

24 hari lalu, seorang bayi perempuan lahir dari rahim saya. Ya, belum genap setahun saya beradaptasi menjadi seorang istri, kini bertambah lagi status baru saya, menjadi seorang ibu. Satu tangga kehidupan harus dinaiki lebih tinggi lagi, satu amanah dan dimensi baru harus diselami betul-betul. Bukan pekerjaan sambilan, apalagi selingan.

Namanya Daniya Arijidhuha. Sejak tahu akan mendapatkan anak perempuan, ayahnya langsung menyebutkan nama ini. Belakangan ternyata, ia bercerita bahwa ia tipikal orang yang menyukai untuk mengingat hal-hal tertentu yang ingin selamanya ia kenang, termasuk ibu saya. Ya, ibu saya bernama Dani. Kalau dipikir-pikir, suku kata “ya” bisa saja dihubung-hubungkan dengan suku awal nama pak suami.

Bayi perempuan kami lahir pada tanggal 13 Mei 2017, 6 hari melewati HPL yang diinfokan dokter. Menjelang 7 Mei 2017, gelombang cinta itu belum juga muncul. Dengan berbekal ilmu seadanya, saya hanya memperbanyak doa dan gerak supaya memicu janin untuk menemukan jalan lahirnya. Saya perbanyak pergerakan saya dengan berkunjung kerumah sepupu, bahkan mengambil resiko tinggi dengan mengendarai motor matic dan membonceng sang sepupu.

Keesokannya, saya diajak berjalan-jalan (literally, jalan-jalan) ke Purwokerto. Gempor bukan main. Disini saya mulai merasakan ngilu-ngilu di bagian bawah perut saya. Mungkin saat itu kepala janin menyenggol-nyenggol panggul. Tepat hari Jumat, saya berjalan pagi sejauh kurang lebih satu setengah kilometer yang rasa-rasanya langkah saya semakin melambat, saya betul-betul cepat sekali kelelahan. Pulangnya, saya memilih naik ojek yang ternyata membawa kepada awal cerita perjalanan si bayi.

Sampai di rumah, saya sholat dhuha dan pada rakaat kedua saya merasakan seperti ada keputihan yang keluar. Setelah salam, saya ke kamar mandi dan tersenyum kala mengetahui bahwa ada bercak darah pada celana saya. Saatnya bersiap untuk menyambut momen persalinan. Perut mulai sering kencang, tapi saya belum merasakan nyeri. Hingga menuju isya, saya hanya perbanyak istirahat untuk mengumpulkan tenaga.

Jumat, 12 Mei 2017 (Pukul 21.00 WIB)

Selepas isya saya sudah tidur dan saya ingat pada pukul 21.00 saya terbangun karena merasakan perut yang mulas seperti akan datang bulan disertai hasrat ingin berkemih kira-kira setiap 20 menit sekali. Di saat yang sama, saya merasakan lapar, hari itu saya baru makan satu kali sebelum ashar. (mengingat himbauan dokter dan bidan yang menghimbau saya berdiet karena bobot bayi diperkirakan sudah melebihi 3,5 kg).

Saya mulai mencatat kedatangan gelombang cinta itu. Rasanya semakin lama semakin intens dan kuat. Entah ini karena mindset saja atau memang rasanya benar-benar seperti itu. Saya mulai menghubungi suami untuk memberi tahu bahwa sepertinya bayi ini akan lahir. Ia langsung pesan tiket kereta paling pagi keesokan harinya.

Jumat, 12 Mei 2017 (Pukul 23.00)

Saya sudah mondar-mandir, sepertinya ilmu untuk mengendalikan rasa mulas dengan bernapas seketika saja hilang. Yang ada dipikiran saya adalah, bagaimana cara supaya saya bisa lekas mengejan. Saya bangunkan adik ipar, mamah dan abah untuk memberi tahu mereka tentang apa yang saya rasakan. Saya bilang, rasa mulasnya sudah 10 menit sekali.

Tiba di IGD saya agak lemas pas tahu bahwa baru pembukaan satu oleh bidan kedua. Setelah bidan pertama memberikan informasi angin segar alias PHP dengan menginfokan kalau sudah pembukaan tiga. Mamah memberi pilihan apakah saya ingin pulang, atau tetap di RS. Saya minta untuk tetap di RS saja, akhirnya sebuah kamar dipesankan karena tidak kuat membayangkan lagi untuk merasakan kontraksi saat dibonceng  motor.

Di kamar, saya menyalakan murotal Quran . Adik dan mamah tidur di sofa sambil keberisikan saya yang bolak-balik ke kamar kecil dan mengerang. Saya tidak bisa tidur dan yang dipikiran hanya ingin lekas hilang rasa melilit yang munculnya semakin sering saja.

Jumat, 13 Mei 2017 (Pukul 04.30 WIB)

Mamah akhirnya sholat tahajud dan menenangkan saya dengan sabarnya. Dipijatnya kaki saya, dielus-elusnya perut saya sambil zikir. Alhamdulillah, meredakan kegelisahan saya. Setelah azan subuh, flek darah semakin banyak keluar. Adzan subuh berkumandang dan saya sholat sambil duduk di sofa. Kontraksi menyergap semakin sering dan rasanya semakin nikmat membuat saya bahkan tidak sanggup untuk membungkukkan badan.

Selepas sholat subuh, bidan ke kamar memeriksa sudah mencapai pembukaan tiga. (Apa?! Baru tiga? Kupikir ini sudah lima atau tujuh! perasaan rasanya semakin tidak keruan). Saya sudah tidak bisa bicara lagi kecuali mengucap Allah dan istighfar. Bidan menginfokan kalau pagi itu Dokter kami sedang jalan-jalan pagi (Rumah dokter ini masih satu pagar dengan Rumah Sakit), sehingga saya kemudian diajak untuk ke ruang bersalin untuk dibantu pengecekan.

Jumat, 13 Mei 2017 (Pukul 05.40 WIB)

Sekitar hampir jam enam pagi, dokter melakukan pengecekan yang membuat saya semakin bersemangat. Kata Dokter, sudah masuk pembukaan sembilan. Saya, Mamah dan beberapa bidan kaget sekaligus senang. Para bidan mulai menyiapkan tempat bersalin. Saya, tentu saja, semakin meringis menikmati gelombang cinta buah hati.

Selang infus mulai dipasang, (setelah lahir, saya baru bisa protes dan rewel sekali bertanya-taya mengapa harus dipasangkan infus segala). Diluar kamar, saya bisa mendengar beberapa saudara saya mulai berdatangan. Serasa sedang bertanding dengan banyak supporter. Mungkin jika dihitung-hitung, ada sepuluh kerabat keluarga yang menunggu kehadiran jabang bayi.

Jumat, 13 Mei 2017 (Pukul 08.30 WIB)

Singkat cerita, setelah dibantu didorong kaki kanan oleh mamah, kaki kiri oleh mbak Puah, perut di tekan oleh bidan puput dan dihadapan jalan lahir, sudah menunggu dua bidan lainnya, dengan dua kali tarikan napas penghabisan, bayi kami lahir. Byar, adem sekali perut terasa. Si bayi ditaruh di perut saya. Saya hanya bisa berucap hamdalah tiada hentinya. Mamah menangis sambil menciumiku. Proses yang lumayan panjang ini disponsori oleh rasa kantuk yang luar biasa. Sehingga tiada bosannya, Mamah, Mbak Puah dan Bidan meningatkan saya untuk tidak tertidur.

Yang saya ingat setelah itu, si Bayi dibawa ke ruangan lain. Para sanak saudara menghampirinya, saya bisa mendengar dari ruang bersalin. Sementara saya harus dipermak karena mendapatkan tindakan episiotomi, maklumlah karena si Bayi ini berbobot hampir jumbo yaitu 3.8 kg. Kalau tidak salah saat saya tanya ada berapa jahitan, si mbak bidan bilang 10 jahitan. Hampir sejam saya harus menunggu jahitan rapi dan observasi selama dua jam untuk di cek pendarahannya. Sambil menunggu itu semua, saya mengabari Bapak, dan keluarga di Depok.

Bersambung.

Bumiayu, 8 Juni 2017 

Bagaimana Menjadi Ibu Profesional? | Part 1

Menjadi seorang ibu adalah sebuah keniscayaan (bi idznillah, insyaa Allah). Namun seberapa siap kita mengemban amanah itu? sedangkan seingat saya, sejak sd, tidak pernah ada mata pelajaran khusus untuk pendidikan “How to be a Professional Mother?”. Padahal jelas, ibu adalah¬† madrasah yang pertama bagi tiap manusia. Beruntung, kini teknologi internet berhasil menggiring saya kepada tautan-tautan yang mempertemukan kepada teladan-teladan pertanyaan tadi. Mulai dari kisah para istri nabi, keluarga imran, keluarga ibrahim, hingga wanita-wanita mulia yang berprofesi sebagai seorang Ibu, salah satunya Ibu Septi Peni. Beliau bukan hanya sekedar ibu, namun ia juga aktif bergerak di masyarakat untuk memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu lainnya, tajuknya sangat menarik, yakni “Bunda Shalihah”. Beliau dengan pelatihannya, berusaha untuk merevitalisasi makna ibu, ya, seorang ibu yang bersungguh-sungguh menjalankan tugas hidupnya.

Kisah ibu Septi memang sudah lama sekali saya baca. Ya, tentang ibu rumah tangga yang tidak menyekolahkan anak-anaknya seperti sebagian banyak keluarga lain, namun kini ketiga anaknya justru berhasil di bidangnya masing-masing. (Untuk lebih lengkapnya bisa baca disini). Dari link tersebut, saya pun mulai mencari-cari beliau di saluran youtube, sampailah kepada video berdurasi 20 menitan yang berisi tentang pemaparan resume tahapan bagaimana menjadi ibu yang profesional. Bisa dilihat dibawah :

Dimulai dengan menginstall bahwa anak adalah amanah yang harus kita jaga dengan mempersiapkan diri, bu septi menjelaskan tentang fitrah seorang anak :

1. Homo Ludens, anak adalah mahluk yang senang dengan permainan dengan bermain.

Bagaimana kita bisa mendidik anak? jika bermain dengan anak saja kita tidak bisa?. Bermain memang terdengar mudah, tapi mempersiapkan suasana bermain bagi anak menjadi PR besar jika kita tidak terbiasa berkomunikasi dengan anak-anak. Mungkin ada sebagian dari kita yang merasa kesulitan untuk menyamakan frekuensi untuk bisa masuk ke anak-anak, atau juga kita tidak sadar bahwa kita tidak menggunakan bahasa sederhana yang bisa dimengerti anak. Yes. Mengajak anak bermain pun kita harus pelajari. Persiapkan. (btw tadi juga lihat channel Kompas TV, ada seorang ibu yang kreatif banget bikinin aneka mainan dari kardus bekas, lihat disini).

2. Rentang konsentrasi anak adalah 1 menit di kalikan dengan umurnya.

Jangan sampai, kelak kita mengajari anak membaca di usia 5 tahun, kita paksa dia untuk bisa berkonsentrasi 10 menit. Siapkan ice breakin setiap 5 menit untuk mereka. Tenang, seorang anak itu fitrahnya punya keingintahuan yang tinggi, yes, naturalnya mereka adalah mahluk pembelajar, sehingga tugas kita sebetulnya adalah tinggal membuat mereka tidak sekedar bisa belajar, tapi suka belajar. Kalau ada anak yang tidak suka belajar, silahkan pertanyakan kepada diri kita sendiri. Sudah oke apa belum? ūüėõ

Masa emas anak-anak ada di usia 0-3 tahun. Pada masa-masa inilah sebaiknya orang tua meletakkan prioritas waktunya kepada anak-anak. Dan untuk perkembangan otak, 80% ada pada masa 0-8 tahun, sehingga sangat baik jika pada masa itu kita sudah membekali diri dengan kurikulum terbaik untuk kita berikan pada anak-anak kita.

Pembentukan karakter ada pada masa 0-12 tahun. Selepas masa ini, mereka akan hidup dengan bekal karakter yang sudah terinstall. Setidaknya ada 4 learning model yang diperkenalkan oleh ibu septi, yang menurut beliau akan cocok digunakan untuk segala rentang usia, yaitu :

1. Intelectual Curiousity, bagaimana kita bisa menaikkan rasa ingin tahu anak-anak.
2. Creative Imagination, bagaimana kreatifitas anak-anak bisa berkembang bersama dengan kita.
3. Art of Discovery Invention, bagaimana akhirnya anak-anak bisa menjadi penemu-penemu dari apa yang selama ini mereka pelajari.
4. Noble Attitude, bagaimana anak akhirnya bisa memiliki ahlak yang mulia, dan kelak menjadi khalifah di muka bumi.

Setelah menjelaskan prolog tentang fitrah anak dan learning model, ibu septi menjelaskan bahwa ada beberapa tahapan untuk menjadi seorang ibu profesional.

Bersambung aja ya ūüôā

Depok, 30 Juni 2016

LaGi BeTe

Sumber gambar : gblpride.com

Sumber gambar : gblpride.com

LaGi BeTe.¬†Dimana-mana bahas, biasalah, bahasan tabu emang gampang viral hilir mudik diberaneka media sosial, dan pastinya juga, muncul dah tuh, ceracau¬†pro dan kontra-nya. Mau ikutan komen di laman mereka, kok ya males ntar malah jadi debat kusir yang sedang bekerja. Mendingan kitanya nyap-nyap di laman sendiri, dari pada ikutan update status trus pake hestek “no mensyen” atau tambahan komen, “yang merasa jangan tersinggung”, yekan?.

Abisan baca salah satu tulisan di WA tentang LGBT, langsung inget sama temen-temen sendiri yang emang bisa dibilang masuk kedalam kelompok tersebut. Diantara beberapa temen saya ini ada yang emang mengakui kalau dirinya “begitu”, ada yang backstreet, dan ada pula yang masih ambigu.

Dari sekitar…sebentar, satu, dua, tiga, empat dan lima, temen yang boleh dibilang lumayan deket, temen yang juga merupakan kelompok LaGi BeTe itu, setidaknya saya bisa menarik satu hal persamaan dari mereka, sebuah keyword yang sangat kuat dan mencolok, dan¬†kemungkinan besar merupakan root of case yang akhirnya membuat mereka menjadi seperti itu. Yakni,

“Kekurangan Peran Seorang Ayah”

Ndak bisa dipungkiri memang, peran ayah sangat-sangat-sangat mempengaruhi sekali karakter anak. Berikut sekilas cerita tentang kelima temanku itu,

Yang pertama, kawanku ini lahir dari keluarga yang dia selalu ulang-ulang kalau lagi curhat “keluarga gue broken pay”. Bapaknya mantan bandar narkoba,¬†berpindah keyakinan demi rela menikahi ibunya. Sibuk dengan usaha bisnisnya sendiri, untuk beli “keperluan” nya sendiri biar nggak sakaw. Dia sendiri suka kabur dari rumah kalau ayahnya itu sedang “kumat”, soalnya udah pasti kena amukan ama pukulan. Tentu, hal tersebut akhirnya menjadikan Ibunya tak hanya mengurus rumah tangga, tapi juga menjadi penyokong kebutuhan rumah ¬†tangga. Ibunya (saat itu) bekerja serabutan, aku ingat ketika sedang bermain dirumahnya pada suatu siang, ibunya yang sangat ramah itu berpamit kepada kami untuk pergi bekerja, di sebuah¬†arena bilyar. Baginya, kehangatan sebuah keluarga hanyalah fantasi belaka. Jadi ingat juga pas dia bilang minta ajarin cara jalan laki. Saya tabok-tabokin karena gemas sangat, dianya kecapekan karena katanya susah. (Saya malah susah jalan selenggak-lenggok dia, rada iri dikit). Ah, apa kabarmu sekarang ya?

Yang kedua, kawanku yang satu ini memang tidak menyatakan dengan gamblang bahwa dia adalah salah satu dari kelompok LaGi BeTe itu, namun sangat mencolok sekali jikalau dilihat dari penampilannya, kegemaran musiknya, cara berjalannya, cara bicaranya yang lebih kemayu dari pada sayah. Entah ayahnya kemana, yang jelas, sejak dibangku sekolah menengah, dia sudah ikut membantu ibunya berjualan demi menambah uang saku. Hingga sekarang bahkan, ia menjadi semacam tulang punggung keluarga. Memang tak banyak ia bercerita tentang ayahnya, namun setiap bertemu dengannya, ia selalu bicara tentang ibunya, dan mimik wajahnya akan berubah menjadi tidak senang jika aku bertanya lanjut  tentang hal yang berkaitan dengan ayahnya. Sampai sekarang pula, saya tidak pernah lihat wajah ayahnya, baik saat main kerumahnya maupun di sosial medianya.

Yang ketiga, yang satu ini, ada ayahnya, sering juga bercerita tentang ayahnya, meski lebih sering ia bicara tentang ibunya. Yang membedakan adalah tentang komunikasi ia kepada ayahnya, bisa dikatakan (mungkin) hanya sebatas hubungan yang berkaitan dengan kebutuhan anak dan kewajiban ayah memberi nafkah. Pergi saat gelap, pulang saat gelap. Beberapa kali yang selalu ia ulang ceritanya adalah betapa ayahnya begitu keras dan galak. Sangat jarang ia berbincang dengan ayahnya. Yang kuketahui, dia “begitu” tak lama setelah disakiti dan dicampakkan oleh pacar lawan jenisnya. Ya mungkin, mungkin nih ya, dia mengalami trauma dengan sosok lelaki, atau mungkin bukan trauma melainkan tidak adanya rasa percaya terhadap kaum pria (kebanyakan mungkinnya lu pay ah!). Ya, sampai sekarang, ia masih belum move on si mantannya¬†juga karena kampretnya, itu laki masih suka kasih perhatian yang nggak wajar, padahal kan mantannya itu sudah beristri.

Yang keempat, kalau yang ini mirip-mirip lah ceritanya kayak yang kedua dan ditambah yang ketiga. Dan jauh pula ia merantau beda pulau selepas sekolah menengah. Dan kalau yang ini, ia sudah berkomitmen untuk move-on dari pasangan sejenisnya itu. Dan sekarang ini ceritanya sedang berusaha memantaskan diri dan gencar menggiatkan doa agar lekas diberi pasangan yang bukan sejenis. Semoga senantiasa dikuatkan bro!

Yang kelima, saking kentalnya sisi feminimnya, dulu, saya sampai kadang suka lupa kalau dia itu lelaki. Jadi kebiasaan kalau duduk sebelahan suka nyender-nyender, hahaha. Skip. Tidak jauh berbeda, ia sejak kecil sudah ditinggal wafat ayahnya, sebagai anak bungsu yang sebagian besar kakaknya adalah perempuan, ia memang tidak kenal dengan didikan dari seorang lelaki (ayah). Kehilangan sosok maskulin sejak kecil, ditambah lingkungan sehari-hari yang mungkin agak terisolasi dengan lingkungan sekitarnya kemungkinan besar menjadi salah satu faktornya.

Sesuatu sekalih *exhausted* ūüôĀ¬†, dulu waktu masih punya tipi juga, pernah dengar seorang artis yang mengaku dirinya gay dari berita ghibahtainment. Hal itu ia akui¬†alasannya karena “kerinduannya” akan kasih sayang seorang ayah yang ia tidak dapat sejak kecil. Juga, aku pernah baca salah satu artikel yang menyebutkan bahwa kalau yang kekurangan peran seorang ayah itu adalah seorang perempuan, perempuan tersebut akan susah membuat kriteria pasangan idaman. Dan memang begitu kalau aku perhatikan, beberapa kali setelah kuketahui ia memiliki pasangan sesama jenis, salah satu teman perempuanku tak pernah berhasil menjawab pertanyaan sederhana itu.

Memanglah benar, sosok ayah tidak akan pernah tergantikan. Karena konon, sosok ayah-lah yang mengajarkan hal-hal yang menyangkut cara berpikir rasional. Dan menurut beberapa penelitian, seorang anak yang dibesarkan tanpa figur ayah akan lebih dominan emosional mereka ketimbang rasionalnya.

Jadi ngeri sendiri kalau ingat kata-kata Pak Bachtiar,

“Sekarang itu banyak anak yang berayah namun ‘yatim’ “

Ah, apa betul Indonesia saat ini sedang mengalami fenomena Fatherless Country ?

Depok, 9 Februari 2016 | 01.25