Resensi Novel “Twenty-Four Eyes : Dua Belas Pasang Mata” Karya Sakae Tsuboi

24 eyes 12 pasang mata

Sudah sekian tahun lamanya saya tidak membaca novel fiksi. Rasa-rasanya, kalah dengan rutinitas harian dan konten mikro yang infinite yang ditawarkan oleh media sosial. Beberapa waktu lalu, sengaja mampir ke perpustakaan di dekat stasiun MRT Nanshijiao (New Taipei) untuk sekadar melihat-lihat. Akhirnya secara acak saya ambil novel yang satu ini.

Saya tidak salah pilih. Buku ini begitu related. Terlebih dibaca saat pembantaian Gaza oleh Israel berlangsung. Suasana musim dingin di Taiwan, seolah menyempurnakan semuanya.

Buku ini bercerita tentang seorang guru muda yang ditugaskan mengajar di sebuah desa miskin dan terpencil. Kebanyakan masyarakat di desa ini berprofesi sebagai petani, nelayan, dan buruh. Guru muda itu menjadi guru kelas 1 dan dipanggil “Ms. Oishi” oleh ke-12 muridnya dengan karakter yang unik dan latar belakang yang berbeda-beda.

Miss Oishi (sang guru), diceritakan sebagai sosok yang memiliki karakter enerjik, observer, dan (ternyata) sentimental. Tampilannya yang modern (dari pakaiannya) menjadikan ia sebagai orang yang menarik perhatian masyarakat desa itu. Berangkat mengajar mengendarai sepeda, merupakan pemandangan yang tidak umum saat itu (apalagi sebagai perempuan).

Kehidupan di desa terpencil itu membuka mata hati Ms. Oishi, terlebih saat masa perang melanda Jepang. Masa-masa depresi dan krisis menyelimuti desa. Seolah untuk tersenyum pada masa-masa itu saja bisa dicurigai sebagai pengkhianat. Membaca buku sastra saja harus hati-hati, jangan sampai terafiliasi dengan gerakan-gerakan “merah” karena bisa berakhir mengenaskan.

Awalnya saya skeptis dengan begitu banyak tokoh yang dihadirkan dalam cerita. Namun ternyata disitulah letak keistimewaan buku ini. Dengan banyak karakter, penulis berhasil membuat gambaran yang terjadi dari berbagai sudut pandang masyarakat sipil yang terkena imbas perang.

Buku ini memang memiliki nuansa anti-perang, karena fokus menampilkan penderitaan (terutama anak-anak) yang gugur karena menjadi garda depan arena perang atau mereka yang akhirnya harus mengubur cita-citanya karena kondisi krisis. Ada anak-anak yang akhirnya harus “dijual”, ada yang harus mengurus rumah tangga di usia dini, dan kesengsaraan lain yang seharusnya tidak dialami oleh anak-anak.

Meski untuk detail perang tidak dijelaskan secara eksplist, saya sebagai pembaca bisa menerka-nerka, yaitu saat kekalahan Jepang akibat bom atom di Hiroshima. Bagaimana sosok Ms. Oishi  bahkan dinilai sebagai sosok yang “kurang” nasionalis oleh anak kandungnya sendiri karena sikap dan perkataannya. Seperti saat menunjukan penolakan ketika anak mereka yang masih hidup untuk bercita-cita menjadi tentara. (Suami Ms. Oishi gugur saat perang).

“Untuk apa dibesarkan (dididik dan diasuh), jika tujuannya adalah menjadi tentara dan mati?”, kira-kira begitulah pikiran rasional seorang Ibu yang sejak awal sudah melihat begitu banyak mimpi buruk akibat perang.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang ringan (dan cukup bagus penerjemahannya). Sederhana namun penuh dengan momen-momen yang membuat tercenung saat membacanya. Kadang saya sampai baca beberapa kali tiap baris yang saya kira pantas untuk diulang sebagai bentuk penghormatan duka cita. Alur cerita cenderung lambat namun saya begitu menikmati nuansa nostalgia pada saat penulis menggambarkan suasana dan budaya di desa tersebut.

Jika anda pernah membaca Laskar Pelangi, maka kemungkinan anda akan menyukai juga buku ini. Buku ini memberikan inspirasi dan membangkitkan sisi kemanusiaan dalam diri. Beberapa kali saya dibuat menangis dalam kisah-kisah yang dialami oleh anak-anak dalam buku ini, karena paham bahwa kepiluan ini bukan sekadar karangan belaka, melainkan juga terjadi di dunia nyata.

Alur lambat yang dihadirkan dalam buku ini barangkali seolah memberikan jeda untuk kita mengheningkan cipta bagi para pejuang dan orang-orang tak bersalah yang wafat dalam perang. Akhir cerita buku ini pun disajikan dengan hangat dan pas, tidak dilebih-lebihkan.

Saya berharap buku ini bisa menjadi salah satu buku yang mengisi waktu luang anak-anak milenial, generasi Z, dan Alfa. Untuk memberikan gambaran pada mereka yang lahir saat Indonesia sudah merdeka, bahwa perang bukanlah hal yang biasa-biasa saja, atau hanya legenda belaka yang cuma perlu diingat tanggal-tanggalnya.

Selasa, 5 Desember 2023

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *