Sadar yang Apa?

Beberapa tahun belakangan, media sosial saya dibanjiri dengan konten tentang kesehatan mental. Juga bertubi-tubi saya temukan banyak praktisi mindfulness yang menceritakan bagaimana mereka bisa melewati masa-masa kelam dalam hidupnya. Ada yang berhasil melewati badai finansialnya, PTSD-nya, patah hatinya, dan lainnya.

Saya mulai tertarik isu hidup berkesadaran ini tahun 2014 atau 2015 lewat sebuah workshop tentang meletakkan “jeda” dalam keseharian yang penuh dengan ingar bingar.

Namun pencerahan didapat ketika sampai pada saat menyimak kajian dengan tema Muraqabatullah. Sebuah konsep Merasa diawasi oleh Allâh Azza wa Jalla. Dulu mikirnya, kalau diawasi, seolah terpasang kamera CCTV yang siap merekam kesalahan kita. Bukti bahwa diri ini lupa dari sifat Allah yang Maha Rahman dan Rahim. Luput memaknai bahwa yang sedang memperhatikan kita tuh ya Dzat pemilik cinta.

Gimana sih kita kalau mengawasi orang yang kita cintai? nuansanya? ingin cari kesalahan dia, atau ingin memastikan ia selamat dan baik-baik saja? tentu cintaNya Allah itu melebihi batas definisi yang tergambar di dunia ini. Tapi bukankah fenomena cinta dan kasih sayang itu bisa kita lihat wujudnya seperti apa?

Misalnya saja bagaimana ketangguhan ibu pinguin kaisar yang rela berjalan 50-120 km untuk memastikan telur mereka aman (nesting). Mereka juga menelan makanan tapi tak dicerna untuk kemudian ia berikan pada anak-anaknya. Siapa yang menitipkan insting istimewa ini? Fenomena ini ditujukan kepada manusia bukan lain untuk menyadari bahwa pencipta pinguin kasih sayangnya lebih besar dari semua fenomena cinta yang ada di dunia.

Kembali lagi ke hidup berkesadaran. Barangkali ini tulisan untuk teman-teman yang sedang berupaya mencari ketenangan dan makna lewat hidup penuh sadar, hadir, dan utuh. Seandainya masih terasa ada yang kosong, itu barangkali karena unsur Tuhan tidak disertakan dalam proses mindful-nya.

Imam Ibnu al-Qayyim menjelaskan bahwa murâqabah merupakan pedoman dan tiangnya amalan hati. Sikap tenang dan khusyu’ dalam menjalankan ibadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala, bermula dari sikap murâqabah ini.

Namanya juga sikap, artinya itu sebuah kebiasaan yang perlu dididik dan dilatihkan. Fisik yang tenang bermula dari hati dan pikiran yang tenang. Pikiran bisa tenang kalau sudah mendapatkan “alasan” untuk tenang. Alasan-alasan yang dimaksud adalah pemahaman yang Allah berikan pada kita karena telah mencari ilmunya.

Mengaitkan dengan tulisan sebelumnya tentang basmalah, saya semakin yakin bahwa hadist-hadist Nabi Muhammad ﷺ merupakan petunjuk untuk kita melatih diri agar senantiasa terhubung dengan Allah. Bukan semata-mata perintah yang membuat kita repot dan merasa berdosa jika tidak melakukannya.

Seperti berkurangnya “keberkahan” karena tidak mengawali aktivitas dengan basmalah. Hal ini jangan sampai membuat seperti Allah yang “needy” dengan perhatian manusia, tapi sebaliknya, kitalah yang butuh perhatiannya Allah.

Make sense nggak sih, kalau misal kalian lapar dan makan. Kemudian bandingkan dengan pribadi yang melakukan amalan hati dengan sikap murâqabah, merasa diperhatikan.

Kita akan sadar bahwa Allah yang memberikan rasa lapar,
Sadar bahwa Allah turunkan rezeki berupa makanan,
Allah pula yang memilihkan makanan-makanan apa yang baik untuk jiwa kita,
Kemudian ketika kita makan dengan menyadari bahwa Allah Rahman dan Rahim, maka bukankah aktivitas makan kita jauh lebih bermakna? Hati kita akan dibanjiri syukur, takjub, haru karena demikian Agung kekuasaan-Nya?

Bukankah kita akan melihat perbedaannya? Pantaskah seseorang yang lapar-kemudian makan (makannya tak peduli halal-haram, tak disertakan doa, apalagi adab) mendapat hadiah berupa hati yang gembira-content-khusyuk-tenang?

Coba gali lagi ketika kita ingin mempraktekkan hidup mindful. Apakah sekadar sadar nafas demikian ritme dan temponya, makanan demikian tekstur dan warnanya, angin demikian dingin di kulit… atau bagaimana jika kita tambahkan unsur iman dalam keseharian? Kita libatkan Allah dalam penyadaran diri bahwa semua-semua sensasi yang kita terima pada panca indera kita, adalah sebentuk kasih sayang dan media agar kita dapat selalu terhubung dengan-Nya.

Kamis, 25 Januari 2024

 

Review Novel “Negeri di Ujung Tanduk” karya Tere Liye

Processed with VSCO with e1 preset

Novel kedua yang saya baca di tahun ini datang dari tulisan Tere Liye berjudul “Negeri di Ujung Tanduk”. Selepas baca, saya baru tahu kalau ini adalah buku kedua dari lika-liku perjalanan Thomas (tokoh utama novel ini).

Kendati demikian, saya masih dapat mengikuti alur cerita dengan baik, karena buku pertama, “Negeri Para Bedebah” itu, kayaknya ngerti tentang apa wkwk. Dalam novel tersebut, diceritakan penanganan kasus di sebuah lembaga keuangan yang bernama “Bank Semesta”. Yah, gimana yah, rada mirip dengan kasus dana talangan bank sebesar 6.76 Trilyun yang pernah rame itu tuh. Kalau kamu nggak tau, mungkin kamu belum lahir pas lagi rame-ramenya (hint: 2008).

Buku ini bercerita tentang seorang konsultan politik yang bernama Thomas yang dijegal oleh satu kekuatan “tak terlihat” ketika ia berjuang agar klien politiknya yang jujur dan bersih dapat lolos menjadi calon presiden dan kelak menjadi pemimpin negeri. Hambatan demi hambatan ternyata kian mengerikan setelah diketahui bahwa para “bedebah” ini memiliki kekuasaan di berbagai sektor. Bukan jenis kejahatan perkara orang per orang saja, tapi sudah melibatkan banyak sekali oknum bahkan dalam tubuh penegak hukum.

Paling ajaib. Baca buku ini tuh ya, kok nuansanya plek ketiplek banget dengan situasi politik menjelang pemilu ini yah. Novel ini rilis 10 tahun lalu (2013), dan dalam kurun satu dasawarsa itu, fenomena yang begitu nyata dan kayak bikin putus asa. #ehgabolehgitu #baik

Apakah benar “mitos” bahwa anusia akan serakah dan zalim ketika sudah berada di puncak kekuasaan? Apakah tidak ada lagi pemimpin yang punya nurani?Apakah kejahatan itu bisa ditumpas? Buku ini memberikan secercah cahaya dan cara-cara agar dapat merealisasikannya, lewat Thomas dan kawan-kawannya.

—-

Saya jadi setuju sama ungkapan seorang Novelis bernama Amy Tan, “Fiction is the best way to finding the truth“. Buku-buku fiksi yang semacam “Negeri di Ujung Tanduk” adalah sejenis buku yang perlu, atau sepatutnya ada. Guna membangunkan manusia-manusia yang tertidur, agar mulai peduli. Peduli adalah bahan bakar seseorang untuk mulai berjuang dan mengambil peran. Buku yang juga jadi pengingat, agar kita sebagai rakyat yang terpelajar wajib berani kritis dengan para pemimpin negara. Tidak mudah terbuai dengan “kemasan”, dan teliti terhadap langkah yang mereka jalankan.

Buku ini bagus sekali dibacakan terutama oleh para anak-anak muda yang hendak mewujudkan mimpinya. Agar kelak tidak memilih jalan yang salah. Jalan yang bau dan penuh kotoran. Jalan yang dibangun dari penderitaan umat. Jalan yang memanfaatkan kebodohan orang lain. Jalan culas pengecut dan pemalas. Jalan yang dari luar terdengar ingin “mencerdaskan bangsa”, tapi nyata-nyatanya justru “mengelabui dan memiskinkan bangsa”.

Novel setebal 300-an halaman ini disajikan dengan piawai oleh penulis dengan alur cepat. Tak terasa tahu-tahu kurun waktu beberapa hari saja, saya sudah bisa menamatkan novel ini. Bahasa yang dipakai cukup mudah dimengerti, selain ada memang beberapa bagian memunculkan istilah-istilah ekonomi. (tapi bagi kita pengguna smartphone, mudah untuk tinggal telusuri apa artinya, kan?).

Saya baru kali ini membaca buku novel Indonesia dengan tema ekonomi, politik, dan action sekaligus dan saya akui Bung Tere sangat berhasil membawakannya.

Kesan Ketika Membaca Buku ini (Sudut Pandang Orang Tua pada Anak)

Sepanjang membaca buku ini, saya sambil berdoa loh. Ih takut banget kalau kelak generasi kita bersinggungan dengan hal-hal ini. Saya sambil mendoakan anak-anak agar senantiasa ditunjukkan dan dimudahkan dalam jalan yang lurus. Bukan jalan yang hina.

Menguatkan diri pula untuk tidak tergiur dengan posisi-posisi jabatan “wah” tertentu. Menguatkan pandangan bahwa namanya jabatan atau profesi tertentu itu hadir bersama amanahnya. Bersama tanggung jawab dan kewajiban. Mulia tidaknya seseorang ditentukan dari ahlak dan keimanan, bukan dari “seragam” dan “surat keputusan”.

Karena saat saya sekolah dulu. Atmosfer yang dihadirkan adalah apresiasi dan sanjungan-sanjungan pada hal yang demikian. Penekanan kuat seolah bukan pada nilai-nilai, prinsip hidup, ahlak dan karakter melainkan berupa angka-angka pada slip gaji, pada bangunan megah, pada seragam yang necis, dan kendaraan yang ditumpangi.

Mengajarkan anak, bahwa rezeki itu, harus dijemput dengan cara-cara yang halal. Agar menjadi berkah tidak hanya bagi diri sendiri, namun juga bagi orang lain di sekitar kita.

Bahwa hidup itu harus punya mental petarung yang menjunjung harga diri dan kehormatan.

10 Desember 2023

 

 

Mengirimkan Anak-Anak ke PAUD Al-Hadi : Preschool Islami di Taiwan

May be an image of 10 people, child and hospital

Kalau kalian baca bio di instagram saya, (saat menuliskan postingan ini) maka tertera tulisan “homeschooler”, alias artinya pendidikan anak-anak dilakukan secara mandiri (di rumah). Lantas mengapa tiba-tiba menyekolahkan anak di PAUD?

Ya, pada semester lalu, saya mengikutsertakan anak-anak di PAUD ini karena baru saja melahirkan anak ke-3. Saya membutuhkan semacam waktu “free” dengan “menitipkan” anak di Al-Hadi. Saya merasa kehabisan energi untuk memberikan stimulasi belajar kedua kakaknya ini. Itu mungkin alasan krusial utamanya. Ketika itu, saya mengikutsertakan sepekan dua kali. Alhamdulillah pihak Al-Hadi memperbolehkannya.

Kemudian, usia sulung menginjak 6 tahun. Ada kebimbangan kami untuk melanjutkan memulai kurikulum anak sekolah dasar karena merasa masih ingin berlama-lama membangun pondasi usia dini si anak. Saya pun merasa anak-anak butuh lingkungan untuk menstimulasi kemampuan berbahasa mandarin sebagai modal ketika kelak dibutuhkan kelas-kelas tambahan dengan guru lokal (di kemudian hari-InsyaAllah).

Akhirnya, akhir tahun ini kami sengaja pindah apartemen dan  memilih lokasi dekat Al-Hadi supaya lebih mudah mobilisasinya. (Disamping karena sudah mendapatkan beberapa kali teguran oleh tetangga lantai bawah kami yang “keberisikan” oleh langkah kaki anak-anak).

Mengapa Al-Hadi? tentu saja karena ini satu-satunya preschool islam yang ada di Taiwan. Saya juga merasa value yang ditawarkan memang tulus untuk menguatkan aqidah islam anak-anak. Keseharian kelas dibawakan terlihat “santai” (rileks), namun cukup kaya akan stimulasi.

Owner Al-Hadi adalah pasangan suami istri (Taiwan-India) yang memiliki 4 orang putra (rentang usia awal SD , 6, 5, dan 4 tahun). Mereka membangun Al-Hadi Taiwan Islamic Education & Culture Center sebagai tempat untuk mempelajari islam. Tahun ini, kedua anak mereka menjalankan kelas dasar (SD) secara mandiri (homeschool).

Keseharian Anak TK di Alhadi ngapain aja?

May be an image of 8 people, child and people studying

Kelas dimulai pukul 9 pagi. Saat datang, anak-anak diarahkan untuk meletakkan sepatu, botol minum, dan tempat makan di rak yang sudah disediakan. Kemudian anak-anak akan diajak pemanasan fisik sebentar dan belajar membaca Al-quran (pengenalan huruf hijaiyah). Setiap hari, mata pelajaran yang diajarkan berbeda-beda, ada Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, Matematika, Seni, Adab, Science, Islamic Studies (pendidikan agama), Hadist, dan Olahraga.

 

Makan siang disediakan oleh PAUD, biasanya nasi dengan kari, sup, ayam goreng, dan lain-lain. Ada pula sesi snack pada pagi (pukul 10) dan sore (pukul 3), biasanya kudapan berupa buah, biskuit, roti, atau jajanan lainnya.

Saat siang, ada sholat zhuhur berjamaah. Anak-anak akan melakukan gerakan sholat sambil melantangkan bacaan sholat agar hafal. Setelah sholat, ada duduk membaca dzikir dan murajaah doa, surat pendek, atau hadist yang sudah pernah diberikan.

Setelah sholat, anak-anak akan tidur siang. Anak-anak memang diminta untuk menyiapkan sleeping-bag masing-masing yang akan dibawa pulang sebulan sekali untuk dicuci. Bangun tidur siang, anak-anak akan makan snack sore dan melanjutkan kelas hingga pukul 4 sore.

Kelihatannya begitu padat, tapi anak-anak yang saya lihat menjalaninya dengan baik. Memang yang dikeluhkan oleh mereka adalah waktu jalan ke taman atau bikin-bikin (masak, prakarya dll) yang tidak bisa seleluasa ketika di rumah.

May be an image of 5 people, people studying and text that says 'SPEED'

Sepekan sekali, saya hadir di Al-Hadi untuk sekadar menjadi volunteer yang membantu menyiapkan snack ataupun berberes. Kemudian anak-anak belajar membangun kedisiplinan dengan ritme kegiatan dalam keseharian.

Guru-guru yang mengajar di Alhadi berasal dari Taiwan, Timur Tengah, dan Indonesia. Juga ada beberapa guru dari Taiwan untuk mengajar di kelas Seni dan Olahraga.

May be an image of 8 people

Biaya

Untuk biaya sendiri, semester ini (saat mendaftar di September 2023):

  1. Biaya pendaftaran 3.000 NT
  2. Seragam 150 NT
  3. Uang bulanan (termasuk makan siang dan snack) 6.000 NT

Di kelas, ada juga teman-teman yang menyekolahkan anak tidak full dari hari senin sampai jumat, mereka membayar sesuai hari yang sudah ditentukan setiap bulan. Biaya per-harinya adalah sebesar 350 NT.

Jadwal Pelajaran Al-Hadi
Jadwal Keseharian di Al-Hadi

Kegiatan Fieldtrip

Sebagaimana sekolah yang ada, ada juga jadwal fieldtrip semester anak-anak. Biaya cukup terjangkau karena hanya membayar patungan bus dan tiket masuk lokasinya saja. Bulan lalu, anak-anak berjalan-jalan ke daerah Yilan, ke Pantai Waiao dan ke E-Long Goat Farm.

Kami sangat menikmati perjalanan karena para guru menyediakan kegiatan yang menarik sekali. Membuat tema mencari harta karun di pantai, dengan tema kisah nabi yang berkaitan dengan laut.

Saat di dalam bus:

  • Storytelling tentang nabi Yunus (saat di dalam bus). Mempelajari dan mengucapkan doa yang dibaca oleh Nabi Yunus ketika di dalam laut.

لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Artinya: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

  • Memasang puzzle “peta harta karun”. Peta tersebut akan menjadi petunjuk untuk permainan yang akan dilakukan pantai Waiao. Dalam peta itu juga ada quiz pertanyaan seputar nabi-nabi dan penguatan Tauhid melalui fenomena angin yang merupakan ciptaan Allah sehingga layang-layang bisa terbang. Begitu juga kapal-kapal bisa berlayar.

Saat di pantai Waiao:

  • Anak-anak melakukan pemanasan dengan stretching (dancing) membentuk lingkaran dan berlari.
  • Anak-anak mulai ke permainan pos yang sudah disediakan. Total ada 3 pos, dimana masing-masing pos ada satu benda yang harus kita cari di dalam pasir. Sebelum mulai menggali pasir, anak-anak harus menjawab pertanyaan terlebih dahulu. Pos terakhir, ada perlombaan tarik tambang untuk anak-anak.
  • Masing-masing harta karun itu kemudian disusun. Dan kemarin, adalah menyusun globe kecil yang terbuat dari kayu. Dimana globe itu nantinya akan bisa berputar otomatis setelah dipasang baterai.
  • Selepas bermain, anak-anak bermain air di pinggir pantai.
  • Anak-anak makan siang bersama dimana masing-masing peserta membawa makan masing-masing. Sesi makan begitu hangat dan menyenangkan.
  • Shalat zuhur berjamaah.

Saat di peternakan E-Long Goat:

May be an image of 7 people

  • Anak-anak menuju ruangan workshop dimana dijelaskan tentang fakta-fakta menarik tentang kambing.
  • Mencoba susu kambing.
  • Membuat figur hewan menggunakan foam (sejenis playdoough namun lebih ringan) yang dipasangkan pada alat mekanik kecil sehingga nantinya ia bisa berjalan.
  • Mengeksplorasi peternakan dengan melihat aneka hewan yang ada (kelinci, burung, ikan, dll)

Graduation

Di Alhadi, juga ada acara graduation yang diisi dengan performance anak-anak dan upacara kelulusan anak-anak menuju SD. Saya belum pernah ikut acaranya karena waktu itu sedang mudik ke Indonesia. (Berikut ini saya ambil dari dokumentasi di fanpagesnya Alhadi.

No photo description available.

No photo description available.

Program Lain di Alhadi

Saya juga pernah mengikuti kegiatan tambahan yang dilaksanakan pada hari libur seperti seminar tentang homeschooling. Dimana dalam kegiatan tersebut ada sesi sharing dari orang tua pesekolah rumah. Sangat inspiratif dan ternyata semangat Alhadi juga ingin menjadi semacam payung untuk orang tua yang ingin homeschooling. Namun, untuk saat ini memang baru ada dari anak-anak pemilik Alhadi saja.

May be an image of 1 person
Kelas elementary mengunjungi museum astronomi

Selain itu, ada kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap senin malam. Kegiatan berupa kelas dakwah dan bahasa mandarin (yang juga temanya tentang islam dan dakwah). Pengajar oleh teacher Fatimah dan Teacher Aziz (owner Alhadi).

May be an image of 3 people and child

Eksperimen science untuk anak-anak kelas elementary

Kesan

Saya sangat besyukur bisa bergabung menjadi bagian dari keluarga Alhadi. Mendapatkan atmosfir komunitas keluarga yang sama-sama memiliki cita-cita untuk bisa menjalankan keseharian dalam nafas islam.

Saya juga menjadi lebih terbuka lagi pikirannya untuk terus belajar. Melihat bagaimana para guru menyiapkan materi. Terutama pada bagian keistiqomahan. Saya salut dan mendoakan agar para guru, terutama founder-nya diberikan kemudahan dalam jalan dakwah islam.

Setidaknya, hampir setahun di Alhadi, saya terpicu untuk memperbaiki diri lagi kedepannya terutama karena akan menjalankan homeschooling mandiri. Mau hujan, mau panas, mau sakit, namanya pendidikan itu tidak bisa berhenti semau-mau kita. Bahwa disiplin akan memudahkan jalan ini. Bahwa jadwal dan rutinitas akan menjadi salah satu tools penting dalam membangun karakter anak.

Bahwa yang namanya kegiatan mendidik, kita pasti akan merasa bahwa perkembangan itu tak tampak nyata dalam sekejap.

Saya yang sejak dulu merasa bahwa pekerjaan guru itu mulia, maka bertambah-tambah lagi hormat saya pada mereka.

Resensi Novel “Twenty-Four Eyes : Dua Belas Pasang Mata” Karya Sakae Tsuboi

24 eyes 12 pasang mata

Sudah sekian tahun lamanya saya tidak membaca novel fiksi. Rasa-rasanya, kalah dengan rutinitas harian dan konten mikro yang infinite yang ditawarkan oleh media sosial. Beberapa waktu lalu, sengaja mampir ke perpustakaan di dekat stasiun MRT Nanshijiao (New Taipei) untuk sekadar melihat-lihat. Akhirnya secara acak saya ambil novel yang satu ini.

Saya tidak salah pilih. Buku ini begitu related. Terlebih dibaca saat pembantaian Gaza oleh Israel berlangsung. Suasana musim dingin di Taiwan, seolah menyempurnakan semuanya.

Buku ini bercerita tentang seorang guru muda yang ditugaskan mengajar di sebuah desa miskin dan terpencil. Kebanyakan masyarakat di desa ini berprofesi sebagai petani, nelayan, dan buruh. Guru muda itu menjadi guru kelas 1 dan dipanggil “Ms. Oishi” oleh ke-12 muridnya dengan karakter yang unik dan latar belakang yang berbeda-beda.

Miss Oishi (sang guru), diceritakan sebagai sosok yang memiliki karakter enerjik, observer, dan (ternyata) sentimental. Tampilannya yang modern (dari pakaiannya) menjadikan ia sebagai orang yang menarik perhatian masyarakat desa itu. Berangkat mengajar mengendarai sepeda, merupakan pemandangan yang tidak umum saat itu (apalagi sebagai perempuan).

Kehidupan di desa terpencil itu membuka mata hati Ms. Oishi, terlebih saat masa perang melanda Jepang. Masa-masa depresi dan krisis menyelimuti desa. Seolah untuk tersenyum pada masa-masa itu saja bisa dicurigai sebagai pengkhianat. Membaca buku sastra saja harus hati-hati, jangan sampai terafiliasi dengan gerakan-gerakan “merah” karena bisa berakhir mengenaskan.

Awalnya saya skeptis dengan begitu banyak tokoh yang dihadirkan dalam cerita. Namun ternyata disitulah letak keistimewaan buku ini. Dengan banyak karakter, penulis berhasil membuat gambaran yang terjadi dari berbagai sudut pandang masyarakat sipil yang terkena imbas perang.

Buku ini memang memiliki nuansa anti-perang, karena fokus menampilkan penderitaan (terutama anak-anak) yang gugur karena menjadi garda depan arena perang atau mereka yang akhirnya harus mengubur cita-citanya karena kondisi krisis. Ada anak-anak yang akhirnya harus “dijual”, ada yang harus mengurus rumah tangga di usia dini, dan kesengsaraan lain yang seharusnya tidak dialami oleh anak-anak.

Meski untuk detail perang tidak dijelaskan secara eksplist, saya sebagai pembaca bisa menerka-nerka, yaitu saat kekalahan Jepang akibat bom atom di Hiroshima. Bagaimana sosok Ms. Oishi  bahkan dinilai sebagai sosok yang “kurang” nasionalis oleh anak kandungnya sendiri karena sikap dan perkataannya. Seperti saat menunjukan penolakan ketika anak mereka yang masih hidup untuk bercita-cita menjadi tentara. (Suami Ms. Oishi gugur saat perang).

“Untuk apa dibesarkan (dididik dan diasuh), jika tujuannya adalah menjadi tentara dan mati?”, kira-kira begitulah pikiran rasional seorang Ibu yang sejak awal sudah melihat begitu banyak mimpi buruk akibat perang.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang ringan (dan cukup bagus penerjemahannya). Sederhana namun penuh dengan momen-momen yang membuat tercenung saat membacanya. Kadang saya sampai baca beberapa kali tiap baris yang saya kira pantas untuk diulang sebagai bentuk penghormatan duka cita. Alur cerita cenderung lambat namun saya begitu menikmati nuansa nostalgia pada saat penulis menggambarkan suasana dan budaya di desa tersebut.

Jika anda pernah membaca Laskar Pelangi, maka kemungkinan anda akan menyukai juga buku ini. Buku ini memberikan inspirasi dan membangkitkan sisi kemanusiaan dalam diri. Beberapa kali saya dibuat menangis dalam kisah-kisah yang dialami oleh anak-anak dalam buku ini, karena paham bahwa kepiluan ini bukan sekadar karangan belaka, melainkan juga terjadi di dunia nyata.

Alur lambat yang dihadirkan dalam buku ini barangkali seolah memberikan jeda untuk kita mengheningkan cipta bagi para pejuang dan orang-orang tak bersalah yang wafat dalam perang. Akhir cerita buku ini pun disajikan dengan hangat dan pas, tidak dilebih-lebihkan.

Saya berharap buku ini bisa menjadi salah satu buku yang mengisi waktu luang anak-anak milenial, generasi Z, dan Alfa. Untuk memberikan gambaran pada mereka yang lahir saat Indonesia sudah merdeka, bahwa perang bukanlah hal yang biasa-biasa saja, atau hanya legenda belaka yang cuma perlu diingat tanggal-tanggalnya.

Selasa, 5 Desember 2023

 

Apakah Disiplin itu Harus Galak?

Saat sesi tanya jawab, ada yang bertanya

“Apa beda tegas dengan galak?”

Jawabnya sederhana, “tegas bisa disampaikan dengan tersenyum”

Saya mengartikan bahwa tegas bisa disampaikan dengan lemah lembut. Sedangkan galak saat “mendisiplinkan” anak, ada kecenderungan yang membuat anak merasa terancam, takut, sedih, dan tersakiti.

Tahap usia dini adalah tahap untuk membangun fondasi koneksi antara anak dan orang tua. Kalau istilah Dr. Shefali, Connecting before Correcting. “Terhubung” dulu sebelum mengoreksi anak.

Disiplin itu pun masih tahap pengenalan ke anak. Jadi memang sudah dipastikan jalannya tidak selalu sebab akibat alias selalu mulus.

Mendisiplinkan berbeda dengan menghukum. Perbedaan mendasar adalah pada pemaknaan konsekuensi.

Anak menumpahkan air, konsekuensinya mengelap lantai. Masih ada hubungannya.

Anak mengacak-acak pakaian di lemari, konsekuensinya melipat kembali.

Jadi ketika anak menumpahkan air, kemudian konsekuensinya tidak diberikan snack, itu tidak ada hubungannya.

Anak mencoret tembok, kemudian anak disetrap, ini menghukum namanya, karena anak tidak melihat korelasi. Konsekuensi adalah dengan membersihkan tembok.

Tahap usia dini didisiplinkan dengan membangun rutinitas (sequence). Menentukan urutan-urutan kegiatan dari bangun hingga tidur. Karena mereka masih belum dapat bijaksana dalam mengambil keputusan.

Semisal, jam 4 sore mainan sudah berada ditempatnya. Bukan artinya jam 4 teng kita “gebah” anak untuk rapikan saat itu juga. Tapi dimulakan sejak awal.

“Nak, sekarang jam 2 siang, nanti main sampai jam 4 sore ya, (sambil tunjuk jam untuk mengajari konsep waktu). Nanti Ibu ingatkan setiap jam, dan kasih tau berapa lagi bisa main”

“Nak, masih ada satu jam lagi, masih lama”
“Nak, tinggal 15 menit lagi, sebentar lagi siap-siap rapikan ya karena kita akan makan malam”

Saat anak merapikan, kita dampingi.

Jadi perkara mendisiplinkan anak, tidak bisa dengan kalimat abstrak favorit kita semua (eh, saya aja kayaknya ini wkwk):

“Cepetan, nak!”,
“buruan, nak!”,
“Jangan lelet!”

kemudian anak diburu-buru dengan nada tidak menyenangkan dan ekspresi yang membuat kecemasan. Atau terbiasa menyogok anak untuk bergerak.

“Nanti ibu kasih nonton!”
“Nanti ibu kasih permen!”

Ketika ada mainan berceceran. Itu artinya ada kesempatan untuk menanamkan cara berpikir logis dan dampak.

“Nak, ini kalau ada mainan berceceran dan ibu atau ayah tidak lihat karena gelap, bisa terinjak dan kaki bisa kesakitan, yuk kita taruh ditempatnya”

Terkesan bertele-tele dan merepotkan memang menjelaskan seperti di atas. Tapi, itulah. Ibarat sedang merawat benih, ada perlakuan-perlakuan khusus agar tanaman bisa tumbuh dan berbuah dengan baik.

Anak jadi mengenal dampak. Bahwa segala hal memiliki konsekuensi dan tanggung jawab tertentu. Ada akibat dari sebab.

Mendisiplinkan anak berbeda dengan transfer pengetahuan. Tidak bisa hanya dengan metode ceramah.

Mendisiplinkan, artinya membangun keterampilan dan pembentukan sikap, dilakukan dengan metode: peragaan, simulasi, bermain peran.. adapun untuk membahas “kelalaian” anak, dilakukan pada waktu yang berbeda, misalnya sebelum tidur atau sedang bersantai.

Semoga Allah ridha dengan semua proses yang dijalankan. Semoga menjadi wasilah kepada perbaikan iman dan taqwa kita.

Semoga Allah senantiasa mudahkan kita semua.

Refleksi Materi @klastulistiwa
“Teknik Penanaman Karakter untuk Anak Muslim Usia Dini”

Senin, 20 Maret 2023

Mendisiplinkan Anak Muslim Usia Dini : Sebuah Refleksi

Bagaimana mengubah perilaku “menantang” anak usia dini?
Dulu. Waktu anak pertama masih bayi, ada seorang teman (ibu senior) memberikan wejangan yang mengganggu pikiran.
Saking mengganggunya, saya sampai sekarang masih ingat.
A7803217-E0BF-46B1-8259-B92504E8585E
“Anak itu (meski bayi), manipulatif, jadi harus tegas dan hati-hati”, maksudnya harus “didisiplinkan sejak dini”.
Menurut saya. Energi yang disampaikan ini negatif. Menganggap anak itu objek, kertas kosong yang perlu segera “diwarnai”, serta merupakan beban hidup yang siap menyita energi.
Anak itu pemberian Allah. Bukan daya dari manusia. Mereka adalah pribadi utuh sejak lahir. Punya hak-hak asasi yang harus dipenuhi.
Membesarkan anak itu, adalah bentuk pengabdian kita ke Allah. Jika sejak awal sudah menempatkan anak sebagai “musuh” yang perlu diwaspadai, apakah cinta bisa tumbuh?
Mindset. Pola pikir yang perlu direvisi. Bahwa setiap perilaku anak yang “menantang” itu bukan karena anak jahat. Tapi merupakan sebuah jendela belajar keluarga.
Anak mencoret dinding, ya karena mereka punya hasrat untuk menyalurkan kemampuan kognitifnya. Mereka lebih nyaman menggerakkan motoriknya (menulis) secara vertikal. Perlu diberikan alasan logis, fasilitas, dan ruang tabah yang banyak. Itu memang sudah menjadi “biaya” pengasuhan yang tak kasat.
Mendisiplinkan bukan supaya anak nurut. Kalem. Mau disuruh-suruh. Mudah diarahkan.
Mendisiplinkan, itu artinya kita MEMBANTU mereka menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupan ini.
Disiplin yang membentuk karakter.
Disiplin yang kelak akan memudahkan mereka mencapai tujuan.
Disiplin yang membuat mereka mengenal diri, sehingga mampu memahami arti sebuah konsekuensi.
Disiplin yang mampu mengasah rasa, sehingga mereka peka akan kapasitas diri, dan akhirnya mampu menciptakan batasan-batasan berdasarkan nilai yang diyakini.
Kita orang tua, bukan pusat semesta anak-anak dengan kebenaran yang maha absolut. Kita sendiri pun perlu dan harus belajar. Karena zaman berubah. Ada banyak sekali penelitian-penelitian yang mematahkan “mitos pengasuhan atau doktrin” yang kini sudah tak relevan.
Kita sedang menuju akhir zaman.
Tantangannya berbeda
Kebutuhannya berbeda
Tak bisa pakai cara yang sama
Apakah kita mau bertumbuh bersama mereka?
Mengasuh anak, ladang pahala
Berbakti kepada orang tua, ladang pahala
Saya jadi berpikir keras, Bagaimana cara agar kedua hal di atas dapat bersinggungan. Dijalankan sungguh-sungguh dan dengan suka cita.
Niat dan harapan tentu tidak akan pernah cukup.
Niat, doa, tawakal sejak awal memang menjadi rukun awal. Memang perlu ikhtiar yang bukan sembarang ikhtiar.
Akhirnya kita kembali disadarkan bahwa ketika kita ingin membuat anak disiplin. Pertama-tama memang orang tuanya dahulu yang sadar, dan mau disiplin juga.
Refleksi Materi @klastulistiwa
“Teknik Penanaman Karakter untuk Anak Muslim Usia Dini”
Ahad, 19 Maret 2023

Memaknai Hari yang Ideal vs Membangun Kebiasaan

Satu pesan yang paling terngiang-ngiang adalah saat penjelasan bahwa namanya MENENTUKAN PRIORITAS itu butuh BERKORBAN.

Berkorban untuk menyortir yang kita anggap penting, bahkan mendesak untuk bisa digeser agar hari menjadi lebih optimal.

Bahwa mendapatkan hari ideal setiap hari adalah sebuah sumber kusut dalam kehidupan. Sumber kekecewaan karena ternyata ekspektasi kita selama ini berlebihan.

Perasaan “hari yang tidak ideal” itu memang tidak perlu dilawan, tidak perlu dijadikan alasan untuk menghakimi diri. Perasaan itu memang tidak nyaman, ya hadirkan dan rasakan saja, biarkan dia nanti pergi dengan sendirinya berangsur-angsur karena kita pun fokus dan berkonsisten dalam perbaikan.

Itulah kenyataan yang harus kita hadapi. Barangkali kita selama ini hanya membuat rencana-rencana di alam pikiran. Dimana ketika semua dijalankan, ternyata banyak faktor di luar kendali yang akan mempengaruhi kenyataan (kejadian).

Kalau biasanya akan langsung bilang ke diri sendiri, “gimana sih, bikin plan aja ga becus!”, “tuh kan, gimana kedepannya kalau gini-gini terus!”, “susah berubah”.

Kenyataan memang berat, misalnya: beberapa hal dalam “to do list” harian kita yang berupa “hal-hal yang penting dan wah!”, ternyata harus dilepaskan (Letting go) karena menimbulkan penolakan dari tubuh kita sendiri

Karena untuk berubah dari kebiasaan menunda itu adalah sebuah hal sangat besar. Jangan sampai perasaan “selalu gagal” atau “nggak becus” membuat diri terpuruk tenggelam dalam lingkaran setan.

Karena yang kita ingin bangun itu kebiasaannya (otot yang bikin gerak otomatis). Maka langkah awal memang harus memilih dari yang paling kecil penolakannya. Pilih target yang membuat diri tidak punya pilihan untuk menunda karena ada perasaan “ah, gini doang mah kecil!”.

“Stupid small”. Mau konsisten olahraga, “Why” besar tidaklah cukup. Will power jika dipaksa terus menerus juga bisa habis, sehingga energi semakin lesu dan akhirnya habit pun mangkrak.

Pilih yang tergampang, sekecil mungkin, kemudian alokasikan saat bangun tidur atau saat mau tidur. Sekali lagi, alokasikan. Berikan slot waktu, meski hanya 1 menit.

1 menit konsisten, jauh lebih besar kemungkinan untuk sustain sehingga punya berdampak besar, ketimbang 1 jam yang kadang-kadang.

Perjalanan membangun habit ini perlu dilihat sebagai strategi yang gentle untuk meruntuhkan sistem yang sudah terpatri dalam diri kita.

Karena, diri kita ini sudah terlalu banyak sekali program-program otomatis yang membuat kita menunda aksi perubahan. Rasanya memang tidak nyaman melawan diri sendiri, dan ini perlu dimaklumi.

Pemakluman itu digunakan untuk kita agar tidak terlalu keras terhadap diri sendiri, apalagi ketika tidak bisa mencapai target ideal/optimal.

Jika hari ini terasa “gagal” alias hanya dapat target minimal, kita hanya perlu mencatat dan MOVE ON.

Keep going
Jalan lagi aja
Sambil terus audit diri dan refleksi

Di hari ke 14 ini, melihat catatan dan dokumentasi belajar anak yang apa adanya. Melihat tidak lagi dengan “aturan hari ini belajarnya A, B, C”, tapi dimulakan dengan bersyukur dengan anugerah untuk melanjutkan perbaikan.

(Golden Momen dari Pelatihan Habit Transformation oleh Rumah Inspirasi)

Rabu, 15 Maret 2023

 

Review Buku “Memilih” karya Ayu Primadini

A432F10C-2F1D-4B54-8C93-EB5A39DD95D1
Buy a book by it’s writer!

Membeli buku gara-gara penulisnya, yaitu . Ya, buku ini saya baca karena yakin isinya menarik.

Tahu penulisnya karena tahun lalu memang sedang suka mempelajari pemikiran dan metode Charlotte Mason yang cukup populer di kalangan pesekolah rumah (homeschooler).

Jadi ceritanya, penulis buku ini merupakan host di podcast Charlotte Mason Indonesia (CMID) yang menurut saya, selalu berhasil memberikan narasi, memantik diskusi dengan pertanyaan-pertanyaannya yang menggugah.

Ternyata saya tidak keliru. Buku ini kemudian menjadi buku pertama saya baca sampai habis di Tahun 2023. Barangkali, ini jenis buku yang bisa dihabiskan dalam sekali duduk di komuter Bogor-Kota. Tipe buku yang asyik banget buat bekel di kafe sendirian.

Berisi esai reflektif tentang pekerjaan sejati manusia yaitu “memilih”. Di era penuh distraksi seperti sekarang ini memang kerap membuat kita menjalankan hidup tanpa sadar. Semua berjalan otomatis. Bangun tidur langsung raih ponsel untuk cek notifikasi. Seolah setiap keputusan dilakukan secara impulsif tanpa mau melihat motif dibalik pilihan-pilihan tindakan kita.

Lihat teman berlibur ke eropa, jemari auto buka penyedia tiket pesawat untuk ikutan cek harga. Lihat anak teman ikut kursus, besoknya ikutan juga. Kita merasa dikejar-kejar dan tak rela ketinggalan hal kekinian.

Ada pula yang merasa “memilih” untuk menjadi “anti-mainstream”. Padahal jika dipikir mendalam, bukankah keputusan menjadi anti-mainstream itu sendiri karena pengaruh hal mainstream. Ingin beda dari yang kebanyakan. Artinya, memilih melakukan karena ingin pembuktian bahwa “saya berbeda”. Memilih bukan karena kebutuhan diri, tapi karena ikut arus eksistensi.

Kita enggan mengambil jeda untuk mengupas “strong why” dalan tiap keputusan yang diambil. Mengapa demikian? Tentu saja karena kenyataan tidak selalu menyenangkan. Kita akan bertemu dengan kerapuhan diri yang selama ini tidak ingin kita terima dan akui.

FDB884DD-A395-45CF-BD2C-77A1EB0518C9

Banyak sekali hal yang sepemikiran alias relate dengan kehidupan saya. Jenis buku yang kadang sampai heran, oh ternyata seringkali manusia punya inner voice yang kurang lebih sama.

Buku ini berhasil mengingatkan saya untuk tidak bosan-bosan meluangkan waktu untuk evaluasi dan refleksi diri.

Juga tentang gagasan-gagasan yang mencerahkan tentang konsep pasangan hidup bukanlah belahan jiwa. Karena jika cuma sebelah, kita akan merasa pasanganlah yang membuat kita utuh. Kadang jika demikian, akan berbahaya karena artinya kita selalu merasa kurang dan menuntut pasangan untuk sesuai dengan ekspektasi.

Kita adalah manusia yang utuh. Adapun peran pasangan, adalah untuk bisa bertumbuh bersama untuk tujuan yang satu. Sahabat yang selalu mengingatkan dan partner dalam menjalankan amanah hidup.

Ada bagian-bagian menarik semisal bicara tentang otoritas. Apakah ada kondisi dimana manusia tidak punya pilihan? Bahwa pasti pernah kita gemas sekali jika ada teman yang curhat bahwa hidupnya menderita, tapi dia tak juga pindah atau berusaha keluar dari lingkungan itu.

Ia bilang, tak punya pilihan. Padahal tiap pribadi selalu punya ruang otoritas jika ia mau dan berani. Hanya perlu mengupas diri lebih dalam, mengurai rasa takut dan cemas yang menghantam pikiran.

Semua pemikiran mendalam ini dituliskan dengan bahasa yang sederhana dan mengalir adanya. Saya suka sekali pemilihan diksi yang digunakan penulis.

Buku setebal 127 ini memuat 16 esai pendek yang akan membuat kalian berujar, “oh iya juga ya..”.

Hal yang paling nyata adalah tentang realita media sosial dan teknologi yang sekarang membuat kehidupan seperti sibuk tak berujung. Makin banyak hal yang (seolah) harus dikejar dan silaturahim maya yang kian menggerus sistem sosial kemasyarakatan kita.

Kita merasa perlu “keep in touch” dengan sahabat yang jauh di sana. FOMO dengan unggahan-ungahan mereka, namun abai dengan yang ada di depan mata. Kualitas koneksi menurun dan cenderung dangkal.

Lagi-lagi, barangkali keruwetan hidup kita ini biang keroknya karena tiap keputusan yang diambil sehari-hari tidak lagi didasari oleh intensi sadar dan motif mendalam.

Semisal, memilih pakaian hanya karena kekinian. Enggan memilih karena ketinggalan zaman padahal nyaman dikenakan. Kegiatan memilih yang kemudian dilandasi penilaian orang, bukan penilaian sendiri.

Memilih jurusan kuliah hanya karena kampusnya negeri, meski di tempat yang tak sepenuhnya dimengerti karena yang penting sedikit pesaingnya.

Di ujung perjalanan kemudian mengapa hidupku begini. Padahal sejak awal tak mau dengarkan diri sendiri. Sejak kecil terbiasa untuk mengikuti apa yang tenar, bukan yang benar.

Oh iya, di dalam bukunya juga penulis suka menyampaikan kutipan-kutipan dari buku yang beliau baca. Saya paling suka baca yang seperi ini karena serasa sakali dayung dua pulau terlampaui.

Ini tu modelan buku yang cocok banget buat kado adik-adik kita yang lagi mau belajar baca buku non fiksi. Kayak buat kasih nasehat tapi caranya alus, karena isinya banyak petuah-petuah yang bakalan relate sama generasi milenial, Z, dan alfa.

 

Taipei, 6


Maret 2023

Metode ABC (Amati-Bayangkan-Cari Tahu): Keterampilan Berpikir yang Sering Terabaikan

 

Menginjak usia 32 tahun, semakin memahami bahwa begitu banyak metode yang bisa digunakan untuk meningkatkan keterampilan berpikir dan mengambil keputusan. Saya sendiri berharap bahwa soft-skill yang satu ini bisa saya ketahui sedini mungkin.

Ada begitu banyak alasan, beberapa diantaranya adalah:

  1. Bisa lebih mengenal diri sendiri.
  2. Bisa lebih kritis dalam melihat menghadapi peristiwa atau permasalahan.
  3. Bisa lebih percaya diri dalam mengambil keputusan.
  4. Bisa lebih peka terhadap hal-hal detail yang selama ini tidak terlalu diperhatikan.
  5. Bisa lebih sadar dan penuh intensi dalam melakukan tiap kegiatan.

Sebetulnya metode Amati-Bayangkan-Cari Tahu ini sudah sering sekali kita lakukan, namun lebih sering lagi kalau kita tidak sadar telah melakukannya. Itu semua karena budaya buru-buru dan rutinitas yang kerap kita lakukan. Kita, saya lebih tepatnya, lebih sering melakukan aktivitas tanpa berkesadaran penuh, atau bahasa kerennya, tidak mindful.

Hal yang wajar, karena memang barangkali 80% aktivitas kita sehari-hari sudah terprogram dalam alam bawah sadar. Beberapa bulan ini, saya mulai menerapkan metode ini (waktu itu belum tahu namanya) dalam mengamati ketika diri sendiri marah atau kesal ke anak-anak.

Step 1 – Amati

Apa yang saya lihat sehingga membuat saya marah? perkataan atau suara apa yang membuat saya tidak nyaman? perlakuan atau sentuhan apa yang membuat saya risih dan kesal? aroma apa yang memicu emosi negatif saya? rasa apa yang sedang saya alami sebetulnya (berkaitan dengan mekanisme biologis tubuh saya)?.

Setelah mulai mengamati apa yang dialami diri sendiri, ternyata saya sering terpicu untuk marah ketika dalam kondisi tubuh lapar,kelelahan (ngantuk), pegal-pegal, dan ingin berkemih. Saya relatif ingin semua bergerak cepat (misal ketika anak memakai sepatu atau pakaian). Padahal, ada rasa tidak nyaman karena ada kebutuhan yang belum terpenuhi dari diri sendiri.

Contoh yang berkaitan dengan indera penglihatan, melihat nuansa dan kondisi rumah berantakan, saya merasa tidak nyaman sehingga suka terlintas emosi negatif yang muncul ketika anak “melakukan eksplorasi” dengan mengamburkan aneka barang.

Permisalan lain adalah ketika mencium aroma pesing dari anak, membuat diri waswas akan najis tersebut, sehingga justru ada sensasi emosi negatif dan cenderung menyalahkan ini semua karena anak yang belum lulus toilet training. Sehingga dari persoalan tersebut saya sudah bisa membuat diri tidak rasional dan mudah ter-trigger untuk merilis kekesalan lewat mimik wajah dan suara.

Saya juga mengamati ketika emosi ini melanda, napas terasa pendek-pendek. Jantung kadang berdebar dan ada perasaan sesak di bagian dada. Dalam kasus tertentu, misal yang mengganggu indra penciuman, terkadang ada rasa mual.

Step 2 – Bayangkan

Setelah mengamati, tahap berikutnya adalah membayangkan. Bayangkan ketika anak menumpahkan makanan/buang air kecil di lantai/bertengkar dengan saudaranya sampai terjadi teriakan dan tangisan, bisa langsung dilakukan dengan bertanya ke diri sendiri dan menyelesaikan persoalan dengan diri sendiri dahulu.

“Oke, sekarang apa yang sebetulnya terjadi? apa sedang lapar? kelelahan? ingin berkemih? apa sedang ada janji atau tugas lain yang harus diselesaikan?”, intinya segera bertanya ke diri sendiri tentang suasana/emosi negatif apa yang menyertai diri ini.

Bertanya juga dengan diri sendiri, mengingat-ingat prinsip bahwa setiap peristiwa yang terjadi pada anak adalah peluang untuk bisa diambil pelajaran oleh mereka dan kita orang tuanya. Sehingga marah dan bentakan bukanlah hal yang sepatutnya diluncurkan dalam situasi genting ini.

Bayangkan pula apa yang akan terjadi jika kita meluapkan emosi yang salah kepada anak-anak. Bayangkan truma dan luka batin yang akan menetap dalam anak-anak kita kelak, entah sampai kapan.

Ingat-ingat dan bayangkan bahwa Allah adalah CCTV sejati yang selalu mengamati gerak-gerik dan bahkan pikiran kita. Apakah kita akan menyerah dengan hawa nafsu amarah, atau akan maju melawan dorongan marah itu?

Step 3 – Cari Tahu

Langkah ini adalah langkah untuk bereksperimen, mencoba-coba hal yang kemudian bisa menjadi solusi akan permasalahan yang ada.

Dalam contoh di atas, ternyata sudah coba diamati dan dibayangkan berbagai kemungkinan yang ada. Saatnya membuat prosedur penyelesaian yang bisa mengurangi risiko negatif atau bahkan mengubah masalah menjadi hal yang justru penuh manfaat.

Solusi pertama adalah mulai menjurnal untuk menuliskan refleksi harian terutama akan kejadian-kejadian tentang emosi negatif ini. Ternyata dengan menuliskan perasaan negatif yang bisa memicu amarah ke anak, terbukti membuat lebih sadar dan berkurang khilaf marah-marahnya ke anak. Karena ketika dituliskan, hal yang membuat marah justru menjadi terlihat sangat sepele. Sampai malu sendiri dibuatnya.

Eksperimen selanjutnya adalah melakukan latihan hidup berkesadaran. Baik secara statis maupun dinamis. Memperhatikan napas ketika duduk saja, atau dalam aktivitas harian. Selama ini, saking sudah tahu caranya bernapas, kita jadi merasa tidak perlu berlatih napas. Padahal latihan napas ini krusial, dan manfaatnya sangat banyak. Paling tidak, membuat state diri kita menjadi lebih kalem.

Lagi pula, beberapa teori kan juga bilang bahwa ketika akan marah, coba tahan 3 hingga 6 tarikan napas panjang untuk membuat kepala lebih dingin dan sikap lebih rasional.

Langkah terakhir yang dilakukan adalah dengan menuliskan keberhasilan-keberhasilan kecil saat sukses mengendalikan emosi negatif. DItuliskan untuk menghindari diri dari perasaan “tidak mampu berubah”, padahal namanya perubahan dilakukan setahap demi setahap. Hidup ini, kan proses.

Pengalaman ber-ABC dengan Anak-anak

Sejak berlatih mindful dan menjurnal, saya merasakan bahwa mulai mempraktekkan dengan anak-anak. Misalnya saja saat mengajak anak berkegiatan di dapur, membuat telur dadar.

Saya mengamati lebih jeli lagi, binar mata dan keterampilan tangannya. Juga dengan mengamati reaksi mereka saat diberikan instruksi.

Kemudian langkah berikutnya, bertanya tentang tekstur kulit telur, lekuk-lekuk tajamnya ketika sudah dipecahkan, dan menanyakan seperti apa rasanya memegang telur mentah itu (imajinasi mereka).

Langkah berikutnya adalah mencari tahu apa yang harus dilakukan jika ada potongan kulit telur yang masuk ke dalam mangkuk. Saat anak mengaduk terlalu cepat, dan menumpahkan sebagian telur, kita kemudian mendiskusikan apa yang harus dilakukan untuk membersikan lantai dan sikap yang harus dilakukan agar tidak tumpah lagi.

Dari kegiatan sederhana, kemudian menjadi sangat luar biasa karena orangt tua betul-betul hadir saat bermain bersama anak.

Ternyata ketika kita menyambut peran orang tua, disitu pula saatnya kualitas diri kita bertambah karena kita mau belajar dan memperbaiki diri.

 

#excercise4

 

 

Ide Permainan Berbasis STEAM untuk Usia Dini

Saya selalu teringat kata-kata Ustadz Harry Santosa (alm) saat menjelaskan tentang pendidikan berbasis fitrah.

Belajar itu mulai dari yang ada, tidak perlu mengada-ada.

Ternyata kutipan ini juga yang termasuk sering diungkapkan oleh Mas Aar dan Mbak Lala melalui kelas-kelasnya di rumah inspirasi.

Setiap peristiwa adalah jendela belajar bagi orang tua dan anak-anak.

Iya juga ya, terkadang orang tua malah sibuk mencari dan mengada-ada untuk pengadaan mainan edukasi. Padahal jendela belajar anak bisa kita dapatkan di seluruh penjuru rumah kita atau saat berjalan-jalan santai ke taman. Syaratnya tentu saja, orang tua yang selalu mau belajar, dan peka terhadap sekelilingnya.

Kali ini, ibu-ibu di Komunitas Ibu Main STrEAM, diminta untuk menemukan jenis aktivitas sehari-hari yang dekat dengan kita, serta mengandung unsur-unsur Sains, Teknologi, Teknik, Seni, dan Matematika di dalamnya.

Aktivitas di Dapur atau Bermain Masak-masakan.

Dapur adalah laboratorium belajar anak yang mungkin hampir semua orang punya. Jika kita cermati, banyak sekali aktivitas yang bisa kita eksplorasi bersama anak-anak, yuk kita coba bedah bersama!

Kegiatan Anak-Anak di Dapur
Kegiatan Anak-Anak di Dapur

Aspek Science (segala fenomena yang terjadi di alam, keterampilan proses science: mengamati, membuat pertanyaan, membuat prediksi, merancang, melaksanakan eksperimen, dan berdiskusi).

kedengerannya berat, padahal, kita hanya perlu mengeluarkan jurus andalan ketika mendampingi anak belajar, yaitu NGOBROL.

Beberapa aspek sains yang ada dalam aktivitas di dapur ini:

  • Mengamati batang kangkung yang mengapung.
  • Adonan tepung yang menggumpal ketika dicampur cairan.
  • Cokelat yang meleleh ketika dipanaskan.
  • Spons cuci piring yang mengeluarkan busa ketika diremas dengan sabun.

Aspek Technology Traditional (inovasi dalam memodifikasi alam, agar dapat memenuhi kebutuhan & keinginan manusia, dalam hal ini meliputi segala peralatan yang dapat mempermudah pekerjaan manusia). Beberapa aspek teknologi yang ada dalam aktivitas di dapur ini:

  • Penggunaan timbangan untuk mengukur takaran bahan kue.
  • Penggunaan mixer saat membuat adonan brownies.
  • Penggunaan oven untuk memanggang kue.
  • Penggunaan kursi agar anak dapat menjangkau keran saat mencuci piring.
  • Penggunaan saringan untuk mengayak tepung atau mengangkat batang kangkung dalam wadah berisi air.

Aspek Engineering/Teknik (berupa pengetahuan dan keterampilan mendesain serta mengkontruksi mesin, peralatan, sistem, material yang bermanfaat bagi manusia, secara ekonomis dan ramah lingkungan).

Untuk bisa memahami aspek ini, memang perlu banyak mencari tahu sumber-sumber apa saja yang termasuk dalam keterampilan teknik.

Intinya sih, keterampilan ini nantinya agar kita dapat memecahkan masalah pada saat menggunakan bahan, desain, kerajinan, dan bangunan. Juga untuk membantu kita memahami bagaimana dan mengapa suatu benda atau alat itu bekerja.

dhuhad

Beberapa aspek engineering/teknik yang ada dalam aktivitas di dapur ini:

  • Spons harus diremas agar dapat mengeluarkan busa.
  • Menyusun sate dari mainan yang berlubang menggunakan pensil, ditata supaya tidak jatuh berhamburan.
  • Menyusun sate menggunakan marshmallow, anak memahami bahwa tusuk bagian tajam berfungsi agar bahan sate dapat mudah terpasang.

Aspek Art/Seni (Pola pikir kreatif membantu para ilmuwan, pembuat dan pengembang teknologi, insinyur, dan ahli matematika dalam berinovasi dan menyelesaikan masalah yang ada di dunia ini. Bereksplorsi secara aktif dengan seni dalam kehidupan sehari-hari membantu kita untuk mengekspresikan apa yang kita ketahui dan rasakan.)

Membuat kue dari aneka bahan
Membuat kue ulang tahun dan ekspresi wajah

Beberapa aspek Art/seni yang ada dalam aktivitas dapur atau masak-masakan ini:

  • Menghias kue bolu atau brownies.
  • Membuat dekorasi kue ulang tahun menggunakan sejumlah bahan-bahan yang berserak di taman.
  • Bernyanyi bersama.
  • Bermain peran menjadi koki dan penjual makanan.

Aspek Matematika (Ilmu tentang pola-pola, hubungan-hubungan, dan menyediakan bahasa bagi teknologi, sains, dan engineering).

Angka, bilangan dan operasi, pengukuran, pola, geometri, serta ruang dan spasial adalah bagian matematika yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan logika sistematis dan pemodelan dapat memecahkan masalah kehidupan.

Beberapa aspek Matematika yang ada dalam aktivitas dapur atau masak-masakan ini:

  • Mengukur bahan kue menggunakan timbangan.
  • Menuang air ke dalam wadah.
  • Mengambilkan bahan kue sejumlah bilangan yang dibutuhkan.
  • Menghitung jumlah potongan kue atau jumlah telur yang akan dipakai.
  • Mengklasifikasikan sate-satean berdasarkan warna.
  • Menyebutkan nama bentuk (geometri) dari bahan-bahan dan peralatan yang digunakan.

Wah, ternyata anak-anak bisa mendapatkan pengalaman yang banyak sekali ya lewat kegiatan sehari-hari ini. Tinggal saya sebagai fasilitator yang harus terus berlatih agar bisa membawakan semua itu secara mengasyikkan buat anak-anak. Sehingga anak melihat proses belajar ini, adalah pengalaman yang sangat menyenangkan dan dinanti-nanti.

Referensi definisi STEAM saya sarikan dan cuplik dari website Rumah Main STrEAM:

Rumah Main STrEAM, didirikan pada tahun 2018, merupakan “rumah” kedua bagi keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk terlibat dengan pembelajaran dan bermain berbasis STEAM (Sains, Teknologi, Teknik, Seni, dan Matematika).  https://www.rumahmainstream.org/