Metode ABC (Amati-Bayangkan-Cari Tahu): Keterampilan Berpikir yang Sering Terabaikan

 

Menginjak usia 32 tahun, semakin memahami bahwa begitu banyak metode yang bisa digunakan untuk meningkatkan keterampilan berpikir dan mengambil keputusan. Saya sendiri berharap bahwa soft-skill yang satu ini bisa saya ketahui sedini mungkin.

Ada begitu banyak alasan, beberapa diantaranya adalah:

  1. Bisa lebih mengenal diri sendiri.
  2. Bisa lebih kritis dalam melihat menghadapi peristiwa atau permasalahan.
  3. Bisa lebih percaya diri dalam mengambil keputusan.
  4. Bisa lebih peka terhadap hal-hal detail yang selama ini tidak terlalu diperhatikan.
  5. Bisa lebih sadar dan penuh intensi dalam melakukan tiap kegiatan.

Sebetulnya metode Amati-Bayangkan-Cari Tahu ini sudah sering sekali kita lakukan, namun lebih sering lagi kalau kita tidak sadar telah melakukannya. Itu semua karena budaya buru-buru dan rutinitas yang kerap kita lakukan. Kita, saya lebih tepatnya, lebih sering melakukan aktivitas tanpa berkesadaran penuh, atau bahasa kerennya, tidak mindful.

Hal yang wajar, karena memang barangkali 80% aktivitas kita sehari-hari sudah terprogram dalam alam bawah sadar. Beberapa bulan ini, saya mulai menerapkan metode ini (waktu itu belum tahu namanya) dalam mengamati ketika diri sendiri marah atau kesal ke anak-anak.

Step 1 – Amati

Apa yang saya lihat sehingga membuat saya marah? perkataan atau suara apa yang membuat saya tidak nyaman? perlakuan atau sentuhan apa yang membuat saya risih dan kesal? aroma apa yang memicu emosi negatif saya? rasa apa yang sedang saya alami sebetulnya (berkaitan dengan mekanisme biologis tubuh saya)?.

Setelah mulai mengamati apa yang dialami diri sendiri, ternyata saya sering terpicu untuk marah ketika dalam kondisi tubuh lapar,kelelahan (ngantuk), pegal-pegal, dan ingin berkemih. Saya relatif ingin semua bergerak cepat (misal ketika anak memakai sepatu atau pakaian). Padahal, ada rasa tidak nyaman karena ada kebutuhan yang belum terpenuhi dari diri sendiri.

Contoh yang berkaitan dengan indera penglihatan, melihat nuansa dan kondisi rumah berantakan, saya merasa tidak nyaman sehingga suka terlintas emosi negatif yang muncul ketika anak “melakukan eksplorasi” dengan mengamburkan aneka barang.

Permisalan lain adalah ketika mencium aroma pesing dari anak, membuat diri waswas akan najis tersebut, sehingga justru ada sensasi emosi negatif dan cenderung menyalahkan ini semua karena anak yang belum lulus toilet training. Sehingga dari persoalan tersebut saya sudah bisa membuat diri tidak rasional dan mudah ter-trigger untuk merilis kekesalan lewat mimik wajah dan suara.

Saya juga mengamati ketika emosi ini melanda, napas terasa pendek-pendek. Jantung kadang berdebar dan ada perasaan sesak di bagian dada. Dalam kasus tertentu, misal yang mengganggu indra penciuman, terkadang ada rasa mual.

Step 2 – Bayangkan

Setelah mengamati, tahap berikutnya adalah membayangkan. Bayangkan ketika anak menumpahkan makanan/buang air kecil di lantai/bertengkar dengan saudaranya sampai terjadi teriakan dan tangisan, bisa langsung dilakukan dengan bertanya ke diri sendiri dan menyelesaikan persoalan dengan diri sendiri dahulu.

“Oke, sekarang apa yang sebetulnya terjadi? apa sedang lapar? kelelahan? ingin berkemih? apa sedang ada janji atau tugas lain yang harus diselesaikan?”, intinya segera bertanya ke diri sendiri tentang suasana/emosi negatif apa yang menyertai diri ini.

Bertanya juga dengan diri sendiri, mengingat-ingat prinsip bahwa setiap peristiwa yang terjadi pada anak adalah peluang untuk bisa diambil pelajaran oleh mereka dan kita orang tuanya. Sehingga marah dan bentakan bukanlah hal yang sepatutnya diluncurkan dalam situasi genting ini.

Bayangkan pula apa yang akan terjadi jika kita meluapkan emosi yang salah kepada anak-anak. Bayangkan truma dan luka batin yang akan menetap dalam anak-anak kita kelak, entah sampai kapan.

Ingat-ingat dan bayangkan bahwa Allah adalah CCTV sejati yang selalu mengamati gerak-gerik dan bahkan pikiran kita. Apakah kita akan menyerah dengan hawa nafsu amarah, atau akan maju melawan dorongan marah itu?

Step 3 – Cari Tahu

Langkah ini adalah langkah untuk bereksperimen, mencoba-coba hal yang kemudian bisa menjadi solusi akan permasalahan yang ada.

Dalam contoh di atas, ternyata sudah coba diamati dan dibayangkan berbagai kemungkinan yang ada. Saatnya membuat prosedur penyelesaian yang bisa mengurangi risiko negatif atau bahkan mengubah masalah menjadi hal yang justru penuh manfaat.

Solusi pertama adalah mulai menjurnal untuk menuliskan refleksi harian terutama akan kejadian-kejadian tentang emosi negatif ini. Ternyata dengan menuliskan perasaan negatif yang bisa memicu amarah ke anak, terbukti membuat lebih sadar dan berkurang khilaf marah-marahnya ke anak. Karena ketika dituliskan, hal yang membuat marah justru menjadi terlihat sangat sepele. Sampai malu sendiri dibuatnya.

Eksperimen selanjutnya adalah melakukan latihan hidup berkesadaran. Baik secara statis maupun dinamis. Memperhatikan napas ketika duduk saja, atau dalam aktivitas harian. Selama ini, saking sudah tahu caranya bernapas, kita jadi merasa tidak perlu berlatih napas. Padahal latihan napas ini krusial, dan manfaatnya sangat banyak. Paling tidak, membuat state diri kita menjadi lebih kalem.

Lagi pula, beberapa teori kan juga bilang bahwa ketika akan marah, coba tahan 3 hingga 6 tarikan napas panjang untuk membuat kepala lebih dingin dan sikap lebih rasional.

Langkah terakhir yang dilakukan adalah dengan menuliskan keberhasilan-keberhasilan kecil saat sukses mengendalikan emosi negatif. DItuliskan untuk menghindari diri dari perasaan “tidak mampu berubah”, padahal namanya perubahan dilakukan setahap demi setahap. Hidup ini, kan proses.

Pengalaman ber-ABC dengan Anak-anak

Sejak berlatih mindful dan menjurnal, saya merasakan bahwa mulai mempraktekkan dengan anak-anak. Misalnya saja saat mengajak anak berkegiatan di dapur, membuat telur dadar.

Saya mengamati lebih jeli lagi, binar mata dan keterampilan tangannya. Juga dengan mengamati reaksi mereka saat diberikan instruksi.

Kemudian langkah berikutnya, bertanya tentang tekstur kulit telur, lekuk-lekuk tajamnya ketika sudah dipecahkan, dan menanyakan seperti apa rasanya memegang telur mentah itu (imajinasi mereka).

Langkah berikutnya adalah mencari tahu apa yang harus dilakukan jika ada potongan kulit telur yang masuk ke dalam mangkuk. Saat anak mengaduk terlalu cepat, dan menumpahkan sebagian telur, kita kemudian mendiskusikan apa yang harus dilakukan untuk membersikan lantai dan sikap yang harus dilakukan agar tidak tumpah lagi.

Dari kegiatan sederhana, kemudian menjadi sangat luar biasa karena orangt tua betul-betul hadir saat bermain bersama anak.

Ternyata ketika kita menyambut peran orang tua, disitu pula saatnya kualitas diri kita bertambah karena kita mau belajar dan memperbaiki diri.

 

#excercise4

 

 

Ide Permainan Berbasis STEAM untuk Usia Dini

Saya selalu teringat kata-kata Ustadz Harry Santosa (alm) saat menjelaskan tentang pendidikan berbasis fitrah.

Belajar itu mulai dari yang ada, tidak perlu mengada-ada.

Ternyata kutipan ini juga yang termasuk sering diungkapkan oleh Mas Aar dan Mbak Lala melalui kelas-kelasnya di rumah inspirasi.

Setiap peristiwa adalah jendela belajar bagi orang tua dan anak-anak.

Iya juga ya, terkadang orang tua malah sibuk mencari dan mengada-ada untuk pengadaan mainan edukasi. Padahal jendela belajar anak bisa kita dapatkan di seluruh penjuru rumah kita atau saat berjalan-jalan santai ke taman. Syaratnya tentu saja, orang tua yang selalu mau belajar, dan peka terhadap sekelilingnya.

Kali ini, ibu-ibu di Komunitas Ibu Main STrEAM, diminta untuk menemukan jenis aktivitas sehari-hari yang dekat dengan kita, serta mengandung unsur-unsur Sains, Teknologi, Teknik, Seni, dan Matematika di dalamnya.

Aktivitas di Dapur atau Bermain Masak-masakan.

Dapur adalah laboratorium belajar anak yang mungkin hampir semua orang punya. Jika kita cermati, banyak sekali aktivitas yang bisa kita eksplorasi bersama anak-anak, yuk kita coba bedah bersama!

Kegiatan Anak-Anak di Dapur

Kegiatan Anak-Anak di Dapur

Aspek Science (segala fenomena yang terjadi di alam, keterampilan proses science: mengamati, membuat pertanyaan, membuat prediksi, merancang, melaksanakan eksperimen, dan berdiskusi).

kedengerannya berat, padahal, kita hanya perlu mengeluarkan jurus andalan ketika mendampingi anak belajar, yaitu NGOBROL.

Beberapa aspek sains yang ada dalam aktivitas di dapur ini:

  • Mengamati batang kangkung yang mengapung.
  • Adonan tepung yang menggumpal ketika dicampur cairan.
  • Cokelat yang meleleh ketika dipanaskan.
  • Spons cuci piring yang mengeluarkan busa ketika diremas dengan sabun.

Aspek Technology Traditional (inovasi dalam memodifikasi alam, agar dapat memenuhi kebutuhan & keinginan manusia, dalam hal ini meliputi segala peralatan yang dapat mempermudah pekerjaan manusia). Beberapa aspek teknologi yang ada dalam aktivitas di dapur ini:

  • Penggunaan timbangan untuk mengukur takaran bahan kue.
  • Penggunaan mixer saat membuat adonan brownies.
  • Penggunaan oven untuk memanggang kue.
  • Penggunaan kursi agar anak dapat menjangkau keran saat mencuci piring.
  • Penggunaan saringan untuk mengayak tepung atau mengangkat batang kangkung dalam wadah berisi air.

Aspek Engineering/Teknik (berupa pengetahuan dan keterampilan mendesain serta mengkontruksi mesin, peralatan, sistem, material yang bermanfaat bagi manusia, secara ekonomis dan ramah lingkungan).

Untuk bisa memahami aspek ini, memang perlu banyak mencari tahu sumber-sumber apa saja yang termasuk dalam keterampilan teknik.

Intinya sih, keterampilan ini nantinya agar kita dapat memecahkan masalah pada saat menggunakan bahan, desain, kerajinan, dan bangunan. Juga untuk membantu kita memahami bagaimana dan mengapa suatu benda atau alat itu bekerja.

dhuhad

Beberapa aspek engineering/teknik yang ada dalam aktivitas di dapur ini:

  • Spons harus diremas agar dapat mengeluarkan busa.
  • Menyusun sate dari mainan yang berlubang menggunakan pensil, ditata supaya tidak jatuh berhamburan.
  • Menyusun sate menggunakan marshmallow, anak memahami bahwa tusuk bagian tajam berfungsi agar bahan sate dapat mudah terpasang.

Aspek Art/Seni (Pola pikir kreatif membantu para ilmuwan, pembuat dan pengembang teknologi, insinyur, dan ahli matematika dalam berinovasi dan menyelesaikan masalah yang ada di dunia ini. Bereksplorsi secara aktif dengan seni dalam kehidupan sehari-hari membantu kita untuk mengekspresikan apa yang kita ketahui dan rasakan.)

Membuat kue dari aneka bahan

Membuat kue ulang tahun dan ekspresi wajah

Beberapa aspek Art/seni yang ada dalam aktivitas dapur atau masak-masakan ini:

  • Menghias kue bolu atau brownies.
  • Membuat dekorasi kue ulang tahun menggunakan sejumlah bahan-bahan yang berserak di taman.
  • Bernyanyi bersama.
  • Bermain peran menjadi koki dan penjual makanan.

Aspek Matematika (Ilmu tentang pola-pola, hubungan-hubungan, dan menyediakan bahasa bagi teknologi, sains, dan engineering).

Angka, bilangan dan operasi, pengukuran, pola, geometri, serta ruang dan spasial adalah bagian matematika yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan logika sistematis dan pemodelan dapat memecahkan masalah kehidupan.

Beberapa aspek Matematika yang ada dalam aktivitas dapur atau masak-masakan ini:

  • Mengukur bahan kue menggunakan timbangan.
  • Menuang air ke dalam wadah.
  • Mengambilkan bahan kue sejumlah bilangan yang dibutuhkan.
  • Menghitung jumlah potongan kue atau jumlah telur yang akan dipakai.
  • Mengklasifikasikan sate-satean berdasarkan warna.
  • Menyebutkan nama bentuk (geometri) dari bahan-bahan dan peralatan yang digunakan.

Wah, ternyata anak-anak bisa mendapatkan pengalaman yang banyak sekali ya lewat kegiatan sehari-hari ini. Tinggal saya sebagai fasilitator yang harus terus berlatih agar bisa membawakan semua itu secara mengasyikkan buat anak-anak. Sehingga anak melihat proses belajar ini, adalah pengalaman yang sangat menyenangkan dan dinanti-nanti.

Referensi definisi STEAM saya sarikan dan cuplik dari website Rumah Main STrEAM:

Rumah Main STrEAM, didirikan pada tahun 2018, merupakan “rumah” kedua bagi keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk terlibat dengan pembelajaran dan bermain berbasis STEAM (Sains, Teknologi, Teknik, Seni, dan Matematika).  https://www.rumahmainstream.org/

 

Tentang Etika Menghargai Karya Cipta Orang Lain

Foto: Anna Shvets via Pexels

Foto: Anna Shvets via Pexels

Berikut ini saya akan membagikan refleksi dari Orientasi ke-2 dari Komunitas Ibu Main STrEAM tentang pemahaman tentang HaKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual).

Sebelumnya, saya akan menceritakan secara singkat garis besar materinya, yaaa..

MENGAPA KITA HARUS PEDULI HaKI?

Sekarang saya ingin memberi sebuah gambaran,

Bagaimana pendapat Anda jika anda seorang desain grafis, kemudian ada orang lain yang tanpa izin menggunakan mencetak karya-karya anda dan dijual untuk kepentingan mereka?

Bagaimana jika anda seorang penulis, kemudian kata-kata anda dikutip sebagian atau mungkin seluruhnya, dan diganti dengan nama orang lain untuk diikutsertakan dalam lomba atau dalam karya tulis mereka?

Bagaimana jika anda seorang pembuat kue, melakukan percobaan dan gagal berkali-kali sampai akhirnya menemukan formula resep sukses, kemudian ada orang lain menggunakan resep Anda, tanpa mencantumkan nama Anda untuk popularitas mereka?

dan masih banyak lagi.

Tentu anda akan sedih, merasa tidak dihargai, kecewa, gondok, marah, jengkel dan ingin ngamuk.

Mengapa? ya karena Anda yang sudah menciptakan atau membuat usaha keras, tapi ada orang lain yang memotong jalan pintas itu untuk keuntungan pribadi.

Dengan empati ini, tentu kita harusnya langsung sadar bahwa namanya karya cipta orang lain itu haruslah mendapatkan perhatian dan kepedulian. Cara sederhana adalah dengan mencantumkan nama mereka, tidak mengkomersialisasikan (mencari keuntungan), dan meminta izin jika akan menggunakan karya mereka.

MAU TIDAK MAU HARUS MELEK & PEDULI HAKI

Saya dan Anda pasti (kemungkinan besar), kita akan bersinggungan dengan HaKI,  karena sejatinya, di era digital saat ini, semua orang yang memposting sesuatu untuk publik adalah pembuat konten (content creator). Tidak sedikit, kita juga membutuhkan media visual, teks, suara/musik, dan video untuk menunjang apa yang ingin kita sampaikan di media sosial. Ketika media penunjang itu kita main asal comot saja dari karya orang lain, kemudian tidak menyertakan sumber atau atas izin mereka, sama saja kita seperti pencuri.

Tujuan HaKI adalah untuk melindungi hak atas kekayaan intelektual adalah untuk melindungi si pemilik karya. (Sumber: talenta.co)

 

SOLUSI : PELAJARI JENIS-JENIS KODE LISENSI

Sumber: wikimedia.org (Creative commons license spectrum.)

Sumber: wikimedia.org (Creative commons license spectrum.)

Tenyata, kita bisa menggunakan media yang ada di internet untuk kepentingan pribadi, namun kita juga harus mempelajari lisensi yang diberikan oleh pembuatnya. Lisensi adalah izin untuk menggunakan, menyalin, atau mengubah suatu karya cipta yang diberikan pembuat karya kepada para pemakai karya mereka.

Ada beberapa jenis lisensi atau perizinan yang diberikan, ada yang hanya untuk penggunaan pribadi, ada yang tidak boleh dimodifikasi, ada yang hanya boleh dibagikan dengan mencantumkan pembuat karya, ada juga yang membebaskan izinnya bahkan boleh dikomersialisasikan.

Berikut ini adalah jenis-jenis lisensi oleh pembuat karya di internet (Creative Common). Jika mungkin juga bisa mengecek disclaimer, atau kebijakan untuk penggunaan karya-karya ini ya.

Ada banyak artikel yang menjelaskan tentang Creative Common atau arti dari kode-kode lisensi ini, silakan dibrowsing ya 🙂 .

Adab atau etika menuntut ilmu adalah dengan jujur dengan diri sendiri dan menghargai karya orang lain.

 

Menjadi bahan perenungan, bahwa kelak anak-anak juga harus memahami tentang peduli dan hak-hak orang lain. Bagus juga jadi materi pembelajaran ya, karena anak masih usia dini, bisa menggunakan perumpamaan lisensi peminjaman mainan atau barang lainnya.

Mengapa Ikutan KIMS (Komunitas Ibu Ibu Main STrEAM)?

Belajar mulai dari yang ada, tidak perlu mengada-ngada.

Belajar mulai dari yang ada, tidak perlu mengada-ngada.

Bulan lalu saya melihat teman SMA mengupdate di media sosialnya tentang aktivitas harian anaknya yang berbasis science sederhana di rumah. “Wah, menarik dan variatif sekali kegiatannya”, batinku saat itu. Kemudian, tak berapa lama, saat acara sesi sharing tiap malam minggu, temanku ini membagikan pengalamannya yang belakangan ia ikuti.

Ikutan komunitas ibu mainstream“, itu kalimat yang kudengar.

Hah? mainstream“, (mainstream: umum, overrated, gitu kah?”), unik banget namanya wkwkw.

Ternyata, saya salah. Main STrEAM, ini ternyata merupakan sebuah aktivitas pendidikan berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics).

TUJUAN BERGABUNG KIMS

Saat itu langsung penasaran dan tertarik sekali untuk ikutan. Alasannya:

  1. Saya sedang memulai perjalanan untuk mengaplikasikan pendidikan berbasis keluarga, atau biasa dikenal dengan homeschooling. Otomatis, di sini, peran orang tua harus betul-betul mandiri dan disiplin dalam merancang dan mempersiapkan aktivitas menyenangkan di rumah bersama anak-anak.
  2. Sebagai keluarga yang menjalankan homeschooling, kami sadar untuk mencari “teman seperjalanan” dalam mencapai tujuan pendidikan keluarga. Itu artinya, mengupgrade diri dan berkumpul dengan teman-teman yang “sefrekuensi” menjadi sebuah kebutuhan yang tidak bisa dielakkan. Menurut saya, KIMS adalah tempat yang cocok untuk itu.
  3. Saya merantau tinggal di Taipei saat ini dengan dua balita, (usia anak pertama, 4 tahun 4 bulan dan yang kedua, 2 tahun 5 bulan). Ditengah segudang pekerjaan domestik yang tidak bisa dengan mudah didelegasikan ke pihak lain, sering kali saya kehabisan waktu untuk sekadar eksplor/mencari ide kegiatan dan berakhir kebingungan (karena bingung harus mulai dari mana) untuk memilihkan jenis kegiatan untuk anak-anak.
  4. Setelah mendengar pemaparan pada saat orientasi, saya semakin yakin bergabung dengan KIMS dengan segala keunikannya. Terutama dengan filosofi huruf “r” kecil, yang menjadi simbol dari kata “Tradisional”. Saya sangat suka karena disamping pendekatan STEAM, komunitas ini juga mengusung kearifan lokal/nilai-nilai tradisional dalam proses belajar anak.

RENCANA MENJALANI ORIENTASI

Setelah melihat panjangnya durasi orientasi KIMS ini, saya sadar harus membuat perencanaan dan strategi supaya pendekatan STrEAM ini kemudian menjadi budaya dalam keluarga kami.

  1. Menuliskan tiap agenda, jadwal, dan tugas-tugas dalam jurnal harian dan calendar sebagai pengingat agar tidak lupa mengikuti kelas daring/zoom yang diadakan, berikut dengan tugas-tugas yang diberikan. Cara ini dilakukan juga sebagai latihan kedisiplinan dan komitmen kami dalam meraih tujuan pendidikan keluarga.
  2. Menyiapkan  slot waktu khusus untuk mengaplikasikan sesi main ala KIMS. Artinya, saya juga harus mulai menyusun prioritas harian saya dan menyortir kegiatan-kegiatan yang kurang produktif maupun kurang bermanfaat.
  3. Menyiapkan waktu khusus untuk membuka grup WhatsApp utama maupun grup WhatsApp kelompok KIMS, supaya tidak tertinggal dengan info-info penting terupdate.

Bismillah, semoga ikhtiar-iktiar ini mendapatkan keridhaan dari Allah.

Taipei, 28 September 2021

Printable Gratis: Rutinitas Pagi dan Sore Anak-Anak usia Dini

Rutinitas Pagi dan Sore Anak usia Dini (4 th dan 2 th)

Rutinitas Pagi dan Sore Anak usia Dini (4 th dan 2 th)

Setelah membaca ragam manfaat dan pentingnya membangun rutinitas atau routine, maka saya pun akhirnya mencoba membuatkan rangkaian rutinitas pagi untuk anak-anak (4th dan 2 th) dalam bentuk cetak supaya anak-anak bisa melihat sendiri dan mempelajarinya.

Juga sebetulnya, karena kami sudah merasakan manfaat besar dari kebiasaan-kebiasaan yang selama ini (agak) konsisten dilakukan. Misalnya saja, pergi ke toilet sesaat setelah bangun tidur dan sarapan pagi setelahnya. Hal ini ternyata membuat anak-anak secara otomatis meminta jatah makan pagi tanpa harus susah payah menyuruhnya.

Menjadi orang tua adalah tentang membangun kesadaran

Dengan kita menempel jadwal rutinitas pagi ini, secaratidak langsung pula membuat diri mampu memangkas aktivitas yang tidak penting dan tidak perlu pada pagi hari (misalnya: mengecek media sosial, menonton tiktok, dan lain-lain).

Ketika kita paham bahwa ada rutinitas anak-anak yang akan dijalankan, otomatis kita akan mampu mempersiapkan diri baik-baik sebelum terjun mengerjakan segala keperluan di hari tersebut.

Hal ini juga akan sangat membantu orang tua dalam memetakan kemana saja energi akan disalurkan. Karena akhirnya saya sadar bahwa tidak ada yang namanya manajemen waktu. Mau sebanyak apapun durasi jam yang diberikan kita dalam satu hari, toh kemungkinan besar kita akan mengeluh kurang.

Padahal, kita sendiri yang kurang bijak dalam memilih aktivitas.

Manfaat Rutinitas Pagi dan Sore

Berikut ini saya rangkumkan manfaat dan mengapa kita harus mulai membangun rutinitas harian kepada anak-anak:

  1. Membantu anak-anak untuk memiliki body clock atau jam kerja tubuh. Misalnya, mereka akan tahu kapan saatnya waktu untuk tidur dan makan. Setelah saya amati, sejak berusaha untuk konsisten, anak-anak kini mampu mengungkapkan “Umi, aku lapar“, “Umi, aku ngantuk..ayo tidur“, “Umi, aku bosan, mau main ke taman“.
  2. Membangun bonding atau kelekatan. Memiliki anak balita akan akrab dengan ketidakpastian. Namun, jika kita memiliki rutinitas harian, kita akan tahu dan sadar kapan-kapan saja waktu penting yang bisa dihabiskan bersama. Misalnya saja, jam-jam makan bersama.
  3. Berdamai dengan ekspektasi. Anak-anak jadi tahu kapan saatnya harus merapikan mainan dan bersiap untuk tidur malam tanpa protes atau drama berarti.
  4. Sarana untuk mendidik kemandirian dan kepercayaan diri. Misalnya saja, anak jadi tahu sesi-sesi mana saja yang aktivitasnya bisa ia lakukan sendiri. Misalnya saja, kemandirian di toilet, mulai dari masuk dengan berdoa, menyalakan lampu, menyiram air, dan mencuci tangan setelahnya.
  5. Membangun kebiasaan sehat dan baik. Makan, tidur, dan membereskan mainan merupakan kedisiplinan yang perlu dilatih hingga kelak menjadi kegiatan otomatis (habits). Jika anak-anak tahu kapan-kapan saja waktunya makan dan tidur, otomatis kegiatan lain pun menjadi tidak terganggu. Orang tua pun akan bisa meluangkan waktunya untuk hal lain.

Saya jadi teringat cerita beberapa teman yang seharian berkutat di dapur karena perkara makan yang tidak kunjung usai. Anak pertama minta makan, yang kedua belum mau makan. Juga, saat makan mereka minta disuapi sehingga harus mendampinginya nyaris pagi hingga petang.

Akhirnya saat malam pun, perasaan orang tua berantakan dan merasa kurang produktif. Hal ini jika dilakukan setiap hari, tentu akan membuat stres dan menaikkan level kecemasan. Karena saya pun tak jarang mengalaminya.

Untuk itu, berikut ini kami coba membuat rutinitas pagi dan sore untuk anak-anak usia dini (preschool), yang mungkin bisa bermanfaat untuk teman-teman. Dalam printable ini, saya mengambil dari berbagai sumber (ada yang berbayar, sehingga resolusinya akan pecah saat dicetak.

FREE Download Rutinitas Pagi Sore Anak Homeschooling Islami

FREE Download Rutinitas Pagi Sore Anak Homeschooling Islami

PDF Rutinitas Harian (Pagi & Sore)  Silakan Download di Sini 

Semoga bisa bermanfaat untuk teman-teman ya

Sumber gambar:
1. https://blog.google/technology/families/kids-space/
2. https://www.slideshare.net/EmilyStone47/chore-routine-chart
3. https://www.etsy.com/listing/785365944/morning-and-evening-routine-chart?ref=landingpage_similar_listing_top-6
4. https://en.al-dirassa.com/islam-quran-arabic-children/
5. https://www.shutterstock.com/image-vector/muslim-kid-praying-203133709
6. https://www.dreamstime.com/stock-illustration-kids-toy-box-full-toys-modern-flat-style-vector-illustration-cartoon-clipart-image82200341
7. https://www.123rf.com/clipart-vector/chicken_dinner.html
8. https://pngtree.com/freepng/multi-food-breakfast-clipart_5726131.html
9. https://www.seekpng.com/ipng/u2q8w7q8u2e6q8i1_at-getdrawings-com-free-for-personal-use-evening/
10. https://snipstock.com/image/the-sun-png-images-transparent-sun-pngs-sunny-sunshine-24-png-79655

 

 

Sharing Pengalaman Memilih Printer untuk Kegiatan Sekolah Rumah (Homeschooling)

Hasil Printer Warna HP Ink Tank 315

Hasil Printer Warna HP Ink Tank 315

Sejak anak menginjak usia 4 tahun, akhirnya memutuskan untuk membeli printer supaya mendukung kebutuhan bermain dan belajar anak-anak.

Sempat bingung juga dengan beberapa merek dan banyaknya tipe yang ada. Nah di artikel kali ini, saya akan memberikan pengalaman dan pertimbangan apa saja yang saya pikirkan ketika membeli sebuah printer untuk kegiatan sekolah di rumah.

1. Beli Bekas atau Baru?

Karena saat ini saya berdomisili di Taipei (Taiwan), maka hal ini menjadi pertimbangan pertama yang muncul. Karena belum tahu akan tinggal berapa lama lagi di Taiwan. Jika hanya sebentar, tentu nampaknya lebih efisien jika saya membeli yang bekas saja (karena tentu banyak pilihan dengan harga yang sangat terjangkau).

Namun, akhirnya saya membeli printer baru karena demi mengurangi resiko printer macet di kemudian hari, sedangkan saya tidak ingin energi habis untuk mencari tukang service di negeri yang saya belum kuasai bahasanya ini.

Dengan membeli baru, paling tidak saya akan mendapatkan jaminan garansi satu tahun, yang memberikan rasa aman jika terjadi kendala teknis diluar kesalahan eksternal.

2. Tipe Printer : Multifungsi “Print, Scan, Copy” atau Tunggal “Print Only”?

Ini adalah pertimbangan yang tidak kalah lama saya pikirkan. Masalah pertama adalah, saya ingin printer yang tidak menyita banyak ruang. Namun ternyata, ketika mendapatkan jenis printer yang saya taksir, ternyata ukuran antara kedua model hanya selisih 5 cm-an.

Itulah mengapa, akhirnya saya memilih sekalian saja yang multifungsi, karena toh ternyata harganya hanya beda sekitar 500 NT saja.

Jadi, dari awal yang saya berpikir tidak mengapa jika kebutuhan scan hanya menggunakan kamera foto, akhirnya mencoba berpikir ulang. “Ah, barangkali, kelak akan sangat berguna untuk menyimpan karya anak-anak dalam bentuk digital”.

3. Model Pengisian Tinta: Catridge Saja atau dengan Tangki Tinta Tambahan

Nah, ini juga merebut perhatian cukup lama. Bersyukur bisa menemukan video-video review dan unboxing printer, sehingga bisa mempelajari hal-hal apa saja yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Jadi, memang terkadang ada printer yang harganya murah. Namun, ketika dicari harga catridge-nya (kotak isi ulang tinta), ternyata harganya mahal sekali. Bahkan mungkin, harganya setengah dari harga printer.

Pilihan akhirnya jatuh pada model printer dengan tangki tinta di luar. Saya juga menelusuri, apakah tintanya bisa menggunakan merk lokal atau tidak (ternyata yang saya pilih ini bisa). Karena tentu, harganya akan jauh lebih murah.

4. Mengapa Tidak Memilih Jenis Printer dengan Fitur Wireless?

Saya lebih nyaman untuk menggunakan kabel karena saya lebih suka untuk mengecek ulang apa yang akan saya cetak menggunakan laptop terlebih dahulu.

Lagi pula, perbedaan harganya pun lumayan signifikan. Untuk jenis printer yang sama dengan fitur wireless saja, selisih harga mencapai kurang lebih 1.000 NT.

Juga, saat membaca beberapa komentar di kolom komentar beberapa video review, saya menemukan adanya beberapa orang yang mengalami kendala konektivitas untuk fitur wireless-nya. Dengan begitu, akhirnya mantap memilih printer tanpa fitur wireless.

Pilihan pun jatuh ke merk HP tipe Ink Tank 315

printer ink tank 315 HP

Sebetulnya saya belum betul-betul membuat perbandingan dengan merk lain (Epson, Canon, Brother, dll) dengan spesifikasi printer sejenis. Pilihan merk HP murni preferensi subjektif hanya karena ini adalah merk pertama yang saya pernah miliki saat di bangku sekolah menengah.

Dari pengalaman itulah, akhirnya saya cukup berani untuk kembali menggunakan merk HP. Karena dulu, sama sekali tidak ada kendala kecuali harga catridge original yang terbilang mahal.

Printer HP tipe Ink Tank 315 ini bisa dibilang cukup terjangkau, yaitu sekitar 2.990 NT (ongkos kirim  dan kertas A4 70 gsm gratis). Saya membelinya melalui e-commerce di Taiwan di sini. Beberapa catatan dan spesifikasi tentang printer ini:

  1. Kapasitas tinta yang cukup banyak (ink tank system), tinta hitam 80 ml dan tinta warna masing-masing 70 ml.
  2. Mengklaim mampu mencetak hingga 6000 halaman hitam putih dan 8000 halaman warna.
  3. Pengisian tinta yang sangat mudah dan tidak perlu takut tumpah. (botol anti tumpah dengan karet pada bukaannya).
  4. Konektivitas menggunakan kabel tipe USB.
  5. Variasi kertas mampu mencetak di: Plain Paper, HP Photo Papers, HP Matte Brochure atau Professional Paper, HP Matte Presentation Paper, HP Glossy Brochure or Professional Paper, Photo Inkjet Papers, Matte Inkjet Papers, Glossy Inkjet Papers.
  6. Ukuran kertas: A4, B5, A6, DL envelope.
  7. Resolusi cetak: Hitam sampai dengan 1200 x 1200 dpi, Warna sampai dengan 4800 x 1200 dpi.
  8. Bisa mencetak secara utuh (tanpa menyisakan margin) atau borderless.

Nah dengan fitur-fitur ini, saya rasa akan sangat cukup untuk kebutuhan mencetak bahan-bahan untuk belajar di rumah.

Demikian informasi tentang printer yang saya gunakan untuk kegiatan Sekolah Rumah kami. Artikel ini murni pengalaman pribadi dan bukan endors/sponsor. Saya membuat ini supaya memberikan sedikit gambaran kepada para orang tua atau tenaga pendidik, tentang beberapa pertimbangan yang mungkin bisa memberikan wawasan sebelum memutuskan untuk membeli printer.

Semoga bermanfaat.

Review Buku Membasuh Luka Pengasuhan | Ngajak Diri Buat Jadi Orang Tua Saleh

membasuh luka pengasuhan

Membasuh Luka Pengasuhan adalah sebuah karya yang ditulis oleh pasangan suami istri, yaitu: Ulum A. Said dan Febrianti Almeera.  Buku ini dibuat atas dasar kepedulian. Karena topik tentang “Luka batin akibat kekeliruan pengasuhan (yang kebanyakan tidak disengaja)” ini dirasakan oleh begitu banyak orang.

“Luka pengasuhan adalah luka di sisi rasa (bisa juga akibat luka fisik yang berdampak pada rasa) yang diterima anak dari orangtuanya.”

***

Kalau nggak salah, inti bahasan yang bikin tertarik adalah pendapat bahwa:

“Kekeliruan pola asuh kebanyakan memang bukan disengaja, tapi diwariskan”

“Luka pengasuhan adalah ‘utang’ yang perlu dibayar meskipun dengan cara berangsur”

Nah, tinggal berarti kan untuk mutus rantai itu kita perlu sadar dan mau belajar supaya nanti nggak turun ke anak cucu.

***

Buku ini menjelaskan mengapa kita harus membasuh luka pengasuhan dengan rinci melalui dua sudut pandang, yaitu: Emosi dan Alquran.

Buku ini dibuka dengan penjelasan tentang mengapa yang namanya luka pengasuhan itu harus “ditangani”. Jadi nggak bisa tuh istilah, “yaudahlah ya, itu dulu, udah lewat”, lalu (pura-pura) melupakan dan enggan membahas karena merasa sudah selesai dan akan sembuh dengan sendirinya.

Ternyata, yang namanya luka pengasuhan itu sejenis luka batin. Kalau dalam bahasa psikologi, masuknya “mental illness”. Dampaknya luas banget kalau tidak ditangani. Di bagian ini, saya tertarik dengan pembahasan mengenai “Respon Error”.

Respon Error

Kalau dari segi emosi, itu ternyata karena si luka pengasuhan yang pernah kita alami entah saat kita kecil atau sudah dewasa dari orang tua kita itu nantinya bisa membuat seseorang mengalami respon error.

“Respon Error adalah respon yang tidak sebanding dengan stimulusnya.”

Kalau di buku diceritakan pengalaman waktu penulis mengalami kejadian ketika sang istri tiba-tiba berteriak, menangis, memukul, dan bahkan melempar-lempar barang lain saat melihat suami melemparkan handphone ke atas kasur. Padahal, ternyata respon sang istri itu, diakibatkan dari trauma yang ia pernah alami waktu kecil.

Contoh lain dari respon error adalah ketika ada suami yang selalu tercekat ketika sedang adu pendapat dengan istrinya. Padahal ia punya ilmu leadership dan paham bahwa ia adalah kepala keluarga. Tapi ketika sudah dalam situasi serius untuk mengeluarkan argumen, ia gagal. Simulusnya adalah adu pendapat.

“Luka yang diabaikan, berpotensi menjadi respon error”

Saya kira, di BAB 1, penulis berhasil memberikan penjabaran yang sangat lengkap tentang urgensi hal pembasuhan luka pengasuhan. Satu hal yang menarik adalah gaya penceritaan dalam bentuk dialog dan penggunaan kata-kata sederhana, namun membekas dalam hati.

Penjabaran Upaya Pembasuhan Luka Pengasuhan

Penulis mampu mengantarkan pembacanya pada solusi yang bisa ditempuh dari dua sudut pandang, emosi dan Alquran. Kalau dari sisi emosi, kita bisa menggunakan terapi DEPTH. Sedangkan dari sisi Quran, yaitu dengan Tazkiyatun Nafs.

Terapi DEPTH adalah metode “penyembuhan” dengan cara mengakses memori traumatis yang tersimpan di beberapa titik-titik tubuh. Memori yang dimaksud memiliki muatan emosi negatif seperti: sedih, marah, murka, muak, kesal, merasa bersalah, jijik, dan lain sebagainya.

Penulis buku sangat rinci membahas tentang BAGAIMANA cara membasuh luka pengasuhan dengan teori DEPTH. Meski dijelaskan juga, bahwa butuh upaya lain untuk betul-betul “bersih” dari hambatan dan sumbatan emosi negatif (trauma).

Minimal, kita jadi bisa menghancurkan bongkahan besar emosi negatif. Pas baca buku ini awal-awal, saya sangat emosional karena buku ini membawa diri para cuplikan peristiwa masa kecil.

Contoh Kisah Proses Penyembuhan Luka Pengasuhan

Kita para pembaca juga diberikan kesempatan untuk belajar memetik hikmah dari para pembasuh luka. Ya, pada BAB 3, kita akan mendapatkan tiga kisah nyata tentang bagaimana mereka melewati luka batin yang ditorehkan oleh orang tua mereka. Saya salut sekali, karena pasti tidak mudah untuk menceritakan ulang hal yang mungkin sebagian orang anggap tabu untuk dibahas.

Sudut Pandang Alquran (Tafsir)

Bagian dari buku ini yang paling menjadi favorit saya adalah tiap penulis mengurai makna berdasarkan Alquran. Contohnya adalah pada saat penjelasan mengenai makna “UFF” yang ada pada Surat Al-Isra ayat 23. Selama ini mungkin saya hanya berfokus bahwa yang namanya berkomunikasi ke orang tua itu cukup dengan tidak berkata kasar atau bilang “Ah!”. Tapi dalam buku ini saya mendapat keterangan lebih lanjut dan sudut pandang menarik tentang jangkauan makna “UFF/Ah”.

Contoh lainnnya adalah saat penulis menjelaskan makna “rasa” dan “emosi” di Alquran. Bahwa Alquran membahas soal perasaan sekaligus perilaku yang muncul akibat rasa tersebut. Misalnya:

  1. Perubahan degup jantung (QS. Al-Anfal [8]:2)
  2. Reaksi kulit (QS. Az-Zumar [39]:23)
  3. Reaksi pupil mata (QS. Ibrahim [14]:42)
  4. Reaksi pernafasan (QS. Al-Hijr [15]:97

Dan seterusnya.

Intinya, ketika menjelaskan ini kemudian penulis memberikan kesimpulan indah yaitu bahwa yang namanya perasaan disimpan dalam satu ruang bernama Qalbu. Berbeda dengan kebanyakan teori (emosi dan perasaan  disimpan dalam pikiran sadar atau bawah sadar).

Qalbu mampu menampung apa-apa yang disadari oleh pemiliknya. Sementara, untuk menampung apa-apa yang tidak disadari oleh manusia, wadah di dalam dirinya  itu disebut dengan Nafs. Nafs sendiri adalah hasil bertemunya unsur jasad dengan ruh (fisik dan spirit).

Lalu apa hubungannya dengan luka pengasuhan?

Begini, dari penjabaran tersebut, bahwa manusia itu punya dua unsur. Sedang dalam Quran dijelaskan bahwa dalam hidup ini, ada dua jalan: Fujuur dan Taqwa. Jalan Fujuur (keburukan) itu amat disukai oleh jasad kita (berkaitan dengan kenikmatan dunia), sedangkan Taqwa (kesalehan) itu disukai oleh Ruh kita.

Keduanya saling tarik menarik. Dalam konteks luka pengasuhan, tak heran jika akan sangat mudah bagi anak untuk menyalahkan orang tuanya atas luka yang terimanya di masa pengasuhan. Sebagian malah ada yang “menikmati” alias tidak melakukan apa-apa ketika menjadi korban luka asuh orang tuanya.

Makanya, namanya memaafkan orang tua atau proses membasuh luka ini sangat sulit dilakukan. Karena ini memang jalan taqwa. Tapi jangan khawatir, dalam Alquran pun dijelaskan bahwa yang namanya Nafs ini punya kekuatan internalnya sendiri. Buku ini memberikan solusi, bahwa untuk “mengobati” diri adalah dengan Tazkiyatun Nafs.

Secara keseluruhan, saya sangat menikmati penjabaran makna luka pengasuhan (batin) yang disajikan dengan sistematis, mulai dari “why, what, dan how-nya”. Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh teman-teman yang mungkin saat ini sedang mempersiapkan pernikahan, melahirkan, atau bagi siapa saja yang ingin berusaha terlepas dari bayang-bayang luka masa pengasuhan serta tidak ingin mewariskannya ke generasi berikutnya.

Rating buku : 9/10

 

Ngapain Sih Emak-Emak Baca Buku Filosofi Teras? [Sebuah Review]

review_filosofi_teras_henry_manampiring

Filosofi Teras bagi saya merupakan buku self-improvement berbasis filsafat stoikisme. Bisa dibilang, buku ini banyak memberikan inspirasi dan ilmu yang berguna banget buat keseharian saya sebagai emak-emak. Alasan paling utama ya seperti yang dijelaskan di BAB 9 dalam buku ini:

“Parenting adalah memilih untuk berdamai dengan hal-hal yang tidak bisa kita kontrol”.

Saya langsung membayangkan peristiwa ketika anak sakit, anak menumpahkan tepung roti, memecahkan gelas kaca, terjatuh, ketika mereka tidak mau makan, dan banyak hal lainnya.

Saya mengapresiasi sekali kehadiran buku ini. Bagi orang yang hampir tidak pernah membaca buku filsafat, saya jadi ingin menyelami “kitab-kitab” stoic lainnya, terutama karya Marcus Aurelius yang berjudul “Meditations“.

Kenapa buku ini ditulis?

Buku ini dibuka dengan data survei nasional yang berkaitan dengan anxiety alias kecemasan. Penulis melakukan wawancara dengan seorang pskiater bernama  dr. Andri, Sp.KJ, FAPM. Intinya sih ya memang yang namanya penyakit itu bisa disebabkan atau diperparah dengan kondisi psikis kita.

Kenapa ngomongin kecemasan? coba telisik deh penyebab kecemasan? ternyata ya emang karena cara pandang kita yang keliru ketika lagi menghadapi masalah.

“Bukan stres yang membunuh kita, tapi reaksi kita terhadapnya”, kutipan dari Hans Seyle (Hal. 9)

Buku ini juga ditulis tanpa menggurui, jelas dong, wong ini buku sebetulnya isinya sharing alias berbagi pengalaman sang penulis. Mengapa? karena penulis sendiri bilang bahwa stoisisme ini lah yang menjadi solusi alternatif dalam mendapatkan ketenangan yang lebih baik pasca-terapi obat. Ya, penulis pernah mendapat diagnosa “Major Depressive Disorder“.

Buku Filosofi teras ditulis dengan gaya bahasa sederhana dan mudah dicerna. Kalau saya bilang, buku ini cocok banget kalau dijadiin hadiah mulai dari adik-adik kita yang berusia remaja. Salah satu yang membuat buku ini unik dan tidak kelihatan “berat” (karena bahas filsafat) adalah dengan adanya ilustrasi komik dan halaman quotes. Lumayan nih buat yang gaya belajarnya visual, jadi nggak terlalu cepat bosan.

Hidup Sesuai dengan Fitrah

review_filosofi_teras_henry_manampiring_stoic

Saya selalu bersemangat ketika ada pembahasan bahwa dalam hidup ini sebetulnya tuh kita tinggal ikutin aja “irama” nya yang Allah udah kasih. Kenalin diri, gali potensi, lalu berkarya sesuai dengan fitrahnya melalui misi hidup. Kalau di buku ini, Bab-nya dinamain “Hidup selaras dengan Alam”.

Bahwa kita nih manusia punya fitur unik berupa akal dan rasio. Lalu secara alamiah (qadarullah), manusia adalah mahluk sosial. Otomatis (seharusnya) bisa hidup damai dan sejahtera bersama-sama. Orang nyebelin mungkin akan tetap ada, tapi kenegatifan dia harusnya nggak akan membuat diri kita jadi nyebelin, kan? Kalau kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib:

“Yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan”. – Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Trus dalam kehidupan ini, ada istilah Butterfly Effect, kita manusia dan alam punya keterkaitan. Kalau di hadist ada ungkapan bahwa sesama muslim itu ibarat badan. Sistem. Masing-masing udah ada peruntukan perannya. Jadi kalau ada satu partikel yang nggak sesuai dengan ketetapan alam, ya pastinya ngefek ke semuanya, ke semesta.

Pas di bagian ini, saya bener-bener geleng-geleng kepala takjub mengingat materi rukun iman ke-6, yep. Iman kepada Qada dan Qadar.

Dikotomi Kendali

Premis buku ini menurut saya bisa diwakilkan dengan dua kata ini. Ya, dikotomi kendali.

“Some things are up to us, some things are not up to us” – Epictetus

Ada hal yang bisa kita kontrol, ada juga hal yang nggak bisa kita kontrol. Kelahiran kita di dunia aja bukan maunya kita, kan?. Jadi dengan pemahaman ini, akhirnya saya bisa lebih tenang dalam membuat perencanaan dan membuat keputusan. Fokus saja kepada hal yang bisa kita kendalikan.

Pemahaman ini tuh seperti memberikan validasi atas iman kepada Qada dan Qadar. Allah sudah memberikan ketetapan dan kadar tertentu pada segala sesuatu. Kita hanya harus tawakal dari awal, saat mengerjakan, dan setelah mengerjakan. Allah membuat keputusan, tapi manusia diberikan ranah tersendiri untuk berikhtiar “mengendalikan sesuatu”.

Kita nggak bisa kendaliin hal-hal yang ada di luar diri kita. Kabar baiknya, kita masih punya kekuasaan penuh atas apa yang kita pikirkan, apa yang kita pakai, apa yang kita makan, apa yang kita kerjakan.

Dikotomi kendali ini nggak ngajarin pasrah (diem-diem bae nggak usaha), ya. Justru penegasannya adalah mengoptimalisasi ranah ikhtiar diri.

Pengingat untuk Mengenal Diri

review_filosofi_teras_henry_manampiring_stoisisme

Seberapa sering kita langsung reaktif ketika ada hal yang tidak sesuai ekspektasi atau hal yang membuat diri ini marah, kecewa, cemburu, iri, dan emosi negatif lainnya? Nah, dalam buku ini ada bab tentang “Melawan Interpretasi Otomatis”. Misalnya, waktu macet parah dan kita ada meeting penting banget. Mungkin seringnya kita bakalan nggrundel dalam hati, marah-marah, atau nyalahin kondisi dan ngerasa kalau udah buang-buang waktu di jalan.

Filosofi Teras mengajarkan untuk tidak buru-buru terhanyut dalam respon otomatis berupa emosi negatif, tapi kita diajak untuk memeriksa kembali apa fakta yang terjadi. Macet. That’s it.  Bukan hal yang baru dan khusus dirancang untuk kita seorang.

Apa dengan frustasi dan marah-marah akan membuat jalanan lancar kembali? tentu saja tidak. Ingat, kita tidak bisa mengendalikan macet, yang kita bisa kendalikan adalah interpretasi atau cara pandang kita ketika terjebak macet. Misalnya saja, “wah lumayan nih bisa baca buku”, “wah lumayan bisa nyicil tulisan”, “wah lumayan bisa dengerin podcast”.

Ngajakin Hidup Berkesadaran

Ada kalimat begini:

“Orang yang gampang cemas adalah orang yang punya kecenderungan bahwa ia tidak bisa mengontrol sesuatu”. (Hal 115)

Iya juga sih ya. Mungkin kebanyakan dari kita ketika menjalani setiap detik kehidupan tuh cemas akan masa yang akan datang dan atau justru tenggelam dalam penyesalan atas apa yang sudah terjadi. Kalau kata Seneca,

“We suffer more in imagination than in reality” (Letters)

Kita sering nyiksa diri dengan karangan pikiran kita sendiri. Padahal ada studi tentang Anxiety yang bilang bahwa 85% kekhawatiran kita itu sebenernya nggak pernah terjadi. Penelitian ini menyuruh responden buat nulisin kecemasan mereka dan di akhir periode, mereka diminta buat ceklis mana-mana aja yang kejadian.

Seneca bilang:

“Kita memiliki kebiasaan membesar-besarkan kesedihan. Kita tercabik di antara hal-hal masa kini dan hal-hal baru yang akan terjadi. Pikirkan apakah sudah ada bukti yang pasti mengenai kesusahan masa depan. Karena sering kali kita lebih disusahkan kekhawatiran kita sendiri.”

Pandangan ini bener-bener ngingetin lagi buat hidup mindful. Membersamai diri sendiri, secara utuh, hadir jiwa, raga, dan rasa dalam setiap tindakan dan pergerakan.

Cosmic Point of View alias Efek Melihat dari Jauh

Saya jadi inget nasehat salah satu guru silat dulu, namanya (Alm) Mas Nungki. Waktu itu saya sedang menghadapi masalah yang berat.

“Coba deh, sekarang bayangin Ulfah terbang nih ya ke angkasa, trus lihat bumi sampai kelihatan kecil banget”.

Nasehat yang nggak pernah saya lupa dan pas baca ni buku sampai ke halaman 106, ternyata itu merupakan bagian dari ajaran filosofi teras. Teknik ini pertama kali diperkenalkan oleh Marcus Aurelius. Intinya sih coba deh bayangin aja, apa masalah kita ini lebih besar dibanding bumi itu sendiri dan segala dinamikanya? Kalau kata nasehat-nasehat di postingan akun dakwah. “Aku punya masalah besar, tapi kan Aku punya Allah yang Maha Besar”.

Sampe-sampe, mantan astronot bernama Becky Ferreira bilang, “Saya sungguh percaya jika saja para pemimpin bangsa-bangsa bisa melihat plane mereka dari jarak 100.000 mil, maka perspektif mereka akan berubah drastis”.

Nah kalau udah gini, kita (harusnya) bisa lebih santuy misal ngadepin anak nggak mau udahan mandinya, suami lembur mulu (jadi nggak bisa tag team), cucian lupa dijemur semaleman, baju kelunturan dan masalah domestik rumah tangga lainnya.

Bikin Inget Mati

Saya demen banget ini, di Bab 11 ada pembahasan tentang kematian. Saya jadi inget kajiannya Ust. Oemar Mitta pernah bilang kalau mengingat mati adalah bagian dari ibadah. Nginget mati bener-bener bisa jadi tools buat evaluasi segala ambisi yang kita punya.

Kita sering denger orang bilang, “Ih nggak berasa ya, cepet banget”, “kayaknya waktu 24 jam kurang buat gue”, “gue rasanya pengen membelah diri”.

Seneca pernah bilang:

“Life is long if you know how to use it…we are not given a short life but we make it short..and wasteful of it.” (On Shortness Life”

Seneca juga bilang kalau yang jadi persoalan itu bukan masalah lama sebentarnya waktu hidup kita, tapi gimana kualitas hidup kita sendiri.

Mindset ini ngebantu banget buat ngurangin kekhawatiran yang sering menyerang kita. Ngebantu juga buat milih-milah prioritas dalam hidup. Ngevaluasi mimpi yang kita kejar, apakah yang kita kejar itu sebetulnya cuma angka-angka semata alias harta? tahta? popularitas? ingin dikenang? padahal ujung-ujungnya toh kita akan mati dan terlupakan.

Make sense banget ini. Sebut nama orang yang paling kalian anggap terkenal. Sesungguhnya pasti ada aja orang yang nggak kenal dia. Marcus Aurelius bilang:

Orang-orang yang sangat menginginkan dikenang sesudah mati lupa bahwa mereka yang akan mengenangnya pun akan mati juga. Dan begitu juga orang-orang sesudahnya lagi. Sampai kenangan tentang kita, diteruskan dari satu orang ke yang lain bagaikan nyala lilin, akhirnya meredup dan padam. – Marcus Aurelius (Meditations)

Overall, buku ini layak banget baca sih. Kalau ditanya rate-nya berapa, saya bakalan kasih 8.5/10 karena kontennya segar dan resonated banget sama kehidupan sehari-hari. Plus, bisa langsung dipraktekkan pula ilmu-ilmunya.

Sekian dulu review saya. Kalau favorit teman-teman yang mana?b

Decluttering – Langkah Awal Kehidupan yang Lebih “Waras”

hidup-minimalis-declutter-bebenah-rumah

Decluttering adalah sebuah proses dimana kita bebenah dan mengeluarkan barang-barang yang sudah tidak dipakai (atau tidak pernah dipakai) dari rumah.

Setahun belakangan ini, saya banyak membaca dan mempelajari lebih lanjut tentang gaya hidup minimalis. Semua berawal dari perasaan hidup yang terasa “hampa” terutama sejak hamil anak ke-2. Sejak bangun sampai tidur sampai tidur lagi, mata sakit melihat aneka tumpukan barang yang tidak pada tempatnya (dan karena tidak punya tempat). Apalagi saat itu saya tinggal di apartemen mini tanpa kamar (petakan).

Saat menyewanya apartemen itu, kami sudah mendapatkan beraneka furnitur yang beberapa barangnya sebetulnya jarang kami pakai. Otomatis banyak ruang yang terpakai untuk menyimpan barang itu.

Terlebih, dengan kebiasaan  lungsur-melungsur barang adalah hal yang kerap terjadi (apalagi jika kau punya anak).

Rumah jadi penuh sesak dengan pakaian, mainan, barang elektronik yang sebetulnya kalau diteliti, lebih banyak yang tidak dipakai. Belakangan saya paham bahwa barang-barang itu bertengger di rumah karena satu alasan:”Just in Case“, alias “Kali aja ntar kepake”.

Kegiatan sehari-hari pun lebih banyak merapikan dan membersihkan rumah. Bayangkan saja, ini belum termasuk mengajak anak main dan memasak. Luar biasa menguras fisik dan mental (sedangkan mengurus diri sendiri pun tidak sempat). Beberapa tekanan yang paling membuat leher merasa tercekik antara lain:

  1. Merasa diri tidak becus menjadi istri dan ibu. Rumah nggak keurus gitu, berantakan! harusnya kan bisa lebih rajin lagi beresin rumah.
  2. Waktu buat upgrade diri yang nyaris tidak ada. Misalnya: baca buku kek, eksperimen apa kek, ngaji kek, and so on.
  3. Dikit-dikit ngegas, tiap ada “ulah” suami dan anak yang membuat situasi penampakan rumah semakin kacau.
  4. Mau pergi keluar rumah, tidak siap jika nanti pulang dalam kondisi capek, melihat rumah masih berantakan dan harus pula menyiapkan makan malam. Ini berlangsung beberapa bulan, membuat diri cuma pergi keluar rumah hanya untuk belanja ke pasar saja. Sisanya? tentu saja “nguli”. (FYI, pernah loh saya pulang dari main ke rumah teman, lalu menangis karena stress melihat rumah berantakan dan belum sempat masak makan malam).

Situasi-situasi di atas adalah alasan utama mengapa saya akhirnya mau berubah. Mau hidupnya nggak cuma jadi Upik Abu. Jangan salah paham dulu, bukannya saya tidak bersyukur atau tidak sadar betapa banyak kebaikan yang Allah kasih sebagai ganjarannya. Tapiii, saya ingin mengeksplorasi diri, saya ingin “project” yang lebih besar lagi.

Saya ingin hidup lebih santuy, alias lebih tenang hatinya. Tidak tergesa, berkesadaran, dan penuh cinta.

Saya ingin punya waktu untuk menjawab pertanyaan, “Siapa saya?”, “Mengapa saya diciptakan di dunia”, “Apa peran saya?”, “Apa misi hidup saya?”.

Selama ini, pertanyaan itu terkubur gara-gara RUTINITAS BEBERES yang tiada akhir. Sudah tak terhitung lagi berapa kali saya harus menunda diri untuk merancang pemetaan kehidupan hanya gara-gara teringat cucian piring menumpuk, cucian baju belum dilipat, dan mainan anak berceceran.

Tidak ada tersisa waktu untuk menggali dan berpikir. Sholat pun tiada nikmat karena hati terasa sesak seperti dikejar-kejar pekerjaan. Bangun tidur badan pegal, mau tidur mental babak belur karena terus dihantam “yang itu masih kotor”, “yang ini belum kepegang”, “nggak becus jadi orang”.

Oke, intinya sebelum bertanya “bagaimana cara decluttering ?”, sebaiknya kita siapkan diri untuk menjawab “mengapa ingin decluttering”. Karena kalau hanya sampai bab tips-trik-cara-cara nge-hack rumah supaya kelihatan rapi, sebetulnya kita hanya perlu membeli kontainer-kontainer besar atau menyiapkan gudang untuk kita sembunyikan barang-barang di sana.

Tapi kemudian mungkin tanpa sadar kita menjadi “Penimbun yang Ulung” karena telah berhasil menata beraneka barang tanpa terlihat berantakan. (iya sih, semua barang punya tempatnya masing-masing, tapi apa emang semua barang itu dibutuhin?).

Sekalinya ada yang dibuang, didonasikan, atau diberikan kepada orang lain, tanpa menunggu waktu lama, kau akan kembali mengisi ruang-ruang dalam rumahmu dengan barang-barang baru. Entah karena tergiur diskon, promo, black friday, atau yang lainnya. (Baca : impulsive buying).

Saya bicara pada diri saya sendiri waktu itu, “Sudahlah, mau sampai kapan kamu memberikan nilai/makna/arti pada benda? pada materi?”. Dirimu bukanlah apa yang melekat pada badanmu atau apa benda yang kamu miliki. Dirimu adalah apa yang kau berikan pada sekitar. Tentang kebermanfaatan.

Jadi bagi saya, memulai hidup lebih bermakna versi saya adalah dengan memulai latihan memilah “Mana yang “ingin” (obsesi) dan mana yang penting?”, lewat packing party barang-barang di rumah. Barang kali memang harus begitu. Sebelum belajar memilah prioritas, kita bisa mengasah kemampuan diri untuk bisa selektif, dengan decluttering barang di rumah.

Decluttering adalah langkah awal yang saya syukuri telah saya ambil, karena dengan begitu, saya bisa mengisi waktu-waktu saya (yang dulu buat bebenah), menjadi olahraga, menyiapkan permainan untuk anak-anak, mencoba hal-hal baru seperti vlogging, composting, dan mengunjungi tempat-tempat baru di Taiwan.

Sampai saat ini saya belum sampai pada goals yang saya inginkan (berkaitan dengan keberadaan barang di rumah), tapi setidaknya saya membuat progres yang jauh lebih baik sampai detik ini. Alhamdulillah.

Saya sadar bahwa decluttering itu bukan pencapaian. Tapi sebuah proses yang dilakukan sepanjang perjalanan kehidupan.

Decluttering mengajarkan diri ketika akan menambahkan barang ke dalam rumah. Jadi terbiasa menanyakan kepada diri sendiri, “apakah ini bisa mendukung hidup saya lebih bermakna? atau hanya jadi calon sampah saja?”.

Saya jadi terlatih untuk tidak memberikan sentimen lebih kepada barang. Nampaknya, tidak ada lagi istilah “Wah, sayang banget, ini kan baju waktu suami ngelamar saya”, atau “ini kan mainan pertamanya anak saya”. Saya jadi belajar bahwa memori itu tersimpan dalam ingatan, bukan di dalam barang. Akhirnya kaidah ini juga lah yang memudahkan saya untuk menghapus banyak sekali foto-foto di gallery hape.

Barangkali otak kita juga seumpama hape ya, kalau udah kepenuhan bisa lemot, nge-hang.

Tidak menyangka. Padahal ketika memulai ini semua, saya hanya tertarik pada bagaimana cara merapikan rumah secara efektif. Tapi ternyata, pertanyaan itu membawa diri saya jauh kepada, “Memangnya apa yang akan kamu lakukan, ketika rumahmu sudah rapi dan kinclong?”, “What’s next?“.

Dan pertanyaan ini lah, yang membuat saya kini merasa, hidup saya lebih bermakna (dari sebelumnya). Mungkin segitu dulu ya bahas decluttering-nya, sambung lain waktu.

Sebagai penutup, kalau katanya The Minimalists

Love people, and use things. Because the opposite, never works

Taipei, 22 Maret 2020

 

 

 

 

Macam-Macam Label Vegetarian Sebagai Alternatif Makanan Muslim di Taiwan

Logo halal tidak selalu sama karena negara yang menerbitkannya berbeda-beda

Logo halal tidak selalu sama karena negara yang menerbitkannya berbeda-beda

Taiwan ternyata merupakan negara yang memiliki aturan pelabelan makanan vegetarian terbaik sedunia. Bahkan dulu saya pernah nonton di salah satu videonya Naz Daily yang menyebutkan bahwa Taiwan adalah negara dengan restoran untuk vegetarian terbanyak di dunia.

Sebagai Muslim, memakan makanan halal adalah satu bentuk ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, saat kita tinggal di Taiwan (yang notabene tidak semua produknya memiliki label halal seperti di Indonesia), haruslah lebih cermat dalam memilih jenis makanan yang dikonsumsi.

Terkadang logo halal tertutup oleh plastik

Terkadang logo halal tertutup oleh stiker tulisan mandarin

Beruntung punya banyak teman-teman dari Indonesia yang peduli dengan kehalalan makanan ini. Info berikut, saya himpun juga dari Organisasi Salimah di Taiwan dan Forum Mahasiswa Muslim Taiwan atau FORMMIT. Dulu awal saya datang ke Taiwan sih super bingung karena mata harus cermat nyari label halal ada di mana dan bentuknya pun beda-beda. Alhasil beberapa minggu pertama betul-betul hanya membeli produk dengan label halal.

SIMBOL ATAU KARAKTER VEGETARIAN

Kadang juga tertulis seperti ini

Kadang juga tertulis seperti ini : VEGAN

Singkat cerita, akhirnya saya diberi tahu bahwa kita bisa memilih makanan dengan label vegetarian seperti ini : 素. Tidak hanya itu, ada juga jenis-jenis karakter lainnya sebagai berikut ini.

1. Simbol Umum 素

素(dibaca Sù) yang artinya Vegetarian. 食 (dibaca Shí) artinya Makanan. Maka ketika ketemu karakter tulisan mandarin 素食, berarti Makanan Vegetarian. Lambang ini biasanya dipakai untuk simbol restoran vegetarian.

Contoh restoran vegetarian yang ada di Taiwan

Contoh restoran vegetarian yang ada di Taiwan

2. Pakai Variasi keterangan 可, 吃, 用

Contoh foto kemasan lama (sekarang sudah tidak dipakai). Sumber Foto : http://vegantaiwan.blogspot.com/

Contoh foto kemasan lama (sekarang sudah tidak dipakai). Sumber Foto : http://vegantaiwan.blogspot.com/

Kadang tampilannya juga seperti ini, fokusdi karakter paling belakang aja hehe

Kadang tampilannya juga seperti ini, fokus di karakter paling belakang aja hehe

可, 吃, 用 (Ketiga karakter ini bisa diabaikan sebetulnya)
可= kě = bisa/dapat
吃= chī = makan
用= yòng = pakai
食者可吃 = Bisa dimakan vegetarian
食者可用 = Bisa digunakan vegetarian

Kemasan terbaru

Kemasan terbaru

3. 奶素 (Lacto-Vegetarian)

Kesukaan Dhuha, Tinggal Kukus

Kesukaan Dhuha, Tinggal Kukus

奶 nǎi = susu/lacto
Lacto-Vegetarian bisa diartikan sebagai orang yang tidak mengonsumsi produk daging dan telur, kecuali susu. Jadi mereka masih mengonsumsi produk susu seperti keju, susu, maupun yogurt.

4. 蛋素 (Ovo-Vegetarian)

Hampir semua produk dairy ada keterangan seperti ini

Logo kadang ada di belakang, kadang ada di depan

蛋 dàn = telur
Ovo-Vegetarian adalah vegetarian yang tidak mengonsumsi ikan, unggas, daging dan susu, tapi masih mengonsumsi telur. Simbol ini jarang digunakan untuk label makanan.

5. 奶蛋素 (Lacto-Ovo-Vegetarian)

Kalau beli roti juga suka ada simbolnya

Kalau beli roti juga suka ada simbolnya

Sesuai keterangan sebelumnya, artinya vegetarian ini masih mengonsumsi telur, susu, dan produk turunannya. Simbol ini banyak ditemukan di aneka roti dan makanan ringan.

6. 全素 (Vegetarian Sepenuhnya)

Kentang Goreng Frozen

Kentang Goreng Frozen

全 quān = sepenuhnya
Vegan sepenuhnya dan juga tidak mengandung bawang merah/putih, daun bawang,  maupun bumbu yang berbau menyengat. Karena dalam ajaran Buddha dan beberapa kepercayaan, mereka tidak diperbolehkan untuk mengonsumsinya.

Ada juga simbol 純素 yang artinya sama, yakni vegan murni (biasanya juga tidak mengandung bawang). Simbol ini juga sering digunakan.

7. 植物五辛素

Dan ping, makanan penyelamat, cuma ceplok telor aja udah Alhamdulillah banget dah rasanya

Dan ping, makanan penyelamat, cuma ceplok telor aja udah Alhamdulillah banget dah rasanya

Simbol ini memang agak membingungkan karena terdiri dari 5 karakter sekaligus. Karakter ini intinya punya arti bahwa makanan tersebut adalah vegetarian, tapi mengandung 5 bahan (bawang merah, bombay, bawang putih, daun bawang, dst) yang dilarang di beberapa ajaran tertentu seperti Buddha. Simbol ini juga berarti produknya masih ada kemungkinan mengandung produk telur dan atau susu.

Demikian kira-kira simbol yang kalian harus hafalkan atau simpan di handphone, supaya saat belanja bisa sambil dilihat-lihat. Sejak tahu simbol ini, saya sangat senang sekali karena ternyata banyak sekali pilihan makanan di Taiwan yang bisa kita makan tanpa takut mengandung bahan-bahan yang dilarang Allah.

Oh iya, berikut ini saya lampirkan juga link untuk melihat-lihat contoh produk yang bisa dikonsumsi. Katalog ini dirangkum dan disusun oleh FORMMIT dan Salimah Taiwan.

FORMMIT : https://drive.google.com/file/d/1oQ-9-QVkb8BxQ4XB8larKUSPwmCaZxzy/view

SALIMAH TAIWAN : https://www.facebook.com/persaudaraan.muslimah.taiwan/photos/?tab=album&album_id=1395304283880727

CEK KOMPOSISI PRODUK

ada juga trik sederhana untuk mengecek apakah suatu produk halal atau tidak, yakni dengan melihat komposisinya. Biasanya produk yang aman dimakan akan menggunakan minyak-minyak dari bahan nabati (tanaman). Hindari bahan dengan emulsifier, gelatin, fatty acid, lecithin, Lutein, Stearic acid(tanpa informasi tambahan), dan bahan pengental lainnya, karena kemungkinan berasal dari bahan babi.

Jika tulisan mandarin, biasanya saya akan menggunakan aplikasi Google Translate.

Translate komposisi menggunakan Google Translate Images

Translate komposisi menggunakan Google Translate Images

 

ISTILAH BAHAN YANG BERASAL DARI BABI

Babi adalah nama hewan yang dilarang untuk dikonsumsi. Bukan hanya dagingnya, tapi semua bagian dan jenis turunannya. Kadang, sebuah produk tidak menggunakan daging babi sebagai bahannya. Akan tetapi, bisa saja ia menggunakan minyaknya yang ditulis dalam istilah khusus. Oleh karena itu, berikut ini saya berikan informasi lengkapnya tentang nama lain bahan dari babi.

  1. Lard : Lemak Babi (kadang ditulis fat)
  2. Porcine : Kandungan babi (bisa lemak, daging, tulang)
  3. Hog : Istilah babi yang melebihi berat 50 kg
  4. Pork : Daging babi
  5. Swine : Spesies babi
  6. Boar : Babi hutan
  7. Bacon : Daging babi yang dibuat salai (irisan tipis seperti dendeng)
  8. Ham : Paha babi
  9. Sow milk : Susu babi
  10. Pig blood cake : Darah babi beku

Demikian informasi seputar simbol-simbol vegetarian yang harus kamu tahu supaya semakin leluasa kalau mau cari makanan yang muslim-friendly alias boleh dimakan oleh muslim. Semoga Allah meridhai ikhtiar kita ya.

Sumber ngambil dari Booklet Halal buatan FORMMIT

Sumber ngambil dari Booklet Halal buatan FORMMIT

Referensi : http://vegantaiwan.blogspot.com/2009/06/new-vegetarian-labelling-coming-in.html?m=1

Disclaimer : Saya bukan ahli bahasa mandarin. Semua tulisan berdasarkan informasi dari teman-teman di Taiwan, pengalaman pribadi, dan baca-baca blog lain.